Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan Mencoblos di Desa Cemagi, Mengwi Badung, Begini Alasan Nyoblos di Bali
Ni Made Ari Rismaya Dewi• Rabu, 14 Februari 2024 | 20:32 WIB
NYOBLOS DI BALI: Menko Marvest Luhut Binsar Pandjaitan usai nyoblos di TPS 14 Banjar Pengayehan, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung (14/2/2024)
MANGUPURA,radarbali.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan melakukan pencoblosan Pemilu 2024 di TPS 14 Banjar Pengayehan, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali pada Rabu (14/2/2024).
Luhut nampak hadir di TPS sekitar pukul 11.00 WITA bersama sang istri, Devi Simatupang dengan mengenakan baju polo berwarna merah putih.
Setelah melakukan pencoblosan, ia tampak menunjukkan jari manis yang sudah dibubuhi tinta di hadapan awak media.
"Saya (memilih di Desa Cemagi, red) pas ada rapat mengenai World Water Forum di Bali besok (15/2, red). Kan nanti Mei ada 52 negara," tuturnya usai mencoblos.
Untuk diketahui, World Water Forum ke-10 akan berlangsung di Bali pada tanggal 18 hingga 24 Mei 2024. Terkait pesta demokrasi kali ini, Pemilu 2024 diharapkannya dapat berlangsung damai.
"Saya harap semua damai, walaupun kemarin kita banyak beda-beda. Itu sah-sah demokrasi. Nanti sore kan tidak tahu, siapa Presiden terpilih, kita guyub lagi. Karena kita harus satu untuk membangun Indonesia lebih bagus. Kalau ga kompak kan ga bisa," sambungnya.
Film yang dibuat oleh penggarap Sexy Killer di tahun 2019 ini menurutnya menebar kebohongan.
"Ternyata diurai ya banyak bohongnya. Jadi sayang juga sebenarnya kita menebar kebohongan. Siapa sih sekarang mau curang, semua saling mengawasi kok. Saya kira kecurangan itu hampir tidak ada," kata Luhut.
Terlebih dirinya ditampilkan dalam film tersebut dan disebut condong pada Paslon Nomor Urut 02.
"Ya saya kan ditanya, ya saya jawab pikrian saya. Karena saya ingin keberlanjutan, saya tahu persis kalau tidak bekelanjutan, maka ekonomi kita itu nanti ya jadi seperti yoyo," sambungnya.
Karena bonus demografi yang disebutnya akan habis pada tahun 2030-an. Di waktu yang tak tersisa banyak ini, Luhut sampaikan harus sadar akan permasalahan itu dan tidak boleh main-main
"Jadi keberlanjutan daripada yang dibuat Pak Jokowi tentu ada penyempurnaan sana-sini. Karena ga mungkin juga itu selesai satu presiden. Bisa dua, tiga," tutupnya.***