DENPASAR, Radarbali.id – Komunitas Kedokteran Doyan Run (KedoDoRun) Bali merayakan ulang tahunnya yang pertama dengan menggelar kegiatan Mini Race bertajuk Run Fast with Safe Heart Rate, pada Minggu pagi (17/11/2024) di Area Naga Eight, Sanur, Denpasar.
Ratusan peserta dari kalangan dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, mahasiswa kedokteran dan gigi, serta tenaga kesehatan lainnya melakukan pemanasan diri sebelum berlari dengan jarak 8 Km.
KedoDoRun merupakan komunitas yang mengajak para profesional kedokteran untuk lari, sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan jantung. Didirikan di tingkat nasional 13 tahun lalu di Bandung, komunitas ini kini hadir di Bali dengan lebih dari 200 anggota.
”Kami tidak memberlakukan syarat khusus untuk bergabung sebagai anggota komunitas, yang penting adalah peserta merupakan bagian dari dunia kedokteran atau mahasiswa kedokteran,” ujar I Gusti Ngurah Maha Alit Arimbawa, Ketua KedoDoRun Chapter Bali saat ditemui usai berlari.
Uniknya, dalam mini race ini, penentuan pemenang tidak hanya berdasarkan waktu tercepat. Peserta dihitung dengan poin yang diperoleh dari hasil perkalian waktu tempuh dan denyut jantung mereka.
Konsep ini dirancang untuk menekankan pentingnya berlari dengan mempertimbangkan kondisi tubuh, khususnya jantung.
”Kami ingin para peserta memahami bahwa berlari tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan dan keselamatan tubuh,” ujar Alit yang juga ahli di bidang anestesi ini.
Dengan sistem ini, semakin cepat waktu tempuh dengan denyut jantung yang lebih rendah akan menghasilkan poin yang lebih kecil, dan poin terkecil inilah yang akan menjadi juara. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi peserta agar berlari dengan aman, tanpa memaksakan diri, dan mengenali batas kemampuan tubuh masing-masing.
Alit memberikan pesan penting kepada masyarakat, terutama pelari pemula, untuk selalu waspada terhadap kesehatan jantung. ”Sering kita dengar ada pelari yang mengalami kolaps karena terlalu memaksakan diri. Oleh karena itu, penting untuk berolahraga dengan bijak, mengenali kondisi tubuh, dan tidak berlari hanya untuk kecepatan,” tegasnya.
Tahun depan, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh kalangan kedokteran, namun juga terbuka untuk umum agar lebih banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya berolahraga dengan cara yang aman dan sehat.
”Berlari bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang persiapan yang matang dan menjaga kesehatan jantung,” pungkasnya.
Dengan semakin berkembangnya KedoDoRun di Bali, komunitas ini berharap dapat menjadi contoh bagi masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat yang seimbang. (***)
Editor : Maulana Sandijaya