Sejumlah persiapan pun dilakukan, terutama untuk persiapan kondisi lapangan. Bahkan, Tim Bali United sendiri harus merelakan timnya tidak bisa bermarkas di Stadion Dipta dan terpaksa berkandang di luar Bali. Hal ini tak lepas dari permintaam FIFA melalui surat yang dikirim ke PSSI terkait menjaga kondisi lapangan yang akan digunakan.
Namun hal itu hanya isapan jempol belaka. Raisa, penyanyi Indonesia justru membuat konser tunggalnya di GBK pada 25 Februari 2023 kemarin. Puluhan ribu tiket dengan harga jutaan itu pun sudah terjual. Stadion kebanggaan masyarakat Indonesia yang dipersiapkan untuk ajang Piala Dunia U-20 pun digunakan sebagai tempat penyelenggaran konser musik.
“Ini lucu. Bali United tidak bisa menggunakan stadion Dipta untuk menjalani laga kandangnya dalam lanjutan Liga 1, tetapi GBK justru bisa digunakan untuk konser. Kok bisa?,” ujar Satya Wibhawa, salah seorang pengamat sepak bola di Bali saat ditemui Jawa Pos Radar Bali.
Seharusnya, kata Satya, jika bicara keadilan, Bali United justru yang paling dirugikan. Sebab dipaksa rela menjalani laga kandangnya yang rasa kandang karena tak boleh menggunakan stadion Dipta, sementara di GBK, justru diperbolehkan untuk konser musik.“Sekarang kita punya wakil Ketua PSSI yang notabene adalah Menpora. Beliau harusnya paham apa yang harus dilakukan. Bukan mempertontonkan ketidakadilan seperti ini,” ujarnya.
Wartawan Jawa Pos Radar Bali sempat mempertanyakan hal ini kepada Menpora Zainudin Amali terkait keberlanjutan konser Raisa dan juga Blackpink di GBK. Bagaimana keberlanjutan komunikasi dengan FIFA soal konser ini? “Tidak tahu,” jawabnya saat ditemui di Nusa Dua beberapa waktu lalu.
Untuk diketahui, penggunaan stadion untuk konser itu dinilai FIFA sangat kontradiktif dengan insvestasi anggaran dari pemerintah untuk menyediakan lapangan sepak bola berkualitas tinggi.
FIFA melarang menggunakan enam stadion yang akan digunakan untuk Piala Dunia U20 2023. Sementara Raisa mengaku tak tahu menahu tentang permintaan FIFA dan memilih untuk melanjutkan konser. [wayan widyantara/radar bali]
Editor : Hari Puspita