Guruh Sukarnoputra Tutup Usia, Kader PDI Perjuangan Bali Kenang Kedekatannya dengan Pulau Dewata

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 20:37 WIB
SETENGAH TIANG: Bendera PDI Perjuangan dikibarkan setengah tiang di Sekretariat Renon sebagai wujud berkabung wafatnya Guruh Sukarnoputra. (MIFTAHUDDIN HALIM/radarbali.id)
SETENGAH TIANG: Bendera PDI Perjuangan dikibarkan setengah tiang di Sekretariat Renon sebagai wujud berkabung wafatnya Guruh Sukarnoputra. (MIFTAHUDDIN HALIM/radarbali.id)

 

DENPARAR, radarbali.jawapos.com — Putra bungsu Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Sukarno dan Fatmawati, yaitu Guruh Sukarnoputra, meninggal dunia pada Sabtu pukul 04.16 WIB.

Guruh yang mewarisi ketertarikan politik dan seni dari sang ayah menutup usia pada 73 tahun dan pernah duduk sebagai anggota DPR RI selama lima periode.

Ia juga sangat dekat dengan Bali dan beberapa kali turun ke Tabanan saat partai berlambang banteng tersebut masih bernama PDI (Partai Demokrasi Indonesia), sebelum berubah menjadi PDI Perjuangan.

"Ya, pertahanan yang luar biasa dari zaman Orde Baru, kami sama-sama berjuang di partai, di PDI waktu itu. Jadi beliau kebetulan pernah waktu itu ke Tabanan, kalau tidak salah dua kali, ya," kenang politisi kawakan PDI Perjuangan asal Bali, I Made Urip.

Urip mengenang, kala itu tahun 1987 dirinya sudah menjadi pengurus DPC PDI Kabupaten Tabanan. Guruh tercatat datang dua kali, dengan kunjungan terakhir pada tahun 1992.

"Saya kebetulan waktu itu tahun 1987 sudah sebagai pengurus DPC PDI Kabupaten Tabanan, ya. Jadi beliau datang ke Tabanan, kita melakukan konsolidasi di DPC, dan juga tahun 1992 beliau datang kampanye di Tabanan yang luar biasa di Lapangan Gajah Mada, Tabanan, tahun 1992," kenang Urip saat dihubungi Minggu (27/9/2026).

Kendati mendengar kabar duka pada Sabtu subuh (26/9), Urip tidak bisa melayat untuk mengantar ke peristirahatan terakhir karena hari itu juga almarhum langsung dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Pusaranya berada di satu area yang berdekatan dengan sang ibu, Fatmawati.

Urip mengenal Guruh sebagai seorang Marhaenis sejati sesuai ajaran yang disebarkan oleh ayahandanya, Sukarno.

"Ya, kami seluruh jajaran PDI Perjuangan seluruh Indonesia bersedih. Kami kehilangan seorang kader yang luar biasa dedikasi dan pengabdiannya kepada partai, kepada bangsa, dan negara. Jadi beliau itu adalah betul-betul kader nasionalis, kader yang Marhaenis ya, tidak ada jarak dengan siapa pun, dan juga bergaul kepada siapa saja," terang politisi asal Tabanan tersebut.

Pria yang juga mantan anggota DPR RI ini mengaku Guruh adalah sosok yang sangat santun dan mempunyai etika, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan kepartaian dan kehidupan kebangsaan. "Jadi, saya sudah cukup lama mengenal beliau dari zaman PDI ya, bukan dari PDI Perjuangan saja, dari zaman PDI, zaman Orde Baru," imbuh mantan pengurus DPP PDI Perjuangan tersebut.

Guruh juga dikenal lewat karya cipta lagunya, seperti Kala Cinta Menggoda dan Kala Surya Tenggelam yang dinyanyikan oleh mendiang Chrisye, serta lagu Gita Cinta dari SMA serta Galih dan Ratna. Tidak hanya jago menciptakan lagu, Guruh juga sangat tertarik dengan gamelan dan tarian Bali. "Beliau sangat mencintai seni dan tari Bali serta seni budaya Bali. Ayahnya memiliki darah Bali dari neneknya. Beliau juga pernah berkolaborasi dengan seniman Bali dan pernah tinggal lama di Ubud," jelas Urip.

Tidak hanya matang dalam politik dan menaruh perhatian besar pada seni budaya, Guruh juga diakui memiliki jiwa sosial yang tinggi. "Beliau sangat ringan tangan dalam kehidupan sosial, baik untuk kelompok, komunitas, maupun pribadi," bebernya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, menyampaikan instruksi resmi yang ditujukan kepada seluruh jajaran pengurus partai—mulai dari tingkat Ketua/Sekretaris DPC, PAC, Ranting, hingga seluruh kader se-Bali—untuk mengibarkan bendera partai setengah tiang.

"Marilah kita mendoakan agar arwah Beliau diberi tempat terbaik di sisi-Nya sesuai dharma baktinya kepada partai, bangsa, dan negara. Kami menginstruksikan agar menaikkan atau mengibarkan bendera partai setengah tiang sebagai penghormatan atas pengabdian dan jasanya kepada partai, bangsa, dan negara," ujar Wayan Koster pada Sabtu (26/9/2026).

Koster menegaskan agar seluruh jajaran struktur partai di Bali menjalankan instruksi tersebut dengan penuh dedikasi. "Demikian agar dilaksanakan dengan disiplin dan penuh rasa tanggung jawab. Merdeka" tegas politisi yang juga menjabat sebagai Gubernur Bali tersebut.***

Editor : M.Ridwan
Sumber : radarbali.jawapos.com
guruh sukarnoputra tutup usia bendera setengah tiang pdi perjuangan bali