DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Ketua DPD Partai Gerindra Bali Made Muliawan Arya atau yang akrab disapa De Gadjah menanggapi unggahan oknum staf ahli DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), I Wayan Repiyasa yang mengkritik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui ilustrasi bertuliskan “Maling Berkedok Gizi” di media sosial.
Menurut De Gadjah, kritik terhadap program pemerintah merupakan hal yang sah dalam sistem demokrasi. Namun, kritik tersebut seharusnya disampaikan secara konstruktif dan tetap memperhatikan etika jabatan, terlebih jika yang menyampaikan merupakan pejabat publik.
“Meski boleh mengkritik, oknum staf ahli DPR RI perlu memperhatikan beberapa hal,” tegas De Gadjah.
Ia menegaskan bahwa kritik seharusnya tidak mengandung fitnah maupun hoaks, melainkan bertujuan untuk memperbaiki pelaksanaan program pemerintah.
“Kritik boleh, tapi jangan sampai mengandung fitnah atau hoaks,” ujarnya.
De Gadjah juga mempertanyakan relevansi kritik tersebut dengan posisi yang bersangkutan sebagai staf ahli DPR RI dari PDIP.
“Apa relevansinya kritik itu dengan jabatannya sebagai staf ahli DPR RI,” katanya.
Ia bahkan menduga adanya gerakan yang berupaya memperkeruh situasi melalui media sosial.
“Artinya ada gerakan serempak yang memperkeruh situasi. Saat itu kami juga melihat ramai di media sosial,” tambahnya.
Di sisi lain, De Gadjah menilai Program MBG memiliki dampak positif yang cukup besar, tidak hanya bagi pemenuhan gizi anak sekolah tetapi juga bagi perekonomian masyarakat lokal di Bali.
Menurutnya, program tersebut berpotensi membuka lapangan kerja baru. Setiap dapur MBG diperkirakan menyerap sekitar 30 hingga 50 tenaga kerja.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi di Bali diperkirakan mencapai sekitar 100 hingga 147 dapur.
Sementara kebutuhan dapur untuk melayani seluruh penerima manfaat di Bali diperkirakan mencapai sekitar 355 dapur.
“Jika seluruh dapur itu beroperasi, program MBG berpotensi menyerap sekitar 4.000 hingga 7.000 tenaga kerja di Bali,” kata De Gadjah.
Selain membuka lapangan kerja, program tersebut juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi petani dan pelaku UMKM lokal melalui rantai pasok bahan pangan.
Setiap dapur MBG membutuhkan berbagai bahan makanan seperti beras, sayuran, telur, ayam, ikan, dan buah. Kebutuhan tersebut membuka pasar baru bagi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha kecil di desa.
Dalam implementasinya, pemerintah juga mendorong keterlibatan BUMDes, koperasi, dan UMKM sebagai pemasok bahan pangan bagi dapur MBG. Dengan skema ini, bahan pangan yang digunakan diharapkan berasal dari produksi lokal desa.
Skema tersebut menciptakan ekosistem ekonomi baru di tingkat desa, di mana petani memasok bahan mentah, UMKM mengolah bahan pangan, dan dapur MBG menjadi pembeli tetap yang menyerap produksi secara rutin.
Dengan target ratusan ribu penerima manfaat di Bali, kebutuhan bahan pangan untuk program MBG juga terus meningkat setiap hari. Dalam satu dapur saja, kebutuhan bahan makanan dapat mencapai ratusan kilogram beras, puluhan kilogram sayur, serta ribuan butir telur.
Kondisi ini dinilai membuka peluang ekonomi yang cukup besar bagi petani sayur, peternak ayam, petani padi, nelayan, serta pelaku UMKM pengolahan pangan di berbagai daerah di Bali.
Editor : Rosihan Anwar