Mainstream ritme Piala Dunia biasanya begitu-begitu saja. Hanya itu -itu saja yang biasa terjadi. Meskipun begitu, di ajang Piala Asia dan Piala Eropa atau Euro Cup masih ada kisah kejutan.
Seperti saat final Piala Asia AFC 2007, 29 Juli 2007 di Stadion Bung Karno di Jakarta, Indonesia, Irak yang saat itu kondisi negaranya masih kacau, di luar dugaan ternyata mampu mengalahkan Arab Saudi 1-0 dengan gol dari Younis Mahmoud. Kemenangan ini mengamankan gelar Piala Asia pertama Irak.
Di Eropa, Yunani, meraih gelar internasional pertamanya usai menang 1-0 atas tuan rumah Portugal yang saat itu menjadi favorit kuat dan diperkuat oleh pemain terbaiknya, Cristiano Ronaldo! Bahkan, sebelumnya taka da seorang pun yang melirik Yunani bisa ke final!
18 tahun yang lalu, tepatnya pada 4 Juli 2004 silam, barisan kuda hitam dari Dewa-Dewa Yunani benar-benar memberi kejutan dan tampil sebagai juara Euro 2004 dengan mengalahkan tuan rumah Portugal.
Kali ini, hingga di tahun 2022 ini, setidaknya ada lima timnas yang pernah beruntun menembus final Piala Dunia. Yakni : Italia, Brasil, Belanda, Jerman Barat, dan Argentina. Prancis memiliki kesempatan jadi yang keenam di Piala Dunia Qatar 2022.
Juara Piala Dunia 2018 di Rusia itu hanya selangkah lagi mengisi slot final di Lusail Iconic Stadium pada Minggu (18/12) malam WIB.
Yaitu, apabila Les Bleus –sebutan Prancis– mampu membungkam kuda hitam Maroko dalam semifinal di Al Bayt Stadium, Al Khor, dini hari nanti (siaran langsung SCTV/Indosiar/Vidio/Champions TV World Cup 1 pukul 02.00 WIB).
”Ketika Anda menghadapi tim yang telah mengalahkan Belgia, Spanyol, dan Portugal, saat itulah Anda menyadari seberapa kuat mereka (Maroko),” kata kiper sekaligus kapten Prancis Hugo Lloris dalam pre-match press conference seperti dilansir Foot Marseille tadi malam (13/12) WIB.
”Saya dapat membayangkan kami berada di situasi yang kurang bersahabat.’’
Lloris yang berstatus pemain dengan laga terbanyak Les Bleus (143 caps) usai perempat final kontra Inggris (11/12) pun teringat Italia di Piala Dunia 2006.
Italia hanya kemasukan satu gol sebelum melaju ke final. Sama seperti sepak terjang Maroko di Piala Dunia tahun ini.
Satu-satunya gol yang membobol gawang Gianluigi Buffon kala itu bukan dari lawan, melainkan gol bunuh diri bek Italia Cristian Zaccardo saat fase grup.
Nah, gol yang bersarang ke gawang Maroko juga karena gol bunuh diri bek tengah Nayef Aguerd.
Kabar bagus bagi Prancis, tandem Aguerd sekaligus kapten tim Romain Saiss diprediksi menyusul absen karena cedera hamstring. Aguerd sebelumnya sudah cedera pangkal paha.
Bek kiri Noussair Mazraoui juga bermasalah dengan pinggul flexor. Alhasil, hanya bek kanan Achraf Hakimi sebagai satu-satunya pilihan starting XI di lini pertahanan yang dalam kondisi fit.
Situasi yang diklaim menguntungkan Les Bleus, tetapi direspons oleh entraineur Didier Deschamps dengan biasa-biasa saja.
Deschamps beralasan, Maroko bukan tim yang bergantung pada kualitas individu. ”Sistem pertahanan mereka disiplin dan kompak.
Saya tidak berpikir kami akan menjalani laga lebih mudah hanya karena ada pemain mereka yang absen,’’ tutur Didi –sapaan akrab Deschamps– kepada RMC Sport.
Deschamps menambahkan, gaya main Maroko saat ini sedikit ada kemiripan dengan Prancis saat menjuarai Piala Dunia 2018. Yakni, tidak dominan dalam penguasaan bola.
Taktik yang bisa menjebak lawan dengan penguasaan bola bagus untuk bernafsu menyerang dan kemudian lengah ketika menerima serangan balik.
”Yang penting bukan itu (permainan bagus). Yang penting adalah kami bisa memenangi semifinal,’’ ucap tactician Maroko Walid Regragui seperti dilansir 20minutes.
”Saya ingin merasakan atmosfer laga final Piala Dunia. Saya berharap Prancis tidak menghormati kami (bermain hati-hati, Red),’’ tambah pelatih yang notabene kelahiran Prancis tersebut. [JPG/jawapos.com]
Editor : Hari Puspita