Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Muncul Spanduknya di Jalan-Jalan, Begini Respons Dokter Caput

Eka Prasetya • Selasa, 30 Juli 2024 | 03:55 WIB
BERMUNCULAN DI SINGARAJA : Spanduk bergambar Dewa Nyoman Sukrawan dan Ketut Putra Sedana alias Dokter Caput terpasang di Jalan Dewi Sartika, Singaraja.(eka prasetya/radar bali)
BERMUNCULAN DI SINGARAJA : Spanduk bergambar Dewa Nyoman Sukrawan dan Ketut Putra Sedana alias Dokter Caput terpasang di Jalan Dewi Sartika, Singaraja.(eka prasetya/radar bali)

SINGARAJA, Radar Bali.id - Spanduk yang menghadirkan sosok Dewa Nyoman Sukrawan dan Ketut Putra Sedana alias Dokter Caput, marak terpasang di penjuru Kota Singaraja. Spanduk itu mencuat setelah keduanya melakukan aktivitas jalan sehat bersama di Taman Kota Singaraja, pekan lalu.

Spanduk-spanduk tersebut menampilkan kedua sosok itu tengah berjalan bersama. Selain itu ada foto yang menunjukkan keduanya tengah mencermati informasi dalam ponsel. Tidak ada tulisan apapun dalam spanduk itu. Sehingga memicu berbagai interpretasi terkait spanduk itu.

Dewa Nyoman Sukrawan merupakan politisi partai Demokrat. Dia kini duduk sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Demokrat Bali. Sementara Dokter Caput merupakan politisi PDI Perjuangan. Caput merupakan Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi PDI Perjuangan Buleleng.

Baik Dewa Sukrawan maupun Dokter Caput, beberapa bulan lalu mendaftarkan diri sebagai calon Bupati Buleleng lewat PDIP.

Saat dikonfirmasi, Dewa Sukrawan mengaku tidak tahu siapa yang memasang spanduk tersebut. Ia menduga relawannya yang memasang spanduk itu. ”Mungkin anak-anak di bawah yang buat,” kata Sukrawan saat dihubungi pada Minggu (28/7/2024).

Sukrawan mengaku tidak mau ambil pusing terkait dengan spanduk tersebut. Ia pun membiarkan masyarakat menilai terkait spanduk itu. ”Ya itu kan foto. Foto dipasang. Ya mau bagaimana lagi. Itu urusan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Dokter Caput mengatakan, spanduk itu bukan dipasang dirinya maupun relawannya. Ia telah meminta relawannya berhenti memasang spanduk maupun baliho.

”Spanduk itu mengotori daerah. Kedua, saya punya slogan. Saya turun, saya hadir, bukan dengan kata-kata. Bukan dengan baliho, tapi kerja nyata,” kata Caput.

Ia mengklaim sudah lama bergerak di masyarakat. Tidak ada tendensi apapun. ”Bukan karena pilkada kami bergerak,” ujarnya.

Menyusul spanduk tersebut, Caput meminta agar spanduk itu dicopot. Karena ia merasa spanduk itu tidak memberikan nilai positif. [*]

 

 

 

Editor : Hari Puspita
#spanduk