RADAR BALI – Stadion Jatidiri menjadi saksi bisu kontrasnya nasib dua tim di matchweek ke-16 Grup 2 Championship 2025-2026. Deltras FC Sidoarjo sukses mempermalukan tuan rumah PSIS Semarang dengan skor telak 3-0 pada Sabtu (17/1) malam.
Kemenangan ini membawa tim berjuluk "The Lobster" meroket ke posisi empat besar, sementara Laskar Mahesa Jenar kian terpuruk di dasar klasemen.
Meski berstatus sebagai tamu, Deltras FC tampil mendikte sejak peluit pertama dibunyikan. Tim asuhan Widodo C. Putro ini menguasai 58% aliran bola dan tampil sangat taktis.
Pesta gol dibuka oleh penyerang asal Kamerun, Neville Tengeg, pada menit ke-10 setelah sontekannya yang membentur bek lawan mengecoh kiper Mario Londok.
Tengeg kembali menunjukkan ketajamannya pada menit ke-84 melalui tendangan keras yang menggandakan keunggulan. Gol tersebut merupakan koleksi ketujuh Tengeg musim ini, mengukuhkan posisinya sebagai top skorer sementara klub.
Penderitaan tuan rumah ditutup oleh gol pemain pengganti, Kaka Depriadi, pada masa injury time (90+8’). Gol ini kian menegaskan status Kaka sebagai super sub mematikan, setelah pada pekan sebelumnya ia juga mencetak gol dalam situasi serupa saat melawan Kendal Tornado FC.
Kekecewaan di Jatidiri: "Piye Maine?"
Kekalahan memalukan di kandang sendiri memicu amarah pendukung setia PSIS Semarang. Stadion Jatidiri bergemuruh bukan oleh sorak kemenangan, melainkan sorakan kekecewaan. "Piye, piye, piye maine. Piye maine kok koyo ngene," seru para suporter yang tidak puas melihat performa tim kesayangan mereka.
Statistik menunjukkan PSIS hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran sepanjang laga. Kekalahan ini menjadi yang ke-12 bagi Esteban Vizcarra dkk dari 16 pertandingan.
Dengan hanya mengoleksi 8 poin, PSIS kini terbenam di posisi sembilan klasemen Grup 2.
Pelatih PSIS, Jafri Sastra, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyoroti buruknya disiplin pemain sebagai biang keladi kekalahan.
"Kami kalah bukan hanya dari hasil akhir. Kami bekerja keras, tapi tidak disiplin. Di babak kedua kami sudah tidak bisa mengontrol permainan," ujar Jafri usai laga.
Di sisi lain, Widodo C. Putro memuji kedewasaan bermain anak asuhnya. Ia mengungkapkan bahwa kunci kemenangan malam itu adalah kemampuan menjaga sirkulasi bola dan transisi cepat yang merusak organisasi pertahanan PSIS.
"Fokus utama tetap pada bagaimana tim ini bermain dengan karakter Deltras sendiri. Menjaga ball possession dan meminimalkan kehilangan bola membuat permainan kami lebih efektif," jelas Widodo.
Tambahan tiga poin ini membuat Deltras FC naik dua setrip ke peringkat keempat dengan total 27 poin dari 8 kemenangan, 3 imbang, dan 5 kekalahan.
Posisi ini menjaga asa mereka untuk terus bersaing di jalur juara, berbanding terbalik dengan PSIS yang harus berjuang ekstra keras demi keluar dari zona merah di sisa musim ini.***
Editor : Ibnu Yunianto