Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Final Piala Dunia 2026: Statistik dan Rekor Spanyol vs Argentina

Dhian Harnia Patrawati • Sabtu, 18 Juli 2026 | 21:07 WIB
Ilustrasi - Lionel Messi dan Lamine Yamal bakal berhadapan di Final Piala Dunia 2026 (generated by AI)
Ilustrasi - Lionel Messi dan Lamine Yamal bakal berhadapan di Final Piala Dunia 2026 (generated by AI)

 

RADAR BALI - Panggung tertinggi sepak bola dunia siap melahirkan sejarah baru. Pertandingan babak final Piala Dunia FIFA 2026 akan mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola modern yang kini menduduki peringkat teratas dunia.

Juara UEFA Euro, Spanyol, ditantang oleh penguasa Copa América sekaligus peringkat satu FIFA, Argentina. Laga penuh gengsi ini dijadwalkan berlangsung di Stadion MetLife pada Senin, 20 Juli 2026 pukul 03:00 WITA.

Secara latar belakang, bentrokan ini menyajikan kontras yang menarik. Dari sisi nilai pasar, skuad La Roja jauh mengungguli sang rival dengan taksiran komparatif mencapai EUR 1,47 miliar atau hampir 80 persen lebih tinggi daripada skuad La Albiceleste yang bernilai sekitar EUR 818 juta.

Kendati demikian, sejarah mencatat kekuatan keduanya berimbang. Dari 14 pertemuan di semua kompetisi, masing-masing tim mengemas 6 kemenangan dan 2 hasil imbang. Spanyol memang mendominasi dengan memenangi 4 dari 6 duel terakhir, namun motivasi Argentina dipastikan berlipat ganda demi memutus tren tersebut.

Pertempuran di lapangan hijau nanti dipastikan menjadi panggung duel antara lini serang paling produktif melawan lini pertahanan paling kokoh di turnamen ini.

Argentina datang ke final dengan modal daya gedor mengerikan lewat torehan 19 gol atau rata-rata 2,71 gol per laga, sebuah produktivitas tertinggi di Piala Dunia sejak 1970.

Agresivitas itu ditopang oleh kolektivitas operan yang mencapai 4.772 kali dengan akurasi tinggi, serta daya jelajah kolektif sejauh 813.091 meter.

Sebaliknya, Spanyol merupakan batu karang yang sangat sulit ditembus. Skuad asuhan Luis de la Fuente ini baru kebobolan 1 gol sepanjang turnamen, sekaligus menorehkan 343 kali forced turnovers untuk mematahkan serangan lawan sejak dini.

Ketangguhan kolektif ini juga mengiringi tren luar biasa La Roja yang memegang rekor 37 laga beruntun tak terkalahkan di semua kompetisi resmi.

Sorotan utama tentu tertuju pada duel individu antargenerasi. Di kubu Argentina, penyerang legendaris sekaligus Kapten Argentina Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun tampil fenomenal dengan memimpin perburuan sepatu emas lewat koleksi 8 gol dan 4 assist.

Sementara itu, Spanyol bertumpu pada vitalitas darah muda. Winger Spanyol Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun menjadi motor serangan utama dengan catatan 30 dribel sukses, tertinggi di turnamen ini.

Spanyol juga memiliki kekuatan merata melalui Penyerang Spanyol Mikel Oyarzabal yang menjadi top skor internal tim dengan 5 gol, serta Gelandang Spanyol Rodri yang bertindak sebagai dirigen permainan lewat 694 percobaan operan.

Di bawah mistar gawang, benteng terakhir kedua tim juga sangat krusial. Kiper Spanyol Unai Simon sempat menjaga kesucian gawangnya selama 650 menit sebelum dinodai Belgia di perempat final.

Sedangkan Kiper Argentina Emiliano Martinez menjadi pahlawan dengan menit bermain terlama, yakni 795 menit, termasuk saat mementahkan penalti di fase gugur.

Lebih dari sekadar trofi emas, laga di Stadion MetLife ini menjadi momentum pecahnya berbagai rekor fantastis. Bagi Lionel Messi, kemenangan akan menjadikannya kapten pertama dalam sejarah sepak bola yang mengangkat trofi Piala Dunia secara berturut-turut setelah edisi 2022.

Sang megabintang juga bersiap mempertajam rekor kemenangan laga Piala Dunia terbanyak sepanjang masa menjadi 23 kemenangan, memperbanyak koleksi golnya di angka 21 gol, serta memperpanjang rekor menit bermain yang kini di angka 2.724 menit.

Bagi tim, Argentina membidik status sebagai pemilik quadruple internasional pertama di dunia dengan menjuarai empat turnamen mayor beruntun sejak 2021, sekaligus menyamai koleksi 4 trofi Jerman dan Italia.

Di kubu seberang, jika mampu menjaga gawangnya bersih dari gol lawan di laga final, Spanyol akan resmi melampaui rekor pertahanan terbaik milik Prancis 1998 dan Italia 2006 yang kebobolan 2 gol dalam satu turnamen penuh.

Secara keseluruhan, format baru 48 tim pada edisi 2026 ini juga dipastikan menorehkan tinta emas sejarah baru.

Kompetisi tahun ini resmi menjadi Piala Dunia paling produktif dengan total gol melewati angka 290, serta memecahkan rekor kehadiran penonton terbanyak di stadion yang menembus angka 6,5 juta fans di seluruh Amerika Utara.

Guna memimpin jalannya laga dengan tensi dan gengsi setinggi ini, Komite Wasit FIFA menerapkan standar yang sangat ketat untuk menunjuk wasit utama serta perangkat Video Assistant Referee (VAR) terbaik berdasarkan evaluasi performa sepanjang turnamen demi menjaga integritas pertandingan akbar ini.***

Editor : Ibnu Yunianto
Sumber : Radar Bali
Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina Statistik Piala Dunia lionel messi lamine yamal