Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kuliti Logika Sesat Film Dirty Vote, Cagub Bali Agung Manik Danendra AMD: “Penelitiannya Dangkal dan Analisis Ilmiahnya Mentah”

Rosihan Anwar • Selasa, 13 Februari 2024 | 19:28 WIB
KRITISI: Tokoh Publik Bali dan Calon Gubernur (Cagub) Bali Favorit Agung Manik Danendra AMD mengkritik logika berpikir dan isi film Dirty Vote.
KRITISI: Tokoh Publik Bali dan Calon Gubernur (Cagub) Bali Favorit Agung Manik Danendra AMD mengkritik logika berpikir dan isi film Dirty Vote.

 

DENPASAR, radarbali.id - Masa tenang Pemilu 2024 diwarnai kehebohan munculnya film dokumenter Dirty Vote yang menarasikan adanya dugaan kecurangan Pemilu 2024 yang disebut-sebut melibatkan penggunaan infrastruktur kekuasaan.

Namun tidak sedikit kalangan dan tokoh meragukan analisis ilmiah dan objektivitas dari isi film tersebut.

Tokoh Publik Bali Agung Manik Danendra AMD yang digadang-gadang sebagai Calon Gubernur (Cagub) Bali favorit dan diharapkan maju pada Pilgub Bali 2024, bahkan membedah dan membongkar isi film dokumenter Dirty Vote.

Serta menguliti logika berpikir dan ketajaman analisis narasi dari film Dirty Vote yang menjadi viral menyedot perhatian publik di minggu tenang menjelang pelaksanaan Pemilu 14 Februari 2024.

“Film Dirty Vote ini memang seolah-olah bombastis dan wah. Tapi ya setelah saya tonton habis, biasa aja tuh bahkan cenderung membosankan. Analisisnya tidak sementereng judulnya.

Penelitiannya dangkal dan analisis ilmiahnya mentah. Logika berpikirnya bahkan cenderung menyesatkan.

Kalau saya kasi rating film ini di skala 10, ya 4 lah untuk kelemahan dari isi analisis ilmiahnya dan landasan logika berpikir yang digunakan yang tidak nyambung serta berpotensi menyesatkan penontonnya,” beber Agung Manik Danendra AMD saat dihubungi Selasa 13 Februari 2024 di kantor AMD Center, Renon, Denpasar.

“Ketiga tokoh tersebut dalam film Dirty Vote boleh saja berpendapat namun kalau dilihat dari kajian sudut keilmuwan tata negara dan politik, itu kajian ilmiah dan analisisnya masih mentah dan sangat dangkal.

Dengan kata lain, film itu hanya merupakan pendapat atau sebatas keluhan komentator. Kalau saya ibaratkan, itu gorengannya belum matang bro!,” tegasnya lagi.

Untuk diketahui, film Dirty Vote yang berdurasi 1 jam 57 menit ini diproduksi oleh WatchDoc dan telah dirilis di akun Youtube PSHK (Pusat Studi Hukum dan Kebijakan) Indonesia dan Youtube Dirty Vote pada 11 Februari 2024 pukul 11.11 WIB.

Dalam deskripsi video yang diunggah di akun Youtube PSHK Indonesia disebutkan film Dirty Vote adalah film dokumenter dibintangi oleh tiga ahli hukum tata negara. Mereka adalah Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari.

Disebutkan, ketiganya mengungkap berbagai instrumen kekuasaan telah digunakan untuk tujuan memenangkan pemilu dan merusak tatanan demokrasi.

Penggunaan infrastruktur kekuasaan yang kuat, tanpa malu-malu dipertontonkan secara telanjang demi mempertahankan status quo. Bentuk-bentuk kecurangannya diurai dengan analisa hukum tata negara.

Agung Manik Danendra AMD yang menulis buku “Bali Merancang Masa Depan” yang telah diterbitkan Balai Pustaka Udayana dan bukunya telah dibedah oleh para akademisi kampus Universitas Udayana seperti Prof Dr. dr. Swastika, Prof Dr. Ramantha, S.E., Dr. I Nyoman Cager S.H., dan juga tokoh nasional negarawan sekaliber Jenderal Wiranto lantas menyebut film Dirty Vote tidak ada kajian ilmiahnya.

Tokoh Publik Bali yang bernama lengkap Dr. Anak Agung Ngurah Manik Danendra, S.H., M.H., M.Kn., ini menguliti logika berpikir para akademisi yang tampil menyampaikan narasi dan analisisnya di film tersebut.

Dikatakan, logika berpikir seorang akademisi mestinya bersandar pada kajian ilmiah yaitu pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada. Basis argumentasi yang digunakan semestinya ilmiah yaitu suatu upaya untuk menemukan kenyataan.

Agung Manik Danendra AMD pun mengemukakan suatu argumen “setengah itu tidak bisa lebih dari satu”. “ Artinya jangan dibulatkan kalo baru dapat setengah gitu lho,” seloroh Agung Manik Danendra AMD.

Dia dikenal tokoh muda Bali yang tidak suka pamer, low profile dan gemar berbagi, membantu pembangunan pura di nusantara hingga viral dengan sebutan The Real Sultan Dermawan Bali dan menjadi sumber inspirasi dengan tagline perjuangan “AMD Milik Kita: Bersama Mewujudkan Pembangunan Bali yang Pro Kemakmuran Rakyat” ini.

Terkait narasi yang disampaikan dalam film Dirty Vote tersebut, Cagub Bali Favorit yang punya wawasan luas tentang kondisi dan konstelasi politik nasional serta punya bekal pengalaman dan pengetahuan hukum yang mumpuni itu menyoroti pisau analisis yang digunakan ketiga narator dan juga latar belakang keilmuan dari ketiganya yang semuanya dari ahli hukum tata negara.

Jadi ibaratnya, melihat suatu persoalan hanya dari satu perspektif kaca mata kuda, tidak menggunakan berbagai perspektif yang bisa menggambarkan suatu fenomena politik, hukum maupun demokrasi secara utuh dan menyeluruh.

“Keilmuan Feri Amzari juga perlu dipertanyakan. Ilmunya kan belum bisa dipakai sebagai suatu kajian seorang ahli pakar hukum tata negara karena belum sampai tingkat doktor.

Seperti analisa 20 Pj Gubernur yang dia yakini dapat meraup lebih 50 persen suara Pilpres untuk Prabowo-Gibran. Penelitiannya kok dangkal banget ya? Dibedahnya darimana tuh?,” kritik pakar hukum yang juga berlatar belakang pendidikan doktor ilmu pemerintahan itu.

Agung Manik Danendra AMD yang juga seorang pakar hukum dan masih aktif berprofesi sebagai Notaris-PPAT dan Pengusaha ini yang sebelumnya sempat berprofesi sebagai Advokat di era Orde Baru ini lantas mempersoalkan narasi yang mengarah pada mencla-menclenya penguasa dalam soal dugaan kecurangan pemilu yang ditayangkan di film Dirty Vote itu.

“Yang buat film itu kan hanya menyoal pandangan dari sudut ilmu ketatanegaraan, ini bukan soal ilmu tata negara tapi ada ilmu politiknya, instrumennya dan penerapannya beda,” ujar Agung Manik Danendra AMD yang dikenal sebagai tokoh yang lahir dari keluarga Puri yang dekat dengan semua lapisan masyarakat dan Cucunda tokoh legenda dua jaman I Gusti Ngurah Oka Pugur Pemecutan ini.

“Secara prinsip berbeda maka sudut kajian pun berbeda. Hukum Tata Negara prinsip dasarnya mempelajari peraturan-peraturan hukum yang mengatur organisasi kekuasaan negara, sedangkan Ilmu Politik mempelajari kekuasaan dilihat dari humannya dan aspek perilaku kekuasaan tersebut. Jadi nggak salah tuh Bapak Presiden Jokowi toh, demi kedaulatan rakyat beliau memakai Ilmu Politik dan Ilmu Tata Negara,” kata Agung Manik Danendra AMD.

Tokoh milenial Bali ini digadang-gadang maju sebagai Calon Gubernur Bali favorit pada Pilgub Bali 2024 mendatang terbukti dengan Agung Manik Danendra AMD keluar sebagai pemenang polling, sebagai Calon Gubernur Bali favorit yang meraih hasil polling tertingi dari hasil Polling Ngrembug Semeton Bali “Mencari Calon Gubernur Bali 2024-2029” yang digelar DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi Bali yang resmi berakhir per 31 Desember 2023.

Lalu ada yang menilai bahwa film Dirty Vote ini bisa menjadi bentuk kampanye terselubung dan black campaign.

Saat ditanya apakah benar film terjadi menjadi bentuk pendidikan politik kepada masyarakat atau malah diduga punya agenda lain atau pesanan dari pihak tertentu, Agung Manik Danendra AMD mengungkapkan penafsiran dan penilaian publik bisa macam-macam.

“Bisa ditafsirkan macam-macam ya, tergantung dari sudut pandang yang melihat. Kalau dari sisi yang dirugikan itu black campaign. Dari sisi yang diuntungkan itu bisa dibilang pendidikan politik. Dari sisi beberapa pengamat mungkin itu ada agenda atau pesanan lain.

Tapi apapun itu, menurut saya pribadi isi film ini ya itu tidak berdasar pada cara berpikir dengan logika ilmiah. Seperti yang saya sebut sebelumnya itu penelitiannya dangkal,” tutur Agung Manik Danendra AMD yang merupakan putra dari tokoh pendidikan Bali, Ayahndanya adalah pejuang kemerdekaan RI sebagai Ketua Legium garis depan dengan mendapatkan bintang gelar kehormatan dari Presiden Soeharto itu.

Saat ditanya soal momentum peluncuran film Dirty Vote di masa tenang Pemilu 2024, yang malah membuat gaduh, berpotensi mengotori pikiran publik, memicu perdebatan baru serta juga ada anggapan bisa berpotensi menggerus suara kemenangan Prabowo-gibran di putaran pertama, Agung Manik Danendra AMD menilai momentum peluncuran film tersebut boleh-boleh saja di masa tenang ini walaupun diakui bisa sedikit menggiring opini publik.

Namun, menurut Tokoh Publik Bali yang tidak henti-hentinya mensupport milenial untuk berkiprah dan berkreativitas ini, film tersebut tidak akan berpengaruh banyak mengubah pilihan pemilih secara drastis dan signifikan karena mayoritas sudah yakin dengan pilihannya dan siap untuk mencoblos di TPS nanti pada 14 Februari.

“Kalau momentumnya ya boleh-boleh aja. Kan yang bicara itu bukan caleg namun bisa saja sedikit menggiring opini publik. Tapi ya nggak banyak ya pengaruhnya,” kata Agung Manik Danendra AMD.

Dia selama ini dikenal sebagai sosok yang humanis, namanya harum dan viral berkat berbagai aksi sosial kemanusiaan dengan tidak henti-hentinya berbagi dan beryadnya, memiliki pengalaman organisasi, intelektual tinggi dan disegani kaum milenial.

Serta pernah viral dengan Gugatan Rp. 22 T kepada Gubernur Bali Wayan Koster kala itu mengenai polemik rencana Perda Mendaki Gunung. Gubernur Koster pun ciut nyalinya dan urung menerbitkan perda tersebut hingga habis masa jabatannya.

Agung Manik Danendra AMD lantas memberikan pandangan dan pesannya bagaimana publik harus menyikapi keberadan film ini dengan segala pesan serta narasi yang disampaikan soal dugaan kecurangan Pemilu 2024.

“Biasa-biasa aja tuh kan. Iya kembali kepada hati untuk memilih besok demi kedaulatan negara dan masa depan bangsa. Masyarakat Bali dan Nusantara hadir di TPS, berikan pilihan dan mencoblos!,” ujarnya.

Di sisi lain sebelumnya, ditanya menyoal prediksi yang unggul dan prediksi dua putaran secara nasional serta bagaimana untuk kondisi di Bali, Agung Manik Danendra AMD menyakini pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka (Prabowo-Gibran) dan pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) yang melaju ke putaran kedua Pilpres 2024.

Sementara pasangan capres-cawapres nomor urut 03 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD diprediksi paling buncit di urutan ketiga sehingga terlempar alias terpental dari pertarungan di putaran kedua.

“Prabowo-Gibran unggul putaran pertama, dan terjadi dua putaran. Jadi di putaran kedua Prabowo-Gibran dengan Anies-Cak Imin akan tarung kembali secara nasional,” tegasnya seraya menyebut walaupun PDI Perjuangan nantinya kalah di Pilpres dan Pileg namun untuk di Bali tetap didominasi oleh partai berlambang kepala banteng tersebut baik untuk kursi parlemen di tingkat DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, dan keterwakilan di DPR RI di Senayan Jakarta.

Agung Manik Danendra AMD pun mengajak seluruh lapisan masyarakat Bali untuk berpartisipasi aktif yang punya hak pilih untuk datang ke TPS dan mencoblos pilihannya.

“Sebab kedaulatan negara ada di tangan rakyat dan sebagai warga negara dan rakyat Indonesia saatnya tanggal 14 Februari 2024 mempergunakan hak pilih kita,” pungkas AMD dengan tagline “Bersama Mewujudkan Pembangunan Bali yang Pro Kemakmuran Rakyat” juga memberikan support kepada para petugas panitia pemungutan suara KPPS untuk tetap semangat mengawal pesta demokrasi ini berjalan lancar, tertib dan shanti. (*) 

Editor : Rosihan Anwar
#amd #agung manik danendra #Prabowo Gibran #dirty vote full movie