RADAR BALI - Persebaya Surabaya akan menghadapi pemuncak klasemen sementara BRI Super League 2025/26 Borneo FC dalam kondisi compang-camping.
Pertemuan krusial di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) pada Sabtu (20/12) menjadi pertarungan antara tim yang pincang menghadapi tim yang berambisi mengembalikan tren positif.
Kekisruhan di tubuh Persebaya Surabaya menjelang pekan ke-15 ini begitu terasa.
Masalah utama Green Force masih berpusat pada kursi pelatih kepala yang kosong sejak berakhirnya kerja sama dengan Eduardo Pérez.
Selama 30 hari, tim ditangani oleh Uston Nawawi sebagai pelatih caretaker.
Situasi semakin rumit karena Uston dipastikan absen mendampingi tim di pinggir lapangan saat melawan Borneo FC akibat akumulasi dua kartu kuning.
Kedua kartu tersebut dia terima saat melawan Persija Jakarta dan Bhayangkara FC.
Posisi Uston yang kosong mendadak ini akan diisi oleh sosok yang tak terduga: Shin Sang-gyu.
Pelatih fisik Persebaya yang notabene kolega dari eks pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-Yong ini akan ditunjuk menjadi caretaker pelatih di pinggir lapangan.
Pengambilan keputusan taktis di tengah laga berpotensi terganggu oleh minimnya pengalaman Shin Sang-gyu sebagai pemimpin utama.
"Untuk pelatih baru, saya belum berkomunikasi dengan manajemen terkait hal tersebut. Saya belum mengetahui soal itu,” ucap Uston Nawawi.
Absennya Dua Motor Serangan
Di samping krisis pelatih, Persebaya juga dipastikan kehilangan dua penggerak utama lini serang, Francisco Rivera dan Bruno Moreira.
Bruno harus menepi karena akumulasi empat kartu kuning, sementara Rivera masih harus menyelesaikan satu laga sanksi yang belum tuntas.
Dampaknya sangat besar. Rivera adalah poros utama permainan dan kreativitas tim.
Sedangkan kontribusi Bruno di sayap kiri dengan penetrasi agresifnya dinilai tidak tergantikan.
Absennya mereka membuat kekhawatiran mendalam di kalangan suporter setia, Bonek, yang mendambakan timnya memutus rantai hasil imbang di kandang sendiri.
Sebagai solusi darurat, caretaker Uston Nawawi harus menemukan opsi internal.
Malik Risaldi diperkirakan menjadi kandidat paling kuat pengganti Bruno di sayap kiri, sementara peran playmaker Rivera kemungkinan akan diisi oleh pemain asing tersisa Miloš Raičković atau pemain veteran Oktafianus Fernando.
Kabar baiknya, bek asing Risto Mitrevski semakin pulih dari cedera, menawarkan sedikit angin segar di lini belakang.
Borneo FC Berjuang Pertahankan Puncak Klasemen
Di sisi lain, Borneo FC datang ke Surabaya sebagai pemimpin klasemen dengan 33 poin dari 13 laga.
Namun, Pesut Etam juga sedang menata asa setelah rentetan kemenangan mereka terhenti.
Dua pertandingan terakhir mereka berakhir dengan kekalahan pahit, 0-1 dari Bali United FC dan 3-1 dari Persib Bandung.
Menghadapi Green Force yang dikenal tangguh di hadapan pendukung fanatiknya, Borneo FC diprediksi menghadapi tantangan berat.
Bertandang ke Surabaya menjadi momentum penting bagi anak asuh Fabio Lefundes untuk menumbuhkan kembali kepercayaan diri dan mengembalikan tren permainan terbaik mereka.
Kesempatan Borneo untuk bangkit terbuka, mengingat Persebaya pun sedang tidak dalam performa terbaik.
Persebaya tercecer di peringkat 9 klasemen dengan 18 poin, dengan empat laga terakhir mereka berakhir imbang, termasuk saat ditahan rival berat Arema Indonesia di kandang sendiri.
Laga di Surabaya menjadi momentum krusial bagi Borneo FC untuk mempertahankan posisi puncak dan mengembalikan tren positif di sisa musim kompetisi.
Pertarungan ini juga krusial dalam persaingan papan atas. Persija Jakarta berhasil memangkas jarak setelah menundukkan PSIM Yogyakarta, sementara Persib Bandung juga terus membayangi.
Meskipun dalam krisis, Borneo FC tak bisa meremehkan kekuatan Persebaya yang memiliki pengalaman dan prestasi panjang.
Green Force juga memiliki modal penting, yaitu catatan positif rekor pertemuan di Stadion Gelora Bung Tomo, di mana Borneo FC hanya pernah sekali menang di sana, yaitu pada tahun 2018.***
Editor : Ibnu Yunianto