DENPASAR, radarbali.id - Terjunnya Nyoman Sugawa Korry dalam pilkada serentak di kabupaten Buleleng, berawal dari undangan Ketua DPD Golkar Buleleng, dalam pertemuan yang dilakukan di DPD Golkar Buleleng.
Dalam pertemuan tersebut dihadirkan pula pimpinan desa, kecamatan, pengurus kabupaten, anggota fraksi hingga dewan penasehat Golkar Buleleng.
Dalam pertemuan berkembang desakan dan usulan yang kuat dari seluruh peserta rapat, agar Nyoman Sugawa Korry sebagai putra Buleleng bersedia sebagai calon Bupati Buleleng 2024.
Sugawa korry merespons usulan tersebut, bagi pria yang juga Wakil Ketua DPRD Bali jika memang sudah menjadi keinginan seluruh kader, pihaknya hanya ingin melihat kesungguhannya. Kalau memang sungguh-sungguh ia siap menerima penugasan tersebut.
Disinggung kesiapannya, di samping desakan kader, apa ada pertimbangan lainya? menjelaskan, secara historis Buleleng adalah daerah yang masyarakatnya terbuka dan paling cepat menerima konsep-konsep perubahan, dan dl pilpres 2024 dibuktikan juga dengan kemenangan Prabowo-Gibran.
"Secara historis, Buleleng ditahun 1960-an adalah daerah yang pernah menjadi daerah termaju dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Bali.
Diukur dari berbagai bidang pembangunan, seperti : pendidikan, ekonomi (pengekspor) berbagai komoditi dan bidang-bidang lainnya.
Saat ini ,dibandingkan dengan kabupaten dan kota di Bali, Buleleng sangat jauh tertinggal. Selama 25 tahun pembangunan di Buleleng, terkesan mengalami kemandegan dibandingkan kabupaten dan kota di Bali," beber Sugawa.
Politikus asal Banyuatis ini, menjelaskan dari capaian Indeks Pembangunan Manusia ( IPM) tahun 2010 mencapai ranking 5, tetapi tahun 2023 justru turun posisi ranking 6. PDRB per kapita Buleleng tahun 2010 berada di peringkat 5 dan tahun 2023 berada peringkat 6.
Pertumbuhan ekonomi tahun 2011 berada pada ranking 4 dan tahun 2023 berada pada ranking 6. Pendapatan asli daerah (PAD) tahun 2010 di ranking 4 dan tahun 2022 masih di ranking 4. Penerimaan APBD Buleleng tahun 2010 ada di ranking 3 dan tahun 2022 ada di ranking 4.
Tingkat kemiskinan tahun 2010 berada di ranking 4 tertinggi dan di tahun 2023 berada di no 2 tertinggi.
"Dari data tersebut , kondisinya bukan saja mandeg, tetapi juga dari berbagai indikator banyak yang melorot. Para pemimpin sebelumnya, bukan tidak berbuat, mereka semua berbuat, tetap apa yg dilakukan belum bisa meningkatkan capain masing-masing indikator pembangunan tersebut," kata Sugawa.
Berarti ada hal yang harus diubah dan diperlukan terobosan-terobosan yang tepat. Dari hal inilah Sugawa melihat ada tantangan yang harus Golkar jawab dan antisipasi. Kata Sugawa kuncinya ada pada komitmen, kemampuan dan profesionalisme seorang kepala daerah yakni bupati.
Ditanya tentang apa jurus yang akan dilakukan, Sugawa Korry menjelaskan:
Secara sederhana pihaknya akan meletakkan tiga komitmen di dalam membangun ke depan : 1. Komitmen membangun dan melayani seluruh masyarakat Buleleng
Kemudian, membangun Buleleng dengan landasan bukan atas dasar mempersiapkan diri untuk merebut masa jabatan.
Terakhir, menjamin dilaksanakannya pembangunan yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme "Tentang membangun seluruh masyarakat Buleleng.
Masyarakat Buleleng terdiri dari : petani , perternak, nelayan, UMKM, pengusaha/wirausaha, ASN dan lainnya. Kepada mereka lah fokus pembangunan dan pelayanan di prioritaskan," jelas Sugawa.
Sugawa mencontohkan masyarakat petani harus dibangun kesejahteraannya dengan cara membantu menekan ongkos produksi,meningkatkan nilai tambah produksinya dan memeperluas aspek pasarnya.
Untuk menekan ongkos produksi, pemerintah harus berani berikan pupuk secara gratis kepada petani ( pupuk organik) memberikan tambahan subsidi utk pupuk anorganik.
Lahan-lahan petani yang relatif sempit harus ditingkat produktifitasnya, dengan membantu gratis bibit-bibit terbaik atau kualitas ekspor mendorong investasi industri pengolahan produk pertanian serta membantu registrasi kebun masyarakat sehingga produksinya layak ekspor, aspek kelembagaan petani sepert subak diperhatikan dan dibantu dengan sungguh-sungguh.
Begitu juga dengan komponen masyarakat lainnya, akan disiapkan pembangunan dan terobosan-terobosan sesuai dengan konfisi masing-masing.
Selama ini, komitmen membangun sektor pertanian memang kurang menarik, karena tidak cepat mendapat tepuk tangan karena sifatnya jika menengah 6 sampai dengan10 tahun baru diketahui hasil.
"Masa pilkada keburu lewat, tetapi kami tidak akan meletakkan komitmen membangun berdasarkan cepatnya dapat tepuk tangan dari masyarakat," tandasnya. (feb)
Editor : Rosihan Anwar