JAKARTA, RadarBali.id – Indonesia mengambil sikap tegas dengan menolak pemberian visa bagi atlet senam Israel yang seharusnya berkompetisi di Kejuaraan Senam Artistik Dunia di Jakarta bulan ini.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari Federasi Senam Israel, yang menyebut langkah Indonesia "keterlaluan" dan secara resmi mengajukan banding mendesak ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
Penolakan visa ini dilakukan di tengah gelombang protes di Indonesia terhadap serangan militer Israel di Jalur Gaza. Akibatnya, pesenam top Israel, termasuk peraih medali emas Olimpiade Artem Dolgopyat, terancam kehilangan tempat di ajang kualifikasi dunia tersebut.
Sikap Tegas Indonesia Sejalan Arahan Presiden
Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menyatakan sikap pemerintah sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang sebelumnya menyampaikan pidato di PBB terkait konflik Palestina.
"Pemerintah tegas serta konsisten tak akan berikan visa ke keenam [pesenam] Israel," ujar Yusril dalam keterangannya, Senin (13/10/2025).
Yusril menegaskan bahwa Indonesia tidak akan melakukan kontak diplomatik dengan Israel sampai negara tersebut mengakui negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Sikap ini, lanjut Yusril, juga sejalan dengan penolakan keras yang disuarakan oleh berbagai organisasi masyarakat (Ormas), pemerintah daerah, dan partai politik di Indonesia.
"Tindakan ini juga sejalan dengan harapan seluruh rakyat yang kita simak ada penolakan keras dari ormas dari pemerintah daerah dan partai politik," tambahnya.
Secara terpisah, Gubernur Jakarta Pramono Anung juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan ini.
"Tentang atlet Israel kalau ke Jakarta, tentunya sebagai Gubernur Jakarta, dalam kondisi seperti ini pasti saya tidak mengizinkan," pungkas Pramono, menegaskan bahwa sebagai kepala daerah, ia memiliki hak untuk menolak.
Federasi Israel Bawa Kasus ke Pengadilan Arbitrase Olahraga
Keputusan Indonesia yang menolak visa tersebut mendapat tantangan serius dari Federasi Senam Israel. Mereka menyebut langkah Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia itu sangat 'keterlaluan.'
Federasi tersebut telah mengajukan banding mendesak ke CAS, meminta perintah agar atlet mereka diizinkan berpartisipasi dalam kompetisi yang merupakan ajang kualifikasi Olimpiade tersebut.
"Kami bermaksud untuk menentang keputusan ini dengan segala cara yang tersedia,” kata juru bicara Atlet Israel. Federasi tersebut berupaya keras agar atlet mereka, yang telah melakukan persiapan intensif, tidak kehilangan kesempatan berkompetisi di panggung dunia hanya karena alasan politik.[*]
Editor : Hari Puspita