RadarBali.id- Puncak kompetisi basket pelajar paling bergengsi, Honda DBL with Kopi Good Day 2025 Bali Series, berakhir dengan kejutan. SMAN 2 Denpasar (Resman) berhasil merengkuh gelar juara setelah mengalahkan rival abadi mereka, SMAN 1 Denpasar (Smansa), dengan skor akhir 63-49. Kemenangan ini memutus dominasi Smansa yang telah menjadi juara selama dua musim berturut-turut.
Pertandingan yang digelar Sabtu, 16 Agustus 2025, di GOR Purna Krida ini bukan hanya menjadi ajang unjuk gigi para pemain, tetapi juga menjadi cerminan dari tantangan yang dihadapi oleh para pelatih di balik layar.
Keterbatasan yang Jadi Kekuatan
Pelatih Resman, Anton Purwo, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Meskipun harus menghadapi keterbatasan waktu persiapan, anak asuhnya berhasil tampil gemilang.
“Persiapan kami tidak maksimal. Setelah ikut Kejurnas, waktu efektif latihan kami hanya sekitar dua minggu sebelum DBL,” ungkap Anton. “Tapi kami manfaatkan waktu itu dengan baik.”
Menurutnya, kunci kemenangan timnya adalah kekompakan dan pemahaman antar pemain yang sudah terjalin erat. “Mereka sudah bermain bersama sejak tahun lalu. Strategi kami lebih mengandalkan kekuatan individu karena mereka sudah saling memahami karakter masing-masing. Itu yang membuat permainan jadi lebih efektif,” jelasnya.
Smansa Gagal Three-peat Karena Kendala Non-Teknis
Di sisi lain, kekalahan Smansa ternyata dipengaruhi faktor di luar lapangan. Pelatih Smansa, Yudi Hartawan, mengakui timnya tampil tidak optimal karena absennya dua pemain inti yang harus bergabung dengan tim nasional.
“Kami sudah merencanakan 12 pemain, tapi dua di antaranya dipanggil timnas menjelang final,” kata Yudi. “Kami harus mengubah strategi dan itu berpengaruh besar pada kestabilan tim.”
Meski gagal mencetak three-peat, Yudi tetap mengapresiasi kerja keras para pemainnya. “Ini tahun keempat saya melatih tim. Dua tahun terakhir kami juara, dan meski kali ini kalah, saya tetap menganggap pencapaian mereka luar biasa, apalagi ada pemain yang masih duduk di kelas satu,” tambahnya.
Baca Juga: Best 5 Azarine DBL Dance Competition 2025 Bali: Kreativitas dan Cerita yang Memukau Penonton
Evaluasi DBL dan Masa Depan Basket Pelajar
Lebih dari sekadar hasil pertandingan, kedua pelatih sepakat bahwa jadwal kompetisi DBL harus lebih diselaraskan dengan agenda basket nasional.
“DBL adalah ajang yang paling ditunggu. Sayangnya, tahun ini pelaksanaannya dimajukan dari biasanya September atau Oktober menjadi Agustus. Tidak semua tim siap,” keluh Yudi.
Anton juga berharap DBL bisa memiliki seri pertandingan yang lebih panjang, seperti yang diterapkan di Jawa Timur atau Jakarta. “Sistem gugur membuat tim yang kalah langsung gugur. Tim besar juga butuh jam terbang lebih banyak,” ujarnya.
Mereka berharap penyelenggara DBL dapat mengevaluasi dan merencanakan kompetisi tahun depan dengan lebih matang. Hal ini penting untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi para pelajar dan pelatih untuk berkembang.
“Agar kualitas DBL Bali meningkat, semua pihak harus dilibatkan dalam perencanaan, termasuk pelatih dan sekolah,” tutup Anton.[*]
Editor : Hari Puspita