Intensitas latihan di GOR Lila Bhuana, Denpasar, untuk persiapan menuju Kejuaraan Asia di Bangkok, mendadak digantikan oleh keheningan. Bukan kelelahan, melainkan jeda spiritual yang mengikat erat Skuad Kabaddi Merah Putih: prosesi melukat di Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar.
INI momen perenungan sebelum berlaga. Di bawah teduhnya pepohonan dan aliran mata air suci nan sejuk, para atlet menemukan kejernihan yang tak mereka temui di lapangan.
Momen ini bukan sekadar istirahat fisik, melainkan penempaan batin yang menyatukan tekad tim.
Bagi Ervin, atlet kabaddi asal Lampung, melukat adalah pengalaman yang membekas kuat. Ia yang baru pertama kali mengikuti ritual ini, mengaku langsung merasakan perubahan energi.
"Tumben ikut prosesi ini, senang banget dan terasa lebih fresh," ucap Ervin sambil tersenyum.
Ia meyakini, melukat adalah kesempatan menyucikan diri sebelum mengemban tugas negara. "Dengan melukat, ngerasa lebih segar, bersih lahir dan batin. Kalau hati dan pikiran bersih, fokus ke tujuan bersama juga lebih mudah," lanjutnya.
Harapannya sederhana: kekuatan spiritual Pulau Dewata dapat menjadi tambahan energi non-fisik di arena pertandingan.
Yang menarik, ritual ini melampaui sekat agama. Atlet dari Kalimantan Timur, Jawa Timur, Lampung, hingga NTB, semuanya menyatu dalam balutan wastra adat, merendahkan diri di bawah tetes air pancoran suci.
Keseimbangan Skala dan Niskala
Koordinator kegiatan, sekaligus Sekjen PP FOKSI, Maryoto Subekti, menegaskan bahwa penyeimbangan antara latihan fisik (sekala) dan persiapan spiritual (niskala) adalah kunci.
"Terlepas kita pemusatan latihan di Bali, upaya sekala dengan latihan sudah kita lakukan. Tentu upaya niskala juga ditempuh," ujar Maryoto. Menurutnya, perjalanan spiritual ini bertujuan menyeimbangkan langkah tim agar semakin mantap menuju Bangkok, mengingat target medali bukanlah beban ringan.
"Ini bagus sebagai ajang refreshing spiritual, mencari suasana baru. Saat kembali latihan, semangatnya muncul lagi," tambah Maryoto, didampingi pelatih I Putu Rega Padmawan dan I Gusti Ayu Putu Martini.
Maryoto percaya, segala aspek—mental, fisik, dan spiritual—harus diperkuat agar semangat tim kembali berlipat ganda, dan yang terpenting, minimal semuanya sehat dan berada dalam lindungan Tuhan.
Alegori Kekuatan Dewa Indra
Ofisial tim, I Kadek Sudharma Hariawan, menjelaskan lebih dalam makna pemilihan Pura Tirta Empul. Ia menyebut melukat sebagai momen penyerahan diri pada keheningan, membebaskan beban batin.
"Kami meyakini air di pura ini berasal dari mata air yang diciptakan Dewa Indra untuk menyembuhkan bala tentaranya dari racun Mayadanawa," jelas Sudharma.
Alegori inilah yang dirasa pas untuk menyucikan tubuh dan ego tim, sekaligus ngalap berkah (mendapatkan anugerah) dan kekuatan.
"Dalam tradisi Bali, melukat itu metanoia—kelahiran kembali. Proses membersihkan pikiran dan energi negatif," tegasnya. "Tirta Empul menawarkan vibrasi dan kekuatan yang kami butuhkan untuk prestasi kabaddi di SEA Games 2025 dan ajang lainnya."
Ritual usai, tetapi keyakinan yang mereka bawa terasa semakin penuh. Dalam perjalanan menuju arena internasional, timnas kabaddi Indonesia tidak hanya berbekal strategi dan latihan keras, tetapi juga kekuatan sunyi yang mereka temukan bersama di balik pancuran air suci Tirta Empul: kejernihan, kebersamaan, dan tekad yang kini telah disucikan.[*]
Editor : Hari Puspita