Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Alarm Lini Belakang Bajol Ijo: Mengapa Duet Stopper dan Sprinter Jadi Harga Mati bagi Persebaya?

Dhian Harnia Patrawati • Sabtu, 18 April 2026 | 10:05 WIB
Fransisco Rivera yang tidak dalam kondisi 100 persen dipaksakan untuk diturunkan karena kendala kedalaman skuad yang dialami Persebaya.
Fransisco Rivera yang tidak dalam kondisi 100 persen dipaksakan untuk diturunkan karena kendala kedalaman skuad yang dialami Persebaya.

 

RADAR BALI – Persebaya Surabaya harus menelan pil pahit saat menjamu Madura United dalam laga lanjutan BRI Super League 2025/2026.

Bermain di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), tim berjuluk Bajol Ijo itu takluk 1-2 dari tamunya. Hasil minor ini sekaligus membuat Persebaya mencatatkan dua kekalahan beruntun.

Memasuki 15 menit awal babak kedua, Persebaya sebenarnya mencoba mengambil kendali permainan. Gelombang serangan mulai dibangun dari berbagai sisi lapangan untuk mengejar ketertinggalan. Namun, upaya tersebut belum mampu menghadirkan ancaman serius ke gawang Laskar Sape Kerrab.

Tekanan yang terus dilancarkan Persebaya justru berbalik menjadi petaka. Saat lini belakang mulai terbuka akibat asyik menyerang, Madura United berhasil memanfaatkan celah lewat serangan balik cepat.

Pada menit ke-65, Madura United menggandakan keunggulan melalui skema serangan balik yang diselesaikan dengan tembakan keras ke tiang dekat, menaklukkan kiper Andhika Ramadhani.

Pelatih Persebaya Bernardo Tavares menilai timnya mengalami masalah dalam penyelesaian akhir. Karena itu, Tavares sempat memasukkan Riyan Ardiansyah menggantikan Malik Risaldi pada menit ke-66, disusul pergantian tiga pemain sekaligus yakni Mihailo Perovic, Ichas Baihaqi, dan Milos Raickovic. 

Perubahan ini meningkatkan intensitas serangan. Hasilnya, pada menit ke-79, Riyan Ardiansyah memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2 setelah menyambar umpan matang Milos Raickovic.

“Memang ini menjadi masalah ketika kami tidak bisa mencetak gol. Kami menciptakan banyak peluang, tetapi akurasinya masih kurang. Itu yang harus kami perbaiki,” ujarnya dalam sesi konferensi pers seusai laga.

Meski terus menekan di sisa waktu, termasuk peluang emas Mihailo Perovic yang membentur mistar gawang di menit ke-88, skor 1-2 bertahan hingga peluit panjang.

Secara statistik, Persebaya sangat dominan dengan 72 persen penguasaan bola dan 23 tembakan, namun efektivitas Madura United yang hanya mampu melesatkan dua tembakan ke gawang yang seluruhnya terkonversi jadi gol menjadi pembeda.

Coach Tavares menyoroti efektivitas lawan yang dinilainya mencerminkan fenomena umum dalam sepak bola modern.

“Hal seperti ini juga terjadi pada tim-tim besar di Eropa. Mereka bisa menguasai bola dan menciptakan banyak tembakan, tetapi lawan datang satu atau dua kali ke gawang dan langsung mencetak gol. Hari ini Madura melakukan hal itu,” tegasnya.

Evaluasi Teknis: Rapuhnya Tembok Bajol Ijo

Kekalahan ini menggarisbawahi masalah kronis di pertahanan Persebaya yang telah kebobolan 35 gol dari 28 laga. Beberapa nama di lini belakang dinilai perlu dicarikan pelapis kompetitif atau dievaluasi pada bursa transfer mendatang:

Dime Dimov: Sering terjebak dalam kesalahan posisi (positional error) dan terlalu fokus pada bola (ball-watching). Persebaya membutuhkan profil bek seperti Yuran Fernandes yang memiliki aspek kepemimpinan dan ketenangan.

Kadek Raditya: Masih terkendala konsistensi, terutama dalam duel udara dan kecepatan saat transisi bertahan (recovery run).

Sektor Bek Sayap: Arief Catur dan Mikael Tata sering meninggalkan lubang besar saat membantu serangan, sehingga mudah dieksploitasi lawan melalui serangan balik.

Rachmat Irianto: Gelandang serba bisa ini membutuhkan partner bertipe sprinter agar ia bisa fokus pada distribusi bola tanpa harus selalu beradu lari dengan striker lawan.

Solusi Taktis: Duet "The Stopper and The Cover"

Sebagai langkah pembenahan, menduetkan bek bertipe jenderal lapangan seperti bek tengah PSM Makassar Yuran Fernandes dengan bek lokal atau asing bertipe sprinter menjadi solusi ideal. 

Yuran bisa berperan memenangi duel udara dan mengomandoi garis pertahanan, sementara bek sprinter bertugas menyapu bola (sweeping) saat lawan lolos dari jebakan offside.

Kombinasi ini akan memberikan keamanan bagi Pelatih Bernardo Tavares untuk tetap menerapkan high pressing tanpa takut terkena serangan balik mematikan.

Badai Cedera dan Kedalaman Skuad

Kekalahan semalam terasa kian berat karena Persebaya tampil "pincang". Sejumlah pilar utama absen dari lapangan maupun bangku cadangan:

Bruno Moreira: Masalah kebugaran membuat tim kehilangan motor kreativitas serangan.

Ernando Ari: Masih dalam tahap pemulihan, membuat koordinasi lini belakang sedikit goyah.

Leo Lelis: Absennya bek senior ini memperparah krisis duel udara di pertahanan.

Francisco Rivera: Bermain dalam kondisi tidak fit sehingga sempat melakukan kesalahan fatal.

“Kami sangat sedih karena kalah di kandang sendiri. Terlebih lagi karena saya melihat para pemain bekerja sangat keras. Tetapi inilah sepak bola,” ucap Coach Tavares dengan nada kecewa.

Situasi ini membuktikan bahwa kedalaman skuad menjadi masalah nyata bagi Bajol Ijo. Perombakan di sektor pertahanan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika Persebaya ingin tetap bersaing di jalur juara musim depan, terutama menyongsong laga tandang berat melawan Malut United dan Arema FC mendatang. (*)

Editor : Ibnu Yunianto
#lini pertahanan persebaya #BRI Super League #Persebaya Surabaya #madura united #Bernardo Tavares