Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Redam Konflik, Koster Bertemu Masyarakat yang Pro dan Kontra Terminal LNG

Ni Kadek Novi Febriani • Kamis, 5 Juni 2025 | 15:39 WIB
DEMI ENERGI: Gubernur Bali Wayan Koster saat bertemu para pihak yang pro dan kontra proyek LNG di Sidkarya
DEMI ENERGI: Gubernur Bali Wayan Koster saat bertemu para pihak yang pro dan kontra proyek LNG di Sidkarya

DENPASAR, radarbali.jawapos.com –Pro dan kontra rencana pembangunan terminal LNG,  Gubernur Bali Wayan Koster menerima perwakilan masyarakat Pulau Serangan, Desa Intaran dan Desa Sidakarya dalam pertemuan terbuka terkait rencana pembangunan terminal Liquefied Natural Gas (LNG) di Pantai Sidakarya, Denpasar Selatan di Gedung Kerthasaba, Jayasabha, Denpasar pada kemarin (4/6/2025).

Hadir tokoh masyarakat, perangkat desa adat, serta perwakilan PT Dewata Energi Bersih.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Koster memaparkan, LNG kebutuhan mendesak.  Bali sangat bergantung pada pasokan listrik dari Jawa Timur melalui kabel bawah laut yang rentan terganggu.

 Baca Juga: Kecelakaan Maut! Siswi SMA Meninggal di Jalan Penarungan Mengwi Badung

Bali sempat blackout  12 jam yang pernah terjadi tidak boleh terulang. Sejumlah tokoh masyarakat Serangan dan Sidakarya mengutarakan  kekhawatiran terkait keamanan, kerusakan ekosistem laut, dan mata pencaharian nelayan. 

Koster menjamin LNG  konkret demi Bali ajeg berkelanjutan. Seluruh proses telah melalui kajian menyeluruh, termasuk oleh tim AMDAL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Jalur kapal  LNG  tidak melewati terumbu karang aktif, kapal pengangkut LNG hanya datang setiap 42 hari dan proses bongkar muat dilakukan dalam 24 jam, pipa gas dipasang di kedalaman 15 meter, di bawah akar mangrove, tanpa mengganggu ekosistem serta bahwa LNG berbeda dengan LPG, yakni tidak mudah meledak, dan jika bocor akan menguap di udara.

 Baca Juga: Turis India dan Ekspatriat Australia Terlibat Jaringan Narkotika Amerika di Bali, Beacukai dan BNN Sita Marijuana dan Hasis 708 Gram

Lalu juga penggunaan teknologi pengerukan ramah lingkungan seperti kapal hisap pasir dan kelambu lumpur untuk mencegah kekeruhan.

"Saya tidak akan membiarkan pembangunan merugikan masyarakat atau represif. Semua proses harus jelas dan benar. Ini prinsip saya sebagai Gubernur untuk menjaga Gumi Bali," ucapnya.

Selain aspek teknis dan lingkungan, pembangunan terminal LNG di Sidakarya juga memberikan potensi manfaat ekonomi bagi desa-desa adat terdampak, termasuk peluang pendapatan dari penataan kawasan, pengelolaan dermaga wisata, serta kerjasama dengan BUMDes dan BUMDA.

 Baca Juga: Daewoong Akuisisi Alam Kulkul Boutique Resort, Jadikan Pusat Simposium dan Wellness Hospitality Satu Ekosistem Terpadu

Terminal LNG ini juga akan terintegrasi dengan PLTG Pesanggaran dan pembangkit baru di perbatasan Denpasar-Gianyar, dengan total kapasitas 1.550 MW pada 2029, sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan listrik Bali.

 Seluruh proses akan dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara aktif, dan pemerintah akan memastikan semua kepentingan warga dilindungi serta lingkungan tetap lestari.

Tentang Program Bali Mandiri Energi, Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Provinsi Bali untuk memenuhi kebutuhan listrik daerah melalui sumber energi bersih berbasis gas alam atau sumber energi bersih lainnya, mengurangi ketergantungan pada batu bara dan solar, serta mendukung transisi energi nasional menuju ekonomi hijau dan pariwisata berkelanjutan.***

Editor : M.Ridwan
#Pro dan Kontra #gubernur koster #bali #lng