RADAR BALI - Dua tim yang sedang "terluka parah" di kancah BRI Super League 2025/2026, Persijap Jepara dan Semen Padang FC, akan saling berhadapan dalam duel krusial di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, pada Kamis (20/11).
Pertandingan ini menjadi kunci bagi kedua tim untuk segera keluar dari tren negatif dan zona degradasi.
Hingga pekan ke-12, Semen Padang masih terperosok di dasar klasemen sementaradengan koleksi hanya empat poin dari 11 pertandingan.
Tim berjuluk Kabau Sirah ini mencatatkan satu kemenangan, satu hasil imbang, dan sembilan kekalahan.
Kondisi ini diperparah dengan puasa kemenangan Semen Padang di sembilan laga beruntun, delapan di antaranya kalah beruntun.
Selama periode kelam tersebut, Kabau Sirah hanya mampu mencetak tiga gol dan kebobolan 14 kali.
Pelatih Semen Padang, Dejan Antonic, menegaskan bahwa timnya wajib segera bangkit.
Menghadapi Persijap di pekan ke-13 dan Persik Kediri di pekan ke-14, ia meminta para pemainnya tampil habis-habisan sebelum jeda kompetisi Desember mendatang.
“Dua laga berikutnya adalah kunci untuk kita. Pertandingan lawan Persijap di Jepara akan berlangsung ketat karena sama-sama ada di papan bawah. Dua laga nanti anak-anak harus sampai 150 persen serius,” ucap Dejan Antonic.
“Setelah dua laga nanti, akan libur satu bulan karena SEA Games. Dua laga ini kita harus pakai hati dan harus lebih fight. Kita harus ada keputusan yang terbaik untuk hasil yang terbaik,” tegas pelatih asal Serbia itu.
Persijap dan Tren Kekalahan Tipis yang Menyakitkan
Persijap, yang akan menjadi tuan rumah, juga sedang berjuang keras. Laskar Kalinyamat saat ini berada di peringkat ke-16 dengan delapan poin, dan tengah dihantui enam kekalahan beruntun.
Menariknya, dari enam kekalahan tersebut, Persijap justru lebih sering tumbang dengan margin gol yang sangat tipis.
Empat laga terakhir mereka—melawan Persita Tangerang, Bali United, Malut United, dan Madura United—berakhir dengan skor identik 0-1.
Pelatih Persijap, Mario Lemos, melihat kekalahan tipis semacam ini justru lebih menyakitkan bagi mental pemain dibanding kekalahan telak.
“Ya, menurut saya, cara kami mengalami kekalahan juga sangat sulit. Jika kalah dengan skor 0-4 atau 0-5, itu berbeda dengan kekalahan kami yang terjadi pada menit-menit akhir,” ujar juru taktik asal Portugal itu.
“Kami juga gagal memaksimalkan penalti dalam beberapa laga terakhir, dan cara kami kalah sangat berat. Kekalahan tipis seperti ini justru lebih sulit dihadapi oleh para pemain kami,” imbuhnya.
Namun, Lemos juga mengambil sisi positif dari kekalahan tipis tersebut, yang membuktikan timnya tidak kalah secara telak. Ia tetap mengapresiasi perjuangan anak asuhnya.
Persijap memang sempat mengukir performa impresif di lima laga awal dengan dua kemenangan, dua imbang, dan satu kekalahan.
Dua kemenangan awal bahkan diraih atas tim kuat seperti Persib Bandung (2-1) dan Persis Solo (2-1).
Dengan 10 gol dari 11 laga, Laskar Kalinyamat menjadi salah satu tim dengan produktivitas terendah, hanya unggul dari Semen Padang yang baru mencetak enam gol.
Persijap juga mencatat perolehan kartu merah yang sangat tinggi. Dari 10 pertandingan, mereka telah mengantongi setidaknya lima kartu merah.
Tak Ada Libur Demi Kerja Keras
Demi memutus tren negatif yang ada, Pelatih Persijap Mario Lemos tak memberi kesempatan skuadnya untuk santai.
Waktu tiga minggu jeda FIFA Matchday periode Oktober 2025 tak diisi dengan libur.
“Saya rasa kami harus terus bekerja. Tidak ada waktu untuk liburan. Sejauh ini kami baru melewati tujuh laga di kompetisi. Ini bukan saatnya untuk menghabiskan waktu dengan berlibur,” kata Mario.
Dengan semangat yang sama-sama membara untuk keluar dari zona merah, laga antara Persijap dan Semen Padang diprediksi akan berjalan ketat dan sengit.***
Editor : Ibnu Yunianto