BULELENG-Sejumlah politisi memboyong keluarganya turun gelanggang pada Pemilu 2024. Ada yang menggandeng istri, ada juga yang merangkul anak-anaknya. Seperti yang dilakukan politisi senior Golkar, Gde Sumarjaya Linggih.
Nama Gde Sumarjaya Linggih, sudah akrab bagi masyarakat Bali. Dia dikenal sebagai politisi Golkar sekaligus politisi yang telah duduk di kursi DPR RI selama empat periode. Pada periode 2019-2024, dia duduk di Komisi VI DPR RI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM dan BUMN.
Pada Pemilu 2024 mendatang, pria yang akrab disapa Demer itu akan kembali berkompetisi memperebutkan kursi DPR RI. Tapi kali ini Demer tidak sendiri. Dia juga menggandeng anak sulungnya, Agung Bagus Pratiksa Linggih dan si bungsu, Agung Bagus Arsadhana Linggih.
Pratiksa Linggih akan berkompetisi memperebutkan kursi DPRD Bali dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bali 5 Kabupaten Buleleng. Saat ini ia mendapat nomor urut 4. Sementara Arsadhana Linggih memilih maju sebagai calon DPD RI dari Provinsi Bali. Arsadhana kini ada di nomor urut 1.
Meski menggandeng anak-anaknya turun ke gelanggang politik, Demer tak selalu mempromosikan kedua putranya. Seperti kemarin (2/10), ia hanya melakukan konsolidasi internal dengan tim pemenangannya di Posko Pemenangan Jalan Udayana, Singaraja. Kedua putranya tidak nampak di sana. Namun di lain waktu, ia akan berjalan berdua dengan si sulung, dan sewaktu-waktu bersama si bungsu.
“Mereka punya jalur sendiri. Kadang ada yang beririsan dengan saya. Saya di tempat lain main dengan Kresna Budi (Ketua DPD Golkar Buleleng/Caleg Golkar Dapil Buleleng). Kalau anak saya yang DPD, sah-sah saja dia mau tandem dengan siapa, karena dia non partai politik. Malah katanya sosialisasi dengan caleg dari partai lain. Ya silahkan saja,” kata pria asal Desa Tajun itu saat ditemui kemarin.
Ia mengaku tak pernah mengarahkan anak-anaknya terjun ke dunia politik. Dia meyakini anak-anaknya berpolitik karena dibentuk lingkungan. Tatkala Demer menjadi politisi di Senayan, Pratiksa Linggih baru berusia 10 tahun, sementara Arsadhana usianya baru tujuh tahun. Selama 19 tahun terakhir mereka tumbuh di lingkungan politik.
“Mungkin ada kegalauan mereka atau perjuangan yang belum maksimal, sehingga mereka memilih terjun ke politik. Mereka punya cara pandang sendiri. Tadinya saya sempat khawatir karena masih muda. Tapi saya yakin mereka lebih cerdas dari saya. Hanya memang masih perlu belajar soal emosi, bijaksana, sopan santun, kearifan,” imbuhnya.
Pada kontestasi politik tahun ini, Demer mengaku tidak menargetkan anak-anaknya harus menang dan berhasil merebut kursi. Bagi dirinya pemilu tahun ini merupakan momentum yang tepat bagi putra-putranya mempelajari lebih dalam soal kontestasi politik.
“Apapun hasilnya akan bermanfaat bagi dia. Karena akan mendewasakan dirinya. Dia akan lebih bijaksana dalam mengambil kebijakan dan keputusan. Tanpa mendapat jabatan pun dia sudah dapat manfaat yang lebih, apalagi kalau berhasil meraihnya,” demikian Demer. (*)
Editor : Donny Tabelak