RADAR BALI - Sektor tunggal putri bulutangkis Indonesia sempat melewati masa-masa paceklik gelar yang cukup panjang setelah era Susy Susanti dan Mia Audina berlalu.
Namun, secercah harapan besar muncul dalam diri Gregoria Mariska Tunjung.
Pemain yang akrab disapa Jorji ini sukses menanggung beban berat sebagai ujung tombak tunggal putri Indonesia, mengukir sejarah demi sejarah.
Jorji akhirnya menutup lembaran panjang 12 tahun perjalanannya di Pelatihan Nasional (Pelatnas) PBSI pada Mei 2026 karena vertigo yang dialaminya.
Awal Karir Sang Mutiara dari Wonogiri
Gregoria Mariska Tunjung lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, pada 11 Agustus 1999.
Bakat besarnya di dunia tepok bulu mulai tercium ketika ia bergabung dengan klub PB Mutiara Cardinal Bandung.
Di klub inilah kemampuan teknis dan mental bertanding Gregoria ditempa sejak usia dini. Dominasinya di level taruna dan sirkuit nasional membuatnya cepat dilirik oleh para pemandu bakat.
Pada medio 2014-2015, Gregoria mulai unjuk gigi di level internasional junior, termasuk memenangkan ajang Singapore International dan Indonesia International Challenge 2015 saat usianya baru menginjak 16 tahun.
Potensi menjanjikan inilah yang menjadi tiket emas bagi dirinya untuk melangkah ke gerbang Cipayung.
12 Tahun Karir di Pelatnas
Gregoria resmi bergabung dengan Pelatnas PBSI pada tahun 2014. Selama lebih dari satu dekade menghuni Cipayung, perjalanannya tidak selalu mulus.
Sebagai tunggal putri utama, ia sempat memikul beban ekspektasi publik yang sangat masif, yang tidak jarang memicu kritik ketika performanya mengalami pasang surut.
Namun, Pelatnas menjadi saksi transformasi Gregoria dari seorang pemain junior berbakat menjadi salah satu tunggal putri yang paling disegani di sirkuit elite dunia.
Di bawah asuhan para pelatih PBSI, ia berhasil mematangkan variasi pukulan deception (tipuan) yang menjadi ciri khasnya, sekaligus meningkatkan ketahanan fisiknya secara signifikan.
Puncak kematangannya di Pelatnas terlihat pasca-Olimpiade Tokyo 2020. Gregoria bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih tangguh secara mental, mampu keluar dari tekanan psikologis, dan secara konsisten menembus babak-babak akhir turnamen papan atas BWF.
Kebersamaan 12 tahun tersebut akhirnya resmi berakhir pada 15 Mei 2026, ketika PBSI mengumumkan pengunduran diri Gregoria dari Pelatnas demi fokus pada pemulihan kesehatan akibat gangguan vertigo parah yang dialaminya sejak Maret 2025.
Rentetan Pencapaian Emas untuk Bulutangkis Indonesia
Sepanjang karirnya, Gregoria telah menorehkan tinta emas yang akan selalu dikenang dalam sejarah bulutangkis Indonesia.
Berikut adalah beberapa pencapaian dan prestasi tertinggi yang berhasil diraihnya:
Tingkat Junior dan Internasional Awal
Juara Dunia Junior BWF 2017: Mengakhiri penantian 25 tahun tunggal putri Indonesia di ajang World Junior Championships setelah mengalahkan Han Yue (Tiongkok) di Yogyakarta.
Perak Kejuaraan Asia Junior 2016
Gelar BWF World Tour dan Peringkat Dunia
Juara Spain Masters 2023 (Super 300): Gelar BWF World Tour perdana dalam karirnya.
Juara Kumamoto Masters Japan 2023 (Super 500): Menaklukkan pemain-pemain elite dunia untuk meraih gelar Super 500 pertamanya.
Podium Beruntun di Jepang (2023–2025): Menunjukkan konsistensi luar biasa dengan mencetak hattrick podium di Kumamoto Masters Japan (Juara 2023, Runner-up 2024, dan Runner-up 2025).
Ranking 5 Dunia: Mencapai peringkat tertinggi dalam karir profesionalnya, sekaligus mengembalikan tunggal putri Indonesia ke jajaran lima besar dunia.
Prestasi Beregu dan Multi-Event
Medali Perunggu Olimpiade Paris 2024: Pencapaian paling prestisius yang sekaligus memutus kebuntuan medali tunggal putri Indonesia di Olimpiade sejak tahun 2008.
Runner-up Uber Cup 2024: Memimpin skuad srikandi merah putih sebagai tunggal pertama hingga berhasil menembus babak final.
Juara Asia Team Championships 2022 (Beregu Putri)
Medali Perak SEA Games 2019, 2021, dan 2025 (Beregu Putri)
Medali Perunggu Piala Sudirman 2019 & Asian Games 2018 (Beregu)
Melalui kerja keras dan dedikasinya yang luar biasa selama belasan tahun, Gregoria Mariska Tunjung tidak hanya berhasil menjawab keraguan publik, tetapi juga telah meletakkan kembali standar tinggi bagi prestasi tunggal putri Indonesia di kancah dunia.
Perjuangannya dari Wonogiri hingga meraih podium di Paris akan tetap menjadi salah satu cerita paling inspiratif dalam sejarah olahraga tanah air.***
Editor : Ibnu Yunianto