DENPASAR, Radar Bali.id - Sikap tidak fairplay muncul lagi. Aroma tak sedap menguat dari pelaksanaan drawing babak 64 besar Liga 4 Indonesia. Sebuah proses yang seharusnya menjadi simbol transparansi dan sportivitas, justru menuai kontroversi.
Video yang viral di media sosial memperlihatkan kejanggalan, di mana petugas pengundian tampak menyembunyikan kertas undian di bawah meja sebelum mengumumkan hasilnya. Kejadian itu memicu spekulasi publik akan adanya manipulasi.
Reaksi keras datang dari berbagai pihak, termasuk Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Federasi tertinggi sepak bola nasional itu menilai peristiwa tersebut mencederai semangat fair play dan merusak kepercayaan terhadap sistem kompetisi sepak bola tanah air.
Kapten Perseden Denpasar, Made "Mucin" Antha Wijaya pun ikut angkat bicara. Dihubungi Jawa Pos Radar Bali kemarin, ia tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
”Ya bagai mana lagi. Kami harus terima keputusan ketua PSSI. Semoga drawing berikutnya bersifat adil seadil-adilnya," ungkap Mucin, yang juga menjadi pahlawan kemenangan Perseden dalam final Liga 4 regional Bali.
Kekecewaan itu cukup beralasan. Berdasarkan hasil undian yang kontroversial tersebut, Perseden tergabung dalam Grup O bersama PSHW UMY (Yogyakarta), PERSLUTIM (Sulawesi Selatan), dan PERSITAL (Gorontalo). Namun, karena kejanggalan yang terjadi, PSSI memutuskan untuk mengulang proses drawing.
Drawing ulang dijadwalkan pada Senin, 14 April 2025, dan akan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi PSSI pukul 15.00 WITA. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen PSSI untuk menjaga integritas dan transparansi dalam kompetisi.
Perseden sendiri tengah berada dalam euforia usai menjuarai Liga 4 regional Bali. Pada Minggu, 19 Januari 2025, mereka menaklukkan rival abadi, PS Badung, dengan skor 2-0 di Lapangan Banteng, Seminyak. Made "Mucin" Antha Wijaya dan Muhammad Angga Renaldy menjadi pencetak gol dalam laga penuh gengsi tersebut.
Namun kini, euforia itu terancam tercoreng oleh polemik yang seharusnya tak perlu terjadi. Para pemain, pelatih, hingga suporter berharap insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara. [*]
Editor : Hari Puspita