Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Terjungkal, KONI Tabanan Kritik Penyelenggara PORJAR soal Skema Pertandingan, Begini Kicauannya

I Wayan Widyantara • Selasa, 11 Juni 2024 | 13:10 WIB

 

OTOKRITIK: Ketua KONI Tabanan I Made Nurbawa
OTOKRITIK: Ketua KONI Tabanan I Made Nurbawa

TABANAN, radarbali.id – PORJAR Bali tahun 2024 memang sudah selesai. Momen kejuaraan antar pelajar di daerah pun di tutup dengan Kota Denpasar yang menjadi juara Umum dalam ajang yang digelar dalam 1 tahun sekali itu.

Memang tak ada kejutan di posisi tiga besar kabupaten/kota yang berada di papan atas. Denpasar, Badung dan Buleleng. Namun persaingan di papan tengah, seperti Gianyar, Klungkung dan Tabanan selalu seru karena jumlah emas yang dikumpulkan berbeda tipis.

Salah satu yang menarik, adalah Tabanan. Porjar kali ini mereka harus rela berada di posisi 6 dengan raihan 45 emas, 63 perak dan 117 perunggu. Atlet pelajar di gumi lumbung padi ini harus rela berada di bawah Gianyar dan juga Klungkung.

“Jumlah 45 emas yang di dapat Tabanan itu sangat presisi. Sejak awal saya sudah memprediksikan jumlah emas yang di dapat itu 40 sampai 45 emas dengan posisi peringkat 5 atau 6, ternyata menang benar berada di peringkat 6,” kata Made Nurbawa, selaku Ketua KONI Tabanan kemarin.

Bagi Nurbawa, raihan peringkat dan medali emas yang didapatkan atlet pelajar Tabanan merupakan potret nyata dalam proses pembinaan.

“Bagi kami, raihan 45 tersebut sudah maksimal sesuai dengan analisa dan kajian dan kami juga meyakini kabupaten lain yang berada di atas kami juga melakukan persiapan yang matang juga,” ujarnya.

Bahkan Ia secara gambling menyebut, nanti di tingkat Porprov pun urutan di Porjar tahun ini tak akan beda jauh. Sebab, peringkat di Porjar tahun ini menjadi kondisi objektif kondisi olahraga dan prestasi di provinsi Bali. “Saya pikir, hasil Porjar ini dapat jadi acuan untuk Porprov 2025 mendatang,” ujarnya.

Namun bukan berarti KONI Tabanan berhenti sampai di sini. Pihaknya tetap melakukan monitoring dan kajian untuk memberikan masukan, cabor-cabor mana yang akan digenjot kembali untuk Porjar 2025 nanti yang juga di tahun yang sama dilakukan Porprov.

“Kami sudah mencatat beberapa cabor yang perlu digenjot pembinaannya,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah mencatat beberapa koreksi terkait penyelenggaraan. Misalnya, ada sejumlah cabor yang meraih medali emas, namun secara target score belum standar provinsi atau internasional. Ukuran perolehan emas tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan capaian target prestasi.

Ia mencontohkan di cabor atletik. Meski Tabanan meraih 4 medali emas, tetapi pihaknya meraih satu emas yang mencapai standar score provinsi.

“Jadi kami melihatnya bukan dari banyak-banyakan emas, tetapi melihatnya dari kelembagaan cabor, peran koordinator disdikpora dan banyak hal lainnya yang kami evaluasi,” ujarnya.

Tak kalah pentingnya adalah bagaimana skema pertandingan yang terkait dengan nomor-nomor pertandinga. Sebab, jangan sampai ada kesan nomor-nomor pertandingan tersebut hanya mengikuti kekuatan salah satu kabupaten/kota.

Harusnya, memperhatikan kekuatan seluruh kabupaten Kota di Bali dalam proses penyelenggaraan pertandingan.

“Jika begitu nanti, sebaran atlet-atlet di Kabupaten Kota nanti akan tenggelam oleh sistem, bukan oleh kompetisi yang sehat. Hal ini menyangkut manajemen pertandingan, misalnya Badung dan Denpasar kuat dinomor tertentu kemudian distatuskan resmi. Atau Tabanan, rugbynya yang kuat, tetapi distatuskan ekhsebisi. Model-model seperti ini perlu kita koreksi karena Porjar merupakan pembibitan untuk bisa membela Bali di PON,” harapnya.***

Editor : M.Ridwan
#pertandingan #2024 #KONI Tabanan #Porjar Bali