TABANAN, Radar Bali.id - Nasib nahas dialami seorang warga negara asing asal Jerman, Mikel Lancezek, 59, pada Selasa (6/10/2026).
Pria kelahiran Marl, Jerman tersebut mendapat petaka, tewas tenggelam di Pantai Petangahan, Banjar Dinas Suraberata, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat, Tabanan setelah terseret ombak saat mandi.
Baca Juga: Tujuh Hari Pencarian Bocah Terseret Ombak di Pantai Gerokgak Dihentikan, Keluarga Kini Pasrah
Kasi Humas Polres Tabanan Iptu Ni Luh Wiwik Endrayani mengatakan terkait musibah tersebut bahwa korban terseret ombak laut sekitar pukul 11.15 Wita.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Pencarian Hari Ketiga Siswa SD Terseret Ombak di Gerokgak Masih Nihil
Kejadian bermula saat korban datang bersama tiga rekannya, Adam Peter Mazurek, Tim Lilienthal, dan Charlot Charaka Khain untuk mandi di Pantai Petangahan. Mereka tengah menginap di Villa Desa Cabins.
"Jarak antara lokasi kejadian di Pantai Petangahan dan vila tempat menginap korban sekitar 100 meter," kata Iptu Wiwik.
Saat korban mandi menikmati pemandangan pantai bersama Adam dan Tim, Charlot duduk di pinggir pantai. Adam melihat korban berjalan semakin ke tengah menuju bagian air yang lebih dalam. Adam sempat meminta korban untuk kembali ke pinggir. Namun seketika, korban tergulung ombak dan terseret arus laut. Korban sempat meminta bantuan dengan melambaikan tangan.
Rekannya berusaha memberikan pertolongan menggunakan sebatang bambu, namun gagal. Mereka kemudian bergegas kembali ke vila untuk meminta bantuan, namun saat kembali ke pantai, tubuh korban sudah tidak terlihat hingga akhirnya dilaporkan ke Polsek Selemadeg Barat.
Menerima laporan WNA hilang terseret arus, tim gabungan dari Polsek Selemadeg Barat, BPBD, dan Dalmas Tabanan segera melakukan pencarian dengan menyisir lokasi kejadian.
"Akhirnya korban berhasil ditemukan sekitar pukul 14.50 Wita dalam kondisi tewas," ucapnya.
Iptu Wiwik menambahkan, penyebab kematian korban murni karena terseret ombak saat mandi. Jenazah korban kini telah dievakuasi ke RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Sanglah, Denpasar.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali