RADAR BALI – Oklahoma City Thunder sukses mengamankan kemenangan krusial pada Game 2 Final Wilayah Barat NBA setelah menumbangkan San Antonio Spurs dengan skor 122-113 di Paycom Center.
Kemenangan ini membuat kedudukan menjadi imbang 1-1, sekaligus membalas kekalahan menyakitkan mereka pada laga pembuka lalu.
Sebelumnya pada Game 1, laga klasik yang melelahkan sekaligus menegangkan tersaji di tempat yang sama.
Tuan rumah sekaligus juara bertahan, Oklahoma City Thunder, dipaksa menyerah oleh San Antonio Spurs dengan skor 115-122 melalui babak double overtime (dua kali perpanjangan waktu).
Kekalahan di Game 1 tersebut memutus rekor sembilan kemenangan beruntun Thunder di babak playoff sejak musim lalu, setelah sang megabintang Spurs, Victor Wembanyama, tampil bak monster dengan mengemas 41 poin, 24 rebound, dan 3 blok dalam waktu hampir 49 menit bermain.
Aksi heroik Wembanyama di Game 1 bahkan membuatnya memecahkan rekor legenda Kareem Abdul-Jabbar (1970) sebagai pemain termuda dalam sejarah NBA (22 tahun 134 hari) yang mampu membukukan minimal 40 poin dan 20 rebound dalam satu laga playoff.
Tidak hanya itu, Spurs yang tampil tanpa De'Aaron Fox akibat cedera pergelangan kaki kanan, mendapat suntikan performa luar biasa dari rookie Dylan Harper yang mencetak 24 poin dan memecahkan rekor steal playoff terbanyak dalam sejarah klub dengan 7 steal.
Sebaliknya, Game 1 menjadi mimpi buruk bagi efektivitas peraih MVP dua musim beruntun, Shai Gilgeous-Alexander (SGA), yang dibuat frustrasi oleh pertahanan berlapis Spurs dan hanya memasukkan 7 dari 23 tembakan.
Lini depan Thunder saat itu juga melempem karena Chet Holmgren dan Isaiah Hartenstein total hanya menyumbang 10 poin, membuat malam luar biasa Alex Caruso yang mencetak 31 poin (termasuk 8 tembakan tiga angka) serta kembalinya Jalen Williams lewat sumbangan 26 poin menjadi sia-sia.
Memasuki Game 2, Pelatih Thunder Mark Daigneault dipaksa memutar otak lebih keras guna meredam agresivitas Wembanyama. Strategi baru tersebut terbukti ampuh. SGA mengamuk dan tampil luar biasa sebagai motor serangan utama tuan rumah.
Pemain yang akrab disapa SGA tersebut menjadi bintang lapangan dengan menggelontorkan 30 poin, 9 asis, dan 4 rebound. Efektivitas serangan SGA di area pertahanan Spurs menjadi kunci utama untuk mempertahankan keunggulan sejak kuarter ketiga.
Selain SGA, kontribusi masif kembali datang dari bangku cadangan Thunder. Alex Caruso tampil sangat efisien dengan mencetak 17 poin dan 5 asis, disusul oleh performa solid sang rookie Jared McCain yang menyumbang 12 poin.
Di sektor pertahanan, Isaiah Hartenstein bangkit dari performa minor di laga pertama dan tampil dominan di bawah ring dengan mengamankan double-double lewat raihan 10 poin dan 13 rebound, sementara Chet Holmgren menambahkan 13 poin untuk mengunci kemenangan.
Di kubu tim tamu, San Antonio Spurs sejatinya memberikan perlawanan sengit. Rookie Stephon Castle menjadi pencetak angka terbanyak bagi Spurs dengan torehan 25 poin dan 8 asis.
Victor Wembanyama juga kembali mencatatkan statistik impresif berupa double-double dengan 21 poin, 17 rebound, serta 4 blok. Penembak jitu Devin Vassell turut memanaskan laga lewat lesatan 6 tembakan tiga angka demi menyumbang 22 poin.
Namun, petaka bagi Spurs di Game 2 hadir dari tingginya jumlah kesalahan sendiri. Pasukan Gregg Popovich tercatat melakukan banyak turnover, dengan Castle sendiri melakukan 9 kali kehilangan bola.
Momentum ini berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh transisi cepat dan pertahanan rapat yang digalang oleh barisan guard Thunder, termasuk Ajay Mitchell dan Cason Wallace yang masing-masing membukukan 4 kali steal.
Dengan hasil imbang 1-1 ini, momentum seri Final Wilayah Barat kini sedikit bergeser setelah Spurs sempat mencuri keunggulan laga kandang (home-court advantage) di gim pertama.
Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian berat bagi Oklahoma City Thunder, mengingat Game 3 dan Game 4 akan dimainkan di markas San Antonio Spurs, Frost Bank Center, Texas.***
Editor : Ibnu Yunianto