Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Pertanian di Bali Terancam, Gubernur Koster Malah Minta Belajar ke Israel

Ni Kadek Novi Febriani • Rabu, 16 April 2025 | 21:18 WIB
BELAJAR PERTANIAN: Gubernur Bali Wayan Koster akan belajar teknologi pertanian ke Israel
BELAJAR PERTANIAN: Gubernur Bali Wayan Koster akan belajar teknologi pertanian ke Israel

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Sebelumnya heboh tolak Tim Israel pada  Piala Dunia U20 di Bali, kini  Gubernur Bali Wayan Koster puji pertanian di negara yahudi itu. Katanya karena kondisi lahannya tak mendukung, tapi teknologi pertaniannya berhasil.

Koster tak segan mengkritik Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada karena pertanian di Bali semakin terpuruk.

Hal itu disampaikan di pembukaan Musrembang Selasa (15/4/2025).  Menurut Koster   pertanian di Bali dapat memenuhi kebutuhan pangan di Bali, bahkan dapat  ditingkatkan lahan pangannya. Hanya  saja Kadis ini kerjanya kurang progresif.

“Cuma Kadis Pertaniannya kurang progresif,” kata, Koster pada Pembukaan Musrembang RKPD Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2026 di  Gedung Wiswa Sabha Utama kemarin.(15/4/2025).

Koster mencontohkan,  satu hektare sawah lazimnya  dua kali panen, dengan teknologi dapat ditingkatkan menjadi tiga kali panen. Itu bisa dilakukan  harus  dengan adanya inovasi pada lahan kering.

Baginya, dapat sebagai lahan pertanian modern. Gubernur dua periode itu meminta Kadistan belajar ke Israel karena berhasil dengan kondisi lahan  yang kering.

”Kalau perlu belajar ke Israel yang luar biasa. Tidak punya lahan subur, tidak ada air, tapi pertaniannya sangat maju. Karena teknologinya sangat maju. Embun diolah jadi air tanaman. Belajar gitu jangan gitu-gitu saja, gak akan maju,” imbuhnya.

Berdasarkan data, beras yang dihasilkan petani di Bali belum defisit. Kebutuhan produktivitas di Bali terhadap warganya 4,4 juta atau masih surplus. Jumlah beras  53 ribu ton Tahun 2024.

Namun, jauh berbeda saat  periode pertama  Koster menjabat beras surplus, jumlahnya 100 ribu ton lebih. Sayangnya,  saat ini tersisa 53 ribu ton atau menurun setengahnya.

”Ribuan hektar per tahun lahan produktif itu berkurang karena eksploitasi lahan terlalu tinggi dalam pembangunan fasilitas pariwisata maupun fasilitas lainnya,” jelas Koster.

Koster mengatakan, kalau lahan pertanian tidak dijaga dan dilestarikan, maka lahan pangan akan tergerus terus.  Diprediksi, tidak perlu menunggu  sampai 100 tahun, pasti akan habis.  Bali  akan menghadapi ancaman ketersediaan pangan.

Koster menghitung sumber pangan di Bali cukup. Kecuali bawang putih saja yang defisit, di luar itu Bali surplus.

“Ternyata kenapa bawang putihnya impor, karena petaninya nggak mau menanam, karena harga bawang putih Bali lebih tinggi drpd impor,” tandasnya.***

Editor : M.Ridwan
#pertanian #Musrenbang #Israel #gubernur koster