Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tormod Frostad Raih Emas Big Air Olimpiade 2026, Ungguli Mac Forehand Lewat Teknik Nose Butter

Dhian Harnia Patrawati • Rabu, 18 Februari 2026 | 12:07 WIB
Mac Forehand dari Tim Amerika Serikat bereaksi dalam Final Big Air Freeski Putra di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 di Livigno Air Park pada 17 Februari 2026
Mac Forehand dari Tim Amerika Serikat bereaksi dalam Final Big Air Freeski Putra di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 di Livigno Air Park pada 17 Februari 2026

RADAR BALI - Persaingan memperebutkan medali emas di nomor Big Air putra Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam dunia freeski.

Pembeda antara medali perak dan emas di Livigno Snow Park pada Selasa malam (17/2) hanyalah satu hal: siapa yang mampu mengeksekusi teknik nose butter dengan lebih sempurna.

Tormod Frostad dari Norwegia berhasil mengungguli atlet Amerika Serikat, Mac Forehand, dengan selisih tipis 2,25 poin.

Frostad meraih total 195,50 poin, sementara Forehand harus puas dengan perak setelah mengumpulkan 193.25 poin.

Kemenangan Frostad bukan hanya soal jumlah putaran di udara, melainkan inovasi.

Di saat mayoritas atlet mengandalkan rotasi maksimal, Frostad memperkenalkan twist yang menantang hukum fisika pada ketiga lompatannya.

Alih-alih meluncur ke belakang saat lepas landas dari ramp, ia justru melakukan putaran ke depan dengan presisi tinggi.

Nose butter sendiri merupakan manuver gaya bebas di mana pemain ski menggeser seluruh berat badannya ke ujung depan (hidung) ski sambil bergerak.

Tekanan ini membuat bagian belakang ski terangkat, menciptakan gerakan berputar yang halus seperti sedang mengoleskan mentega di atas roti.

"Bagian tersulit dari trik saya adalah masuk ke sumbu rotasi tersebut dengan sangat presisi. Para juri menyadari hal itu, itulah sebabnya mereka memberi saya skor tinggi," ujar Frostad.

Juri memberikan nilai yang terus meningkat bagi Frostad: 95,25, 97, hingga puncaknya 98,50 pada lompatan terakhir yang mengunci medali emas.

Persaingan Level Tertinggi

Mac Forehand sebenarnya sempat membalikkan keadaan dan memimpin pada lompatan kedua terakhir.

Atlet berusia 24 tahun itu menampilkan trik-trik yang sangat sulit, fokus pada putaran dan pendaratan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

"Ini adalah kompetisi Big Air terbaik yang pernah terjadi. Level ski-nya luar biasa, dan ada dua trik pertama di dunia yang tercipta hari itu," kata peraih medali perak tersebut.

Rekan setim Forehand, Konnor Ralph, bahkan mencoba triple-cork 2160 (enam putaran penuh) untuk pertama kalinya dalam sejarah dan berhasil mendarat di posisi kelima.

Namun, malam itu membuktikan bahwa Big Air bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak berputar.

Kemenangan Kreativitas

Birk Ruud, peraih emas tahun 2022, setuju bahwa Frostad layak menang karena melakukan sesuatu yang tidak terduga melalui teknik butter double bio.

Atlet Norwegia itu menegaskan bahwa perkembangan olahraga ini tidak hanya diukur dari jumlah rotasi, tetapi juga dari gaya dan kreativitas.

Bagi Frostad, kunci keberhasilannya adalah ketenangan. Di tengah tekanan besar pada lompatan terakhirnya, ia mengaku hanya ingin menikmati momen tersebut.

"Saya tidak terlalu peduli (dengan hasilnya) karena saya bisa melakukan lompatan terakhir dengan gembira sehingga bisa memberikan trik yang menyenangkan," tutupnya. ***

 

Editor : Ibnu Yunianto
#Olimpiade Musim Dingin 2026 #2026 Winter Olympics #medali emas #Milano Cortina 2026 #Tormod Frostad #seluncur salju slopestyle putra #snowboarding slopestyle men #Freestyle Skiing #big air putra #Freeski Big Air #Livigno Snow Park #Mac Forehand #norwegia