NEGARA, Radar Bali.id - KPUD Jembrana menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara di TPS 6 Banjar Tengah, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Rabu (24/1). Simulasi ini yang kedua kalinya untuk pemantapan proses pungut hitung pada pemilu 14 Februari mendatang.
Namun ada yang berbeda dari simulasi kedua ini, surat suara calon presiden dan wakil presiden ada empat pasangan.
Saat simulasi pemungutan suara sebelumnya hanya ada dua pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam surat suara spesimen yang dicoblos.
Ketua KPUD Jembrana I Ketut Ady Sanjaya mengatakan bahwa memang ada perbedaan pada spesimen surat suara pasangan calon presiden dan wakil presiden pada saat simulasi pertama dengan dua pasangan calon presiden dan simulasi kedua ini empat calon pasangan presiden.
Mengenai perbedaan antara simulasi pertama dan kedua, kewenagan dari KPU Pusat. "Saya tidak tahu, hanya menjalankan surat dinas KPU Pusat sebagai upaya pemantapan," tegasnya.
Pelaksanaan simulasi kedua lainya ini, menindaklanjuti surat dari KPU RI. Semua templat surat suara yang digunakan simulasi acuan dari KPU RI, termasuk pencatatan dan inventaris masalah. Karena mungkin beda TPS, beda persoalan yang terjadi saat proses pemungutan suara.
Seperti simulasi kemarin banyak pemilih lansia, sehingga butuh pendamping yang banyak sedangkan surat pendamping sedikit. Minimnya surat pendamping yang ini harus akan ditindaklanjuti lagi.
Menurut isu yang beredar, simulasi pemungutan suara kedua ini karena pada saat proses simulasi pertama diprotes. Pada saat simulasi pemungutan suara pertama di seluruh Indonesia, hanya ada dua pasangan calon dalam contoh surat suara yang dicoblos, sehingga pasangan calon nomor urut tiga memprotes. Kemudian dilaksanakan lagi simulasi kedua ini.
Namun Ady mengaku tidak mengetahui alasan tersebut, karena hanya menjalankan surat baru KPU RI untuk pemantapan pemungutan suara dengan simulasi kedua. [*]
Editor : Hari Puspita