Radar Bali.id- Warga Pati, Jawa Tengah, Bersiap menggelar demonstrasi jilid 2 pada Senin 25 Agustus 2025 untuk menuntut Bupati Sudewo mundur dari jabatannya.
Aksi kedua ini merupakan kelanjutan dari unjuk rasa serupa yang telah dilaksanakan sebelumnya.
Koordinator aksi, yang tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan bahwa mereka kecewa dengan kinerja Bupati Sudewo yang dianggap tidak memuaskan dalam menanggulangi sejumlah isu krusial di wilayah tersebut.
Ini Alasan Unjuk Rasa Mereka
Penyelenggara demo menyoroti beberapa poin utama yang menjadi dasar tuntutan mereka:
- Korupsi dan Nepotisme: Terdapat dugaan kuat praktik korupsi dan nepotisme di lingkungan pemerintahan kabupaten yang merugikan masyarakat. Mereka mengklaim bahwa proyek-proyek pembangunan seringkali dimenangkan oleh pihak-pihak yang memiliki hubungan dekat dengan lingkaran kekuasaan, bukan berdasarkan kompetensi.
- Masalah Infrastruktur: Pembangunan infrastruktur di Pati dianggap lambat dan tidak merata. Banyak jalan rusak yang tidak kunjung diperbaiki, serta fasilitas umum yang masih minim. Hal ini menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
- Bencana Banjir: Warga juga menyoroti penanganan banjir yang dinilai kurang serius. Meskipun bencana banjir sering terjadi, solusi jangka panjang yang efektif tidak kunjung diimplementasikan.
- Kriminalitas Tinggi: Tingkat kriminalitas di Pati juga meningkat, terutama kasus-kasus kekerasan dan pencurian. Warga menuntut pemerintah kabupaten untuk lebih bertanggung jawab dalam menciptakan rasa aman bagi masyarakat.
Tanggapan dari Pihak Berwajib
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait rencana aksi demonstrasi ini. Warga berharap demo akan berjalan damai dan pihak berwajib dapat mengawal aspirasi mereka tanpa kekerasan.
Harapan Warga
Massa aksi berharap Bupati Sudewo akan merespons tuntutan mereka dengan bijak dan segera melakukan perbaikan signifikan. Jika tidak, mereka mengancam akan terus menggelar demonstrasi dengan jumlah massa yang lebih besar hingga tuntutan mereka dipenuhi. [dirangkum dari berbagai sumber]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali