DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Eskalasi dinamika kebangsaan bergejolak menyusul munculnya kebijakan tak populis pemerintahan Prabowo – Gibran.
Dari kenaikan bahan bakar jenis Pertamax, kurs tukar rupiah melemah, polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga keresahan kembalinya Dwi Fungsi ABRI dengan pengesahan RUU Polri yang dilakukan secara diam-diam.
Berbagai permasalahan itu membuat mahasiswa di Bali menggelar aksi. Namun, tidak menuntut ke kantor lembaga, mahasiswa di Denpasar menggelar aksi di Car Free Day (CFD) yang berlokasi di kawasan Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Denpasar Minggu (14/6/2026).
Aksi "Run For Resistance" atau "Lari dengan Perlawanan" yang digelar adalah bentuk ekspresi kritik dan perlawanan terhadap berbagai kebijakan Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Mereka memakai atribut aksi dan membentangkan berbagai pesan kritik sembari berlari mengelilingi kawasan Renon.
Kemudian juga menempelkan poster di punggung yang isinya kritik terhadap pemerintah saat ini. Dengan cara itu, harapannya dapat menyampaikan keresahan masyarakat atas sejumlah persoalan nasional yang sedang terjadi.
Koordinator Lapangan aksi, I Nyoman Trikasudha Gamayana, menyampaikan kegiatan ini berangkat dari keresahan yang dirasakan oleh mahasiswa dan pemuda terhadap kondisi bangsa saat ini. Penyampaian aspirasi tersebut dilakukan karena mereka menganggap pemerintah gagal dalam mengelola negara sehingga membebankan masyarakat.
"Mulai dari kenaikan harga BBM Pertamax, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai berpotensi menjadi ladang korupsi, hingga pengesahan UU Polri yang dilakukan secara tertutup dan membuka ruang bagi anggota Polri untuk menduduki jabatan sipil. Belum lagi berbagai kebijakan lain yang menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menjawab persoalan rakyat," ujar Trikasudha.
Run for Resistance itu, kata Trika, lebih dikenal di Eropa, sehingga ia mengambil referensi dari sana. Trika menjelaskan, gerakan lari dengan perlawanan menjadi salah satu gerakan adaptif dari anak-anak muda saat ini, terlebih olahraga lari sedang menjadi tren.
"Dan dengan kita melakukan lari ini, tidak hanya kita menyehatkan diri, tapi kita menyehatkan pikiran kita gitu, dengan awareness mengenai isu-isu sosial, isu-isu yang sedang mencuat saat ini," terang Trika.
Dijelaskan isu-isu yang membuat masyarakat geram yakni kenaikan BBM, rupiah melemah, bagaimana pola komunikasi kekuasaan, bagaimana program-program yang memang tidak relevan lagi seperti MBG, dan koperasi desa/lurah Merah.
"Tidak hanya dengan melakukan aksi demo, tapi dengan berlari pun kami bisa melakukan itu. Dan harapan besar kami, tentu saja setelah melihat antusiasme dari masyarakat dengan menulis beragam pesan dan kesan di banner atau spanduk, muncul harapan dari kami selaku gerakan-gerakan kolektif ini, simpul-simpul perlawanan ini, untuk meningkatkan gerakan ini supaya menjadi lebih masif lagi," ungkapnya.
Rencananya aksi ini akan terlaksana dengan konsisten setiap minggu di Car Free Day Renon. Harapannya semakin banyak partisipan dan antusiasme dari seluruh kawan-kawan, begitu juga dari masyarakat akan semakin besar.
Sementara itu, Ketua DPC GMNI Denpasar, Wayan Hendra, yang turut mengikuti aksi tersebut menyatakan, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk membangun gerakan pemuda dan mahasiswa Bali yang lebih besar ke depannya.
Dipilihnya konsep Run For Resistance karena ingin menyampaikan kritik dengan cara yang dekat dengan anak muda.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kondisi bangsa juga dapat diekspresikan melalui ruang-ruang yang akrab dengan keseharian mereka. Harapannya, aksi ini dapat membangkitkan kesadaran dan partisipasi lebih luas terhadap berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat," ujar Hendra.
Aksi "Run For Resistance" ditutup dengan kegiatan penyampaian aspirasi publik, di mana peserta maupun masyarakat yang hadir diberikan ruang untuk menuliskan berbagai keluh kesah dan kritik terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran pada media yang telah disediakan oleh massa aksi.
Adapun berbagai pesan dan tuntutan disampaikan, mulai dari penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), tuntutan realisasi janji penciptaan 19 juta lapangan pekerjaan, kritik terhadap Program Koperasi Merah Putih yang dinilai menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai tata kelola dan pembiayaannya, keberatan atas kenaikan harga BBM Pertamax, hingga desakan agar fungsi dan kewenangan Polri serta TNI tetap berjalan sesuai amanat reformasi dan prinsip supremasi sipil.
Selain itu, berbagai kritik lain terkait kondisi ekonomi, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, serta arah kebijakan nasional turut memenuhi ruang aspirasi tersebut. Melalui kegiatan ini, Gabungan Mahasiswa dan Pemuda Bali menegaskan suara rakyat tidak boleh diabaikan dan berharap pemerintah dapat mendengar serta menindaklanjuti berbagai keresahan yang berkembang di tengah masyarakat.***
Editor : M.Ridwan