RADAR BALI – Dunia sepk bola Malaysia tengah diguncang prahara besar. Peringkat FIFA tim nasional Malaysia, Harimau Malaya, terjun bebas sebanyak 14 peringkat dari posisi 121 ke posisi 135.
Penurunan drastis ini merupakan konsekuensi langsung dari sanksi berat FIFA dan AFC terkait skandal pemalsuan dokumen kewarganegaraan tujuh pemain warisan (heritage players).
Sanksi ini bermula dari temuan penggunaan dokumen palsu untuk tujuh pemain, yakni Joao Figueiredo, Jon Irazabal, Hector Hevel, Gabriel Palmero, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, dan Facundo Garces.
Akibatnya, FIFA membatalkan hasil tiga pertandingan persahabatan pada Desember lalu dan memberikan kemenangan walkover (3-0) kepada tim lawan.
Langkah tegas ini diikuti oleh AFC yang menganulir dua pertandingan kualifikasi Piala Asia. Dampaknya sangat fatal. Poin Malaysia di Grup F berkurang dari 15 menjadi 9 poin.
Selain itu, posisi puncak klasemen direbut oleh Vietnam. Malaysia juga dipastikan gagal melaju ke Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
Sedangkan tujuh pemain yang terlibat dijatuhi larangan bertanding selama 12 bulan.
Media Vietnam kini menyoroti pertemuan mendatang antara Harimau Malaya dan tim nasional mereka di Stadion Thien Truong pada 31 Maret.
Pers Vietnam membingkai pertandingan ini sebagai upaya Malaysia untuk "merebut kembali martabat" yang hancur akibat skandal tersebut.
"Di bawah tekanan besar setelah hukuman AFC, Malaysia akan berjuang untuk merebut kembali kehormatan mereka," lapor salah satu outlet media Vietnam.
Sentimen ini berulang di berbagai platform media Vietnam, yang menggambarkan Malaysia bukan lagi sekadar rival dalam kualifikasi, melainkan sebuah tim yang sedang mempertaruhkan harga diri.
Di bawah asuhan Pelatih Malaysia Peter Cklamovski, Harimau Malaya dituntut membuktikan bahwa mereka masih mampu bersaing tanpa bantuan tujuh pemain yang disanksi tersebut.
Respons Pemerintah dan Langkah Reformasi
Menanggapi situasi ini, Menteri Belia dan Sukan Dr Mohammed Taufiq Johari menyatakan kekecewaan mendalam.
Seperti dikutip The Sun, dia menyebut penurunan ini sebagai salah satu yang terburuk sejak tahun 2006 dan mendesak adanya langkah kolektif untuk memperbaiki keadaan.
"Pembangunan sepak bola, terutama di tingkat akar rumput, harus terus berlanjut. Saya berharap semua pihak belajar dari situasi ini dan memperkuat sepak bola lokal untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali," tegas Menteri Dr Mohammed Taufiq Johari.
Menteri Dr Mohammed Taufiq Johari juga mengonfirmasi bahwa kementeriannya akan terus menjalin komunikasi intensif dengan Persatuan Bola Sepak Malaysia (FAM) untuk menghentikan kemerosotan ini.
Meski demikian, dia menekankan prinsip non-intervensi pemerintah pada federasi. "Kami akan memprioritaskan pengembangan bakat melalui Program Pembangunan Bola Sepak Negara (NFDP) bersama FAM dan memberikan ruang bagi mereka, dengan bantuan AFC, untuk melaksanakan reformasi internal serta memilih kepemimpinan baru."
Skandal ini menjadi pelajaran pahit bagi persepakbolaan Malaysia agar lebih transparan dalam proses naturalisasi dan verifikasi pemain di masa depan.***
Editor : Ibnu Yunianto