DENPASAR, Radar Bali.id — Empat atlet bina raga Bali yang turun pada Kejuaraan Dunia di Batam, 11–17 November 2025, belum berhasil merebut medali.
Meski demikian, Pengurus Provinsi Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Bali menegaskan tetap memberikan apresiasi penuh atas perjuangan para atlet yang dinilai tampil optimal di tengah ketatnya persaingan tingkat dunia.
Ketua Umum PBFI Bali, I Nyoman Yoan Saputra, mengatakan pihaknya sejak awal tidak memasang target khusus untuk tim Bali. ”Terkait kejuaraan ini, sebenarnya kalau untuk tim Bali, memang kita tidak menargetkan apa-apa,” ujarnya.
Ia menjelaskan seluruh atlet sudah menunjukkan performa maksimal berdasarkan hasil penilaian internal. ”Cuma dari hasil penyulian, semua sudah oke sih. Memang kita ke sini untuk mencari pengalaman,” lanjutnya.
Yoan menilai kejuaraan dunia menjadi ruang penting bagi atlet Bali untuk memperluas wawasan dan menilai kemampuan diri secara objektif.
”Tujuan saya supaya atlet dapat melihat dunia luar, jadi jangkauannya atau pandangan dia akan dirinya sendiri, bukan cuma bercermin pada kompetisi lokal,” katanya.
Ia mengakui bahwa prestasi di tingkat daerah belum cukup sebagai tolok ukur untuk bersaing di level global. ”Terbukti, walaupun mereka juara di bidangnya masing-masing di daerah, tapi melangkah di kejuaraan dunia, mereka tidak masuk ke finalis,” ucapnya.
Meski para atlet belum masuk babak final, Yoan menegaskan apresiasinya. Ia juga mengaku terkejut mendapat penghargaan internasional sebagai sosok yang berkontribusi memajukan binaraga dan fitness dunia.
”Kalau untuk saya, saya terkejut mendapat medali penghargaan sebagai insan tahun 2025 yang memajukan binaraga dan fitness bahkan di dunia. Ya, surprise sih buat saya,” katanya.
Yoan Saputra menyebut keempat atlet yang diturunkan yaitu Dewa Putu Bayu (Mens Athletic), Ilham Haris (Mens Sport Under 170 Cm), Nuryanto (Mens Athletic Under 168 Cm), dan Mohamad Khumaidi (Binaraga 55 Kg). Masing-masing tampil dalam dua hari berbeda sejak Jumat hingga Sabtu, namun belum mampu menembus lima besar.
“Meski belum memberikan yang terbaik untuk Indonesia dan Bali, tapi kita tetap mengapresiasi atas perjuangan mereka,” tegasnya.
Yoan menambahkan bahwa penyelenggaraan kejuaraan dunia kali ini diikuti puluhan negara, sehingga kompetisi berlangsung sangat ketat. Ia juga menyoroti minimnya dukungan pemerintah terhadap kontingen tuan rumah.
“Penilaian sudah sesuai juga, cuman ya kita mengharapkan lebih ada support dari pemerintah. Sejauh ini, walaupun sebagai tuan rumah, kita cuma mengirim belasan atlet. Malah tetangga kita, India mengirim 68 orang, Malaysia sampai 30-an orang. Kita sebagai host country malah tidak ada sedikit yang mewakili,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengkab PBFI Buleleng sekaligus official tim, Made Widiasa Pasputra, mengakui hasil yang dicapai belum sesuai harapan. “Hasilnya belum sesuai harapan, belum masuk ke final. Lima besar event ini sangat ketat, level dunia,” katanya. Meski begitu, ia tetap memberikan penghargaan atas usaha atlet Bali yang tetap berjuang maksimal.
“Kami bangga, semoga mereka bisa memberikan prestasi di event terdekat seperti pra PON dan lainnya,” ujarnya.
Widiasa menegaskan pihaknya akan segera menyampaikan laporan ke KONI dan melakukan evaluasi menyeluruh, khususnya terkait kondisi fisik atlet. “Kita lihat kekurangan atlet secara fisik. Kita akan perbaikan karena ini tentang otot, nanti yang kurang maksimal agar bisa tampil lebih baik,” jelasnya.
Ia juga menyebut salah satu atlet yang bertanding, Dewa Putu Bayu, berasal dari Buleleng dan sudah mendapat dukungan penuh dari Ketua KONI Buleleng, Ketut Wiratmaja.
Menurut Widiasa, pengalaman bertanding melawan atlet dari sekitar 40 negara menjadi modal penting bagi atlet Bali untuk menghadapi kompetisi nasional dan Asia.
“Meski belum bisa memberikan yang terbaik, kami tetap apresiasi perjuangan mereka. Mudah-mudahan ini jadi bekal mereka ke depannya,” pungkasnya. [*]
Editor : Hari Puspita