TABANAN, Radar Bali.id – Kendati tidak ada hujan maupun banjir, sebuah bangunan rumah dan dapur di Perumahan Teras Dati, Banjar Dinas Jagastru, Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan mendadak ambruk pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut setelah pemilik bangunan berhasil menyelamatkan diri. Meski demikian, kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan I Putu Trisna Widiatmika mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 07.30 Wita.
Sebelum reruntuhan terjadi, pemilik rumah Nurul Laili, 52 dan pemilik dapur A.A Krisna Jaya, 39 sempat merasakan getaran hebat layaknya guncangan gempa bumi di area tempat tinggal mereka.
Sadar akan bahaya, kedua pemilik bangunan bergegas lari keluar rumah. Hanya dalam hitungan menit, struktur bangunan rumah dan dapur runtuh ke tanah.
"Bangunan rumah dan dapur tersebut ambruk secara tiba-tiba, tanpa disangka-sangka oleh pemiliknya," ujar Trisna saat dikonfirmasi, Selasa, 20 Oktober 2026.
Nahas, salah seorang anggota keluarga korban yakni Risnu Akbar Kurniawan, 29 mengalami luka-luka akibat tertimpa material reruntuhan saat berupaya menyelamatkan diri. Risnu yang tertimpa reruntuhan langsung dievakuasi oleh warga tetangga sekitar dan dilarikan ke RS Kasih Ibu Tabanan untuk mendapatkan perawatan medis.
Berdasarkan hasil pendataan dan pengecekan tim BPBD di lokasi kejadian, total kerugian bangunan rumah milik Nurul Laili ditaksir mencapai Rp 150 juta. Sementara bangunan dapur milik A.A Krisna Jaya mengalami kerugian sekitar Rp 50 juta.
Mengenai penyebab ambruknya bangunan di tengah musim kemarau ini, Trisna menjelaskan bahwa dari hasil asesmen, pengamatan lapangan, serta keterangan pemilik, insiden dipicu oleh pergeseran dan penurunan struktur tanah yang labil serta gembur. Apalagi, lokasi posisi dapur dan rumah berada tepat di pinggiran sungai Dati.
Berdasarkan keterangan pemilik, ancaman pergeseran tanah ini tercatat merupakan kejadian ketiga kalinya di lokasi tersebut. "Selain kondisi tanah yang gembur, pondasi dasar bangunan juga diketahui sudah terkikis secara perlahan oleh arus di pinggiran sungai," pungkasnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali