Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sukses Hancurkan Timnas Indonesia, Begini Cara Jepang Membangun Sepak Bola

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 11 Juni 2025 | 02:42 WIB

BUAH KONSISTENSI - Pemain timnas Jepang merayakan gol ke gawang Timnas Indonesia di putaran putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
BUAH KONSISTENSI - Pemain timnas Jepang merayakan gol ke gawang Timnas Indonesia di putaran putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

RADAR BALI - Tim Nasional Indonesia kembali dihadapkan dengan kekuatan sepak bola Jepang dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Pertandingan yang berlangsung di Suita City Stadium pada Selasa (10/6/2025) pukul 17.35 WIB ini menjadi bukti bagaimana Jepang telah menjelma menjadi raksasa Asia, jauh meninggalkan rival lamanya, Indonesia.

Jepang sendiri sudah dipastikan lolos ke Piala Dunia 2026, sementara Indonesia melaju ke babak 4 Kualifikasi.

Meski demikian, rekor pertemuan kedua tim punya cerita tersendiri. Dari 17 pertandingan, Indonesia pernah mencatatkan lima kemenangan, 10 kekalahan, dan dua hasil imbang.

Bahkan, di era 1950-1980-an, Tim Garuda sempat mendominasi dengan kemenangan telak 7-0 atas Jepang B pada Turnamen Merdeka 1968.

Kala itu, Sutjipto Suntoro menjadi bintang dengan torehan hattrick, didukung oleh Jacob Sihasale, Abdul Kadir, dan Surya Lesmana.

Indonesia di era tersebut memang diperkuat nama-nama legendaris seperti Ronny Pasla, Aji Santoso, Ronny Pattinasarani, dan Rully Nere, yang membuat kekuatan sepak bola Tanah Air menonjol di Asia.

Namun, laju perkembangan sepak bola Jepang yang begitu pesat telah mengubah peta kekuatan. Jepang kini menjadi tim Asia yang langganan berlaga di Piala Dunia dan menduduki peringkat satu FIFA zona Asia.

Bagaimana Jepang bisa mencapai titik ini dalam 25 tahun terakhir? Berikut ulasannya.

Pondasi Kokoh: Turnamen Antar-Sekolah Menengah 

Salah satu pilar utama kesuksesan sepak bola Jepang adalah fondasi kuat yang dibangun dari turnamen antar-sekolah menengah dan sepak bola akar rumput.

Momen penting terjadi pada tahun 1993 dengan terbentuknya J-League, sebuah liga profesional yang menjadi jawaban atas kemandekan sepak bola di Negeri Sakura.

Meskipun J-League telah berdiri tegak selama tiga dekade, sepak bola amatir tetap memiliki tempat istimewa.

Turnamen yang melibatkan tim sepak bola tingkat sekolah menengah selalu menarik perhatian publik, menunjukkan tingkat keterlibatan yang jarang tertandingi di negara lain.

Uniknya, kegiatan klub ekstrakurikuler sekolah ini seringkali lebih bersifat rekreasi. Bagi pemain yang mencari kompetisi, akademi klub lokal menjadi pilihan utama.

Namun, bermain di sekolah juga menjadi jalur penting. Beberapa sekolah bahkan memiliki lebih dari 100 anggota dengan persaingan ketat.

Contoh nyata adalah legenda Jepang Keisuke Honda, yang justru menonjol di sekolah menengah atas setelah gagal menembus tim U-18 Gamba Osaka.

Ia mengasah keterampilan dan menempa kariernya di Sekolah Menengah Atas Seiryo.

Sepak Bola Universitas Jadi Batu Loncatan

Yang membuat pengembangan sepak bola Jepang semakin unik adalah peran sepak bola universitas.

Standar persaingan di level ini sangat tinggi, mendekati level semi-profesional.

Nama-nama besar seperti Kaoru Mitoma (Brighton) dan Kyogo Furuhashi (Celtic) adalah bukti nyata, keduanya berasal dari tingkat universitas sebelum bermain di Eropa dan tim nasional.

Fakta menarik lainnya, sembilan pemain skuad Piala Dunia 2022 berasal dari kampus.

Junya Ito bahkan memilih masuk tim universitas daripada akademi sepak bola sebelum memulai karier profesionalnya di J-League.

Keuntungan utama dari jalur pendidikan tinggi ini adalah lebih banyak pertandingan resmi dibandingkan pemain baru J-League, dengan level permainan yang setara dengan tim J-League 2 dan J-League 3.

Tidak mengherankan jika Jepang berhasil memenangkan Universiade (turnamen yang diselenggarakan oleh Federasi Olahraga Universitas Internasional/FISU) sebanyak tujuh kali, termasuk pada tahun 2017 dan 2019.

Ini menunjukkan kualitas dan persaingan sepak bola level universitas yang sangat tinggi.

Meskipun kompetisi ini adalah laga persahabatan, intensitas dan keterampilan yang ditampilkan sebanding dengan standar klub profesional, menjadikannya kompetisi resmi yang sengaja dibuat untuk membina pemain.

Banyak calon pemain bola di Jepang menganggap level universitas sebagai batu loncatan menuju karier profesional.

Hubungan antara pendidikan dan olahraga merupakan komponen utama dalam pengembangan sepak bola Jepang.

Baik di tingkat sekolah menengah maupun universitas, pendidikan tetap menjadi landasan penting. Dorongan terbesar adalah penekanan pada pembinaan karakter manusia.

Pemain sepak bola universitas, misalnya, memiliki lebih banyak ruang untuk memperluas wawasan daripada rekan-rekan profesional mereka yang hanya mementingkan hasil.

Dengan latar belakang akademis, mereka memiliki waktu untuk merenungkan jalan hidup, menetapkan tujuan, dan area yang perlu ditingkatkan, sehingga bisa mencapai tujuan dengan cara yang lebih holistik.

Keuntungan inilah yang menjelaskan mengapa beberapa pemain Jepang memilih bermain di level sepak bola universitas terlebih dahulu, bahkan jika ditawari kontrak profesional.

Kaoru Mitoma, misalnya, menolak tawaran kontrak dari Kawasaki Frontale setelah lulus sekolah menengah dan memilih kuliah di Universitas Tsukuba.

Keputusan ini, meskipun dianggap sebagai langkah mundur oleh banyak pihak, justru memberinya waktu dan ruang untuk menyempurnakan kemampuan menggiring bolanya, bahkan membuatnya melakukan penelitian mendalam tentang aspek ini.

Dunia akademik pada akhirnya membantu Mitoma meningkatkan kariernya di kemudian hari.

Sepak bola universitas Jepang telah melampaui ranah amatirisme. Olahraga ini telah menjadi ekosistem tempat banyak bakat paling cemerlang mencari peluang untuk tumbuh dan mencapai potensi penuh di panggung profesional.

Meskipun ada ruang untuk perbaikan, ini tetap menjadi komponen utama dalam jalur produksi bakat sepak bola Jepang.

Konsistensi Filosofi dan Pembinaan Berjenjang

Jepang memiliki pendekatan terstruktur dalam pelatihan sepak bola, membagi pelatihan ke dalam beberapa tahap untuk memastikan pemain menerima dukungan yang tepat di setiap usia perkembangan:

Sepak bola Jepang meyakini bahwa sistem saraf manusia berkembang paling cepat di usia sekolah dasar, di mana otak mencapai 90 persen dari kapasitas orang dewasa.

Fokus utama pada usia ini adalah membiarkan anak-anak menikmati olahraga, mempertahankan fokus, berlatih singkat namun intensif, dan memperoleh lebih banyak keterampilan. Akurasi lebih diutamakan daripada kekuatan.

Fase sekolah menengah pertama adalah masa yang sulit, di mana performa pemain dapat fluktuatif.

Pelatih berperan penting untuk membantu mempertahankan dan meningkatkan kemampuan serta menstabilkan kondisi psikologis mereka.

Misi utama pada tahap sekolah dasar dan menengah pertama adalah menumbuhkan minat siswa, mengajarkan teknik dan taktik dasar, dan berpartisipasi dalam pertandingan yang sesuai.

Tujuan utama fase sekolah menengah atas adalah memantapkan keterampilan melalui pertandingan dan mempersiapkan pemilihan bakat ke jenjang profesional.

Ekspor Pemain ke Eropa: Bukti Kualitas

Saat ini, 23 dari 27 pemain yang dipanggil pelatih Hajime Moriyasu ke Timnas Jepang berasal dari klub-klub Eropa, menunjukkan betapa masifnya ekspor pemain Jepang ke benua biru.

Mereka tersebar di liga-liga top seperti Inggris, Italia, Jerman, dan Spanyol, hingga liga-liga lain seperti Belgia, Portugal, dan Skotlandia.

Liga Inggris menjadi penyumbang pemain terbanyak, dengan Wataru Endo (Liverpool) dan Kaoru Mitoma (Brighton & Hove Albion) menjadi bintang utama.

Disusul oleh Liga Belgia, Liga Prancis, dan Liga Skotlandia yang masing-masing mengirimkan tiga pemain. Liga Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Portugal, dan Swiss juga turut menyumbang pemain. Hanya empat pemain yang bermain di J1 League.

Fenomena banyaknya pemain Jepang yang berkarier di Eropa ini bukan kebetulan. Ada beberapa faktor yang membuat mereka unggul dan menjadi pilihan utama klub-klub Eropa:

  1. Mentalitas dan Etos Kerja: Pemain Jepang dikenal dengan etos kerja yang luar biasa. Bagi mereka, tidak ada istilah setengah-setengah; mereka akan berusaha jauh lebih keras untuk menggapai mimpi.
  2. Kualitas Federasi dan Kompetisi: Federasi sepak bola Jepang yang berkualitas dan diisi oleh individu kredibel telah melahirkan kompetisi profesional seperti J-League. Konsistensi klub-klub J-League di AFC Champions League adalah buktinya.
  3. Ekspansi Pasar: Selain kemampuan teknis, kehadiran pemain Jepang juga memberikan dampak bisnis yang besar bagi klub Eropa, membantu mereka menembus pasar Asia.
  4. Pemahaman Taktikal: Sejak usia dini, pemain Jepang sudah dibekali pengetahuan taktik dasar, memudahkan mereka beradaptasi dengan skema permainan sepak bola Eropa yang rumit dan kompleks.
  5. Harga Terjangkau: Di tengah inflasi harga pemain yang tidak masuk akal, pemain Jepang menawarkan kualitas teknik yang kompetitif dengan harga yang lebih terjangkau, menjadikan mereka pilihan menarik bagi klub-klub Eropa.

Berbagai faktor ini telah membuat pemain Jepang menjadi andalan di Eropa dan menempatkan Jepang sebagai "Cahaya Asia" di kancah sepak bola dunia.

Jumlah mereka di liga-liga Eropa kemungkinan akan terus bertambah, menegaskan status Jepang sebagai kekuatan yang tak lagi bisa dianggap remeh. ***

Editor : Ibnu Yunianto
#kaoru mitoma #Suita City Football Stadium #Suita City Stadium #indonesia vs jepang #jepang #j-league #Hajime Moriyasu #piala dunia #Timnas vs jepang #wataru endo