DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Pesta Rivalitas politik pada Pilgub Bali 2024 itu telah usai. Menjelang pergantian tahun 2025, dua tokoh politik di Pulau Dewata, Ketua DPD Gerindra Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah dan Gubernur Bali yang juga Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster bertemu dan duduk bersama.
Sajian dimsum, pangsit dan bakpao menjadi saksi pertemuan mereka. Busana digunakan sesuai ciri khas mereka.
De Gadjah mengenakan kemeja putih dan Koster memakai endek merah berfoto dengan mengacungkan jempol. De Gadjah mengunggah foto itu di Instagramnya, Sabtu (27/12).
De Gadjah menuliskan narasi dalam foto tersebut yang mengisyaratkan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni formal. Ia menggunakan diksi yang cukup puitis namun sarat makna mengenai rekonsiliasi.
"Berjumpa kembali lalu mengerti: Dalam obrolan sederhana nan ringan, tapi saling meneduhkan ini, dimunculkan sebuah titik terang," tulis De Gadjah.
Ia juga menulis di tengah peliknya kondisi yang dipertanyakan, apa salahnya untuk saling menyembuhkan? “Bagi saya, kami adalah saudara yang tak lekang oleh waktu," tegasnya.
Saat dikonfirmasi, De Gadjah mengungkapkan agenda utama pertemuan tersebut adalah menyamakan persepsi mengenai masa depan pembangunan Bali. Ia menegaskan, ego sektoral maupun kepentingan golongan harus ditanggalkan saat berbicara soal kepentingan Bali.
"Kami banyak diskusi tentang Bali. Intinya menyamakan persepsi di mana kita harus saling support untuk kepentingan Bali, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan," ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Bali tersebut.
Menurutnya, kedewasaan politik ditunjukkan dengan kemampuan untuk bersinergi meski sebelumnya berada di kubu yang berseberangan. De Gadjah menilai pilihan politisi bisa berbeda, namun tanggung jawab terhadap masyarakat prioritas utama.
"Kalau bicara Bali, kita harus berdiri di atas kepentingan yang lebih besar. Politik boleh beda, tapi persaudaraan dan tanggung jawab terhadap daerah harus tetap dijaga," pungkasnya.
Pertemuan dua tokoh ini pun dinilai banyak pihak sebagai sinyal positif yang menyejukkan iklim demokrasi di Bali menyongsong tahun 2026.
Editor : Rosihan Anwar