Plt Kepala BPBD Tabanan I Nyoman Srinadha Giri Kabupaten Tabanan yang dikonfirmasi terpisah membenarkan peristiwa itu. Dia menyebut seorang anak meninggal dunia sekitar pukul 18.60 sesaat setelah peristiwa gempa bumi terjadi, Jumat (13/4).
Saat gempa terjadi sekitar pukul 18.55 korban dalam kondisi panik termasuk keluarganya. Dimana korban duduk bersama ayahnya Putu Juliarsana sedang duduk di teras rumah. Saat kejadian gempa korban histeris.
Lantaran korban yang panik pula keluarganya sehingga berhamburan keluar rumah dengan teriakan "linu, linu, linu". Namun korban malah tercecer dari keluarganya.
"Dan usia gempa bumi malah ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri," ungkap pria yang juga selaku Kabag Perekonomian Setda Tabanan.
Lebih lanjut, Giri menyebut, korban sempat dilarikan ke RSUD Tabanan pasca kondisi tidak sadarkan diri. Namun korban sudah dalam meninggal dunia. "Detak nadi korban tidak ada setelah diperiksa tim medis. Sehingga dinyatakan meninggal dunia," terang Giri.
Disisi lain dari keterangan keluarga korban. Korban selama ini tidak ada mengalami gejala penyakit jantung atau gejala penyakit lainnya. "Jadi murni korban meninggal dunia karena panik dan tercecer dari keluarganya saat menyelamatkan diri ketika gempa terjadi," imbuhnya.
Saat ini jenazah korban masih dititipkan di RSUD Tabanan, tapi rencananya disembahyangkan Minggu (15/4) besok pagi sesuai ajaran agama Hindu. Pihak keluarga sudah menerima kejadian ini sebagai musibah.
Sekedar diketahui gempa bumi berkekuatan 6,6 SR terjadi dengan pusat gempa berada di Tuban Jawa Timur. Gempa tersebut hingga dirasakan hampir seluruh Kabupaten di Bali. Salah satunya kabupaten Tabanan terjadi ketika detik-detik menjelang berbuka puasa sekitar pukul 18.55 lebih.
Meski belum ada informasi kerusakan akibat gempa bumi ini, namun baru satu korban dilaporkan meninggal dunia oleh BPBD Tabanan. (uli/rid) Editor : M.Ridwan