Kesuksesan Borneo FC menyapu bersih lima laga awal Liga Super Indonesia musim 2025/26 tak pelak menuai sorotan publik sepak bola nasional. Tim berjuluk Pesut Etam itu tampil konsisten dengan mengoleksi poin penuh, seolah ingin menegaskan bahwa mereka adalah salah satu kekuatan baru yang harus diperhitungkan. Namun, di balik rangkaian hasil positif tersebut, cibiran dari warganet tetap tak kunjung reda.
Banyak netizen berkomentar bahwa keberhasilan Borneo FC belum bisa dijadikan ukuran sesungguhnya, lantaran mereka dianggap belum berhadapan dengan tim-tim besar. Sindiran itu bahkan ramai bergulir di media sosial, menciptakan opini bahwa kemenangan Pesut Etam hanya sementara.
Namun, manajer tim Dandri Dauri dengan tenang menyikapi cibiran tersebut. Baginya, komentar miring hanyalah bumbu dari perjalanan sebuah tim besar menuju puncak prestasi. “Pertama, yang ingin saya tanyakan, tim besar itu kategorinya seperti apa? Biar kami juga bisa belajar untuk menjadi tim besar,” ujar Dandri dalam sebuah pernyataan resmi.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sindiran balik bagi pihak yang meremehkan kiprah tim asal Samarinda ini. Dandri menegaskan bahwa Borneo FC justru semakin tertantang dengan pandangan miring tersebut. “Kalau kami masih dianggap kecil, maka biarlah itu jadi motivasi. Justru di sinilah menariknya. Perlahan kami ingin membuktikan bahwa Pesut Etam bukan tim yang bisa diremehkan,” tegasnya.
Mental Jadi Senjata Utama
Dalam sepak bola modern, strategi dan taktik memang menjadi faktor penting. Namun, menurut Dandri, mentalitas adalah pondasi utama. Ia mencontohkan laga Borneo FC melawan Persis Solo beberapa waktu lalu, di mana publik lebih banyak mengunggulkan tim lawan. Hasilnya? Pesut Etam justru mampu tampil gemilang dan keluar sebagai pemenang.
Dandri menekankan bahwa pengelompokan tim besar dan kecil tidak bisa hanya dilihat dari posisi klasemen atau nama besar semata. Sepak bola adalah dunia yang penuh kejutan, drama, dan ketidakpastian. Tim yang dianggap lemah bisa saja menjungkalkan tim unggulan jika mampu menjaga fokus dan konsistensi.
“Bagi kami, semua partai siapa pun lawannya adalah final,” ungkap Dandri. Kalimat itu menegaskan filosofi Borneo FC dalam menjalani kompetisi musim ini. Setiap laga harus diperlakukan serius, tanpa memandang besar kecilnya lawan yang dihadapi.
Kritik sebagai Bahan Bakar Motivasi
Sindiran netizen memang tidak bisa dihindari. Apalagi di era digital, setiap langkah tim profesional selalu berada dalam sorotan. Namun, alih-alih larut dalam komentar negatif, Borneo FC menjadikan kritik sebagai bahan bakar untuk menambah semangat.
Hal ini juga sejalan dengan tren sepak bola global, di mana klub-klub besar seperti Real Madrid, Liverpool, atau Manchester City juga kerap jadi sasaran komentar miring ketika mengalami penurunan performa. Bedanya, tim besar selalu punya cara untuk menjawab keraguan publik dengan penampilan di lapangan.
Borneo FC tampaknya ingin mengambil pelajaran dari situasi tersebut. “Kami tidak mau terjebak dengan komentar luar. Fokus utama adalah bagaimana menjaga ritme permainan dan terus mengoleksi poin,” jelas Dandri.
Perjalanan Menuju Status ‘Tim Besar’
Meski masih dianggap tim “kecil” oleh sebagian publik, perjalanan Borneo FC menunjukkan arah yang positif. Dengan dukungan finansial yang stabil, akademi yang berkembang, serta manajemen yang solid, Pesut Etam berpeluang besar menjelma menjadi kekuatan dominan di kancah sepak bola nasional.
Borneo FC juga berhasil mempertahankan sejumlah pemain kunci dan mendatangkan amunisi baru yang membuat skuad mereka semakin kompetitif. Konsistensi lima kemenangan awal adalah bukti bahwa tim ini tidak hanya sekadar mengejutkan, melainkan benar-benar siap bersaing di papan atas.
Di balik itu, semangat kerja keras, disiplin, dan mentalitas juara menjadi modal berharga. Mereka ingin membuktikan bahwa predikat “tim besar” tidak datang dari nama semata, tetapi dari hasil nyata di lapangan.
Suporter sebagai Energi Tambahan
Peran suporter juga tak bisa dikesampingkan. Borneo FC memiliki basis pendukung setia yang selalu memberikan dukungan penuh, baik di Stadion Segiri maupun laga tandang. Dukungan ini menjadi energi tambahan bagi para pemain untuk tampil penuh semangat.
Meski cibiran datang dari luar, loyalitas suporter membuat tim tetap percaya diri. Hal ini menciptakan atmosfer positif di ruang ganti, di mana setiap pemain merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik.
Menatap Tantangan Berikutnya
Musim masih panjang, dan jalan menuju gelar juara tentu penuh lika-liku. Lawan-lawan tangguh sudah menanti di depan mata, termasuk tim-tim papan atas yang selama ini dianggap lebih “besar.” Namun, Borneo FC tampaknya siap menghadapi semua itu.
Bagi Dandri Dauri, yang terpenting bukanlah siapa lawan yang dihadapi, melainkan bagaimana menjaga fokus dan mentalitas tim. “Kalau bicara tim besar, kami juga ingin dianggap bagian dari mereka. Tapi cara mencapainya ya dengan membuktikan di lapangan, bukan lewat kata-kata,” ujarnya.
Dengan filosofi bahwa setiap laga adalah final, Borneo FC bertekad menjaga tren positif mereka. Target utama jelas: konsistensi dan pembuktian bahwa cibiran hanya akan menjadi cerita kecil di balik perjalanan besar mereka.
Kesimpulan
Sindiran netizen bahwa kemenangan Borneo FC belum teruji karena belum melawan tim besar memang menjadi perbincangan hangat. Namun, manajer Dandri Dauri memilih untuk menjadikannya motivasi, bukan beban. Bagi Borneo FC, komentar miring hanyalah ujian kecil dalam perjalanan panjang menuju status “tim besar” yang sesungguhnya.
Dengan lima kemenangan beruntun, Pesut Etam telah menunjukkan bahwa mereka punya kualitas dan mentalitas. Perjalanan masih panjang, tetapi semangat juang mereka jelas tak bisa diremehkan. Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Borneo FC menjawab cibiran itu—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan aksi nyata di atas lapangan hijau.
Editor : Siti Patimah