Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Suasana Hari Raya Kuningan, Paslon Mulia-PAS Silaturahmi ke Puri Ubud

Ni Kadek Novi Febriani • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 04:11 WIB
SILATURAHMI: Paslon Gubernur dan Wagub Bali Made Muliawan Arya dan Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS) di Puri Ubud, Jumat (4/10/2024) siang. Hadir penglingsir Puri Ubud Cok Ace mantan Wagub Bali.
SILATURAHMI: Paslon Gubernur dan Wagub Bali Made Muliawan Arya dan Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS) di Puri Ubud, Jumat (4/10/2024) siang. Hadir penglingsir Puri Ubud Cok Ace mantan Wagub Bali.

GIANYAR, radarbali.jawapos.com - Pasangan calon nomor urut 1 bersilaturahmi berbagai pihak dan tokoh di Bali. Saat penampahan Kuningan ini Jumat (4/10/2024) paslon Made Muliawan Arya dan Putu Agus Suradnyana (PAS) atau paket yang Mulia-PAS datang ke Puri Ubud.

Keluarga Puri Ubud menyambut dengan suka cita, termasuk juga dengan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace yang merupakan Mantan Wakil Gubernur, pasangan Wayan Koster periode 2018-2023. 

Mulia-PAS Komitmen Jaga napas Budaya Ubud diungkapkan dalam pertemuan itu, Cok Ace mengajak Paket Mulia-PAS bercengkrama di saren tengah Puri Saren Agung Ubud sekaligus menikmati hidangan khas Gianyar.

Tak hanya Cok Ace, pertemuan dalam suasana penuh kekeluargaan diselingi tertawa lepas itu juga dihadiri Tjokorda Gde Putra Sukawati (kakak kandung Cok Ace) dan Prof. Tjokorda Gde Raka Sukawati (adik kandung Cok Ace). 

Tampak Cok Ace yang merupakan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Konsul Kehormatan Malaysia untuk Bali, Ketua Forum Pengembangan Kawasan Strategis Ubud, Ketua Bali Heritage Trust (Lembaga Pelestarian Bali) dan sederet jabatan lainnya menitipkan pesan kepada Mulia-PAS untuk menjaga Bali yang napas adalah agama Hindu dan kebudayaan.

“Sangat hangat dan luar biasa (sambutan Cok Ace, red) selayaknya keluarga. Kami makan di dapur selayaknya keluarga. Jadi sudah artinya direstui oleh alam dan direstui oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ucap De Gadjah diwawancarai usai pertemuan tersebut. 

Tertawa lepas yang mewarnai silaturahmi tersebut dimaknai De Gadjah sebagai jalinan komunikasi dari hati ke hati antara seorang ayah dengan anaknya.

“Itu artinya persaudaraan yang no drama. Jadi bisa tertawa lepas,” ungkap calon gubernur milenial berusia 43 tahun itu. 

Senada, Putu Agus Suradnyana sangat berterima kasih karena diterima dalam suasana penuh keakraban di Puri Saren Agung Ubud. 

“Kebetulan Cok Ace adalah dosen saya di Teknik Arsitektur Universitas Udayana dulu. Beliau menitipkan kesepahaman cara pandang tentang bagaimana mempertahankan budaya dari konsep parahyangan, pawongan, dan palemahan (Tri Hita Karana, red),” ucap PAS. 

Mantan Bupati Buleleng itu memuji sosok Cok Ace, karena tokoh yang sangat luar biasa. Hal yang dibahas terkait Ubud. Soal kemacetan dan permasalahan sosial lainnya.

"Semoga bisa diselesaikan sekaligus menjaga sera memfiltrasi nilai-nilai budaya luar agar tidak merusak budaya warisan nenek moyang kita. Ini penting karena nafas dari Ubud adalah budaya,” urai Putu Agus Suradnyana. 

Dikonfirmasi terpisah dengan Cok Ace, diakuinya sambutan hangat ke paslon Mulia-PAS dalam suasana hari raya Galungan dan Kuningan harus dilakukan dengan siapapun yang datang harus dihargai.

"Yang datang ke puri, tentu tiang (saya) sangat hargai, Apalagi masih dalam suasana hari Raya Galungan Kuningan,” ungkapnya

Soal dukungan pilgub? Mantan Bupati Gianyar ini menyatakan, ada kriteria menjadi pemimpin Bali, kalau De Gadjah memenuhi kriteria tersebut tentunya akan menjadi pusat perhatiannya dan masyarakat lainnya.

Siapa pun yang memimpin Bali harus bisa membawa kesejahteraan untuk masyarakat Bali. ”Kami ajukan bukan kriteria ke depan. Tapi bagaimana pemimpin ke depan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Bali secara keseluruhan,” jelasnya. 

Sambungnya, Bali sebagai pulau tenget maka pemimpin Bali harus memiliki moralitas. Bukan mengenyampingkan intelektualitas, popularitas dan elektabilitas.

Baginya, di atas itu semua paling sangat diharapkan adalah moralitas.”Yang palimg diharapkab mewakili masyarakat di Ubud adalah moralitas,” tegasnya 

Cok Ace juga menambahkan, jika menimbulkan spekulasi bagi masyarakat khususnya di Ubud perihal pertemuan ini, pihaknya biarkan masyarakat menilai.

”Bahwasannya menimbulkan spekulasi bagi masyarakat kami di Ubud khususnya, tentu kami serahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilai,” tandasnya. (feb)

Editor : Rosihan Anwar