TABANAN, radarbali.id – Kebakaran TPA (tempat pembuangan akhir) di Mandung Tabanan belum reda. Meski begitu, sepekan lebih kondisi TPA Mandung, Sembung Gede Kerambitan Tabanan, petugas damkar Tabanan dan Badung terus berupaya melakukan pemadaman api pada lokasi munculnya asap dan api di tumpukan sampah.
Bahkan strategi pemadaman api yang dilakukan, selain melakukan penyemprotan air secara berkala. Kini oleh Pemkab Tabanan dengan membuat lubang atau kumbangan air di lokasi TPA.
Pantauan Jawa Pos Radar bali, di TPA Mandung, Kerambitan, pada Minggu kemarin (22/10). Kebakaran TPA yang sudah berlangsung seminggu lebih dicek Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Provinsi Bali I Made Rentin, didampingi pula Asisten II Setda Tabanan Bidang Perekonomian dan Pembangunan A. A Gede Dalem Trisna Ngurah dan Kalaksa BPBD Tabanan I Nyoman Srinadha Giri.
Asisten II Setda Tabanan Bidang Perekonomian dan Pembangunan A. A Gede Dalem Trisna Ngurah mengatakan saat ini pemadaman api di TPA Mandung pihaknya mencoba dengan strategi baru.
Yakni dengan alat berat yang ada, pihaknya akan mencoba memanfaatkan dengan membongkar dan membuat kumbangan (lubang) didalam sampah. Lubang ini nantinya kemudian akan diisi air oleh Damkar Tabanan.
“Harapan kami kubangan yang terisi air itu merembes ke dalam tumpukan sehingga gas metan yang ada di dalam sampah menjadi dingin harapan kami sih seperti itu,” ucapnya.
Baca Juga: Mimih, Kebakaran TPA Mandung, Ternyata Api Sempat Nyaris ke Perumahan BCA Land, Untung Dipadamkan
Ini cara strategi baru yang pihaknya lakukan, kalau seumpama berhasil dan efektif. Maka pihaknya akan lebih banyak membuang lubang-lubang yang selanjutnya akan diisi air.
Sekarang ini ada dua lubang yang sudah selesai dibuat pada bagian timur dan utara TPA. Dengan kapasitas penampungan air pada lubang itu sekitar 5 ribu liter.
“Dan pada hari ini kami masih dibantu pemadaman oleh Damkar Badung, selain dua truk Damkar Tabanan yang sudah standby setiap harinya,” pungkasnya.
Baca Juga: Kaget! Cek Kondisi TPA Mandung, Dewan Tabanan Akui Persoalan Sampah Pelik
Sementara itu Kalaksa BPBD Provinsi Bali I Made Rentin yang mengecek TPA Mandung mengatakan sejauh ini kondisi kebakaran pada TPA Mandung telah menurun. Hasil pantauan pihaknya di lapangan dari luasan 1,8 hektar TPA yang terbakar dengan luasan total secara keseluruhan TPA 2,7 hektar.
“Kondisi api yang sudah mampu dipadamkan sekitar 65 persen, sisanya 35 persen masih muncul api dan asap, tapi relatif kecil belum padamkan. Jadi jauh lebih kondusif saat kebakaran pertama kali 14 Oktober lalu,” bebernya.
Rentin menjelaskan dari pemantauan yang pihaknya lakukan pada sejumlah TPA dan wilayah di Bali. Secara keseluruhan potensi kebakaran hampir merata di tengah musim kemarau saat ini. Selain terjadi kebakaran pada TPA juga kebakaran hutan.
Baca Juga: Amor Ring Acintya, Jatuh dari Pohon Kelapa Setinggi 10 Meter, Penyadap Nira Tewas
Khusus TPA sendiri kondisi kebakaran paling parah eskalasinya berada di TPA Suwung Denpasar. Pertama, karena luasan, kedua jumlah area yang terbakar cukup besar. Baru selanjutnya berada di Mandung Tabanan dan TPA Temesi di Gianyar.
Buleleng, Bangli dan Karangasem meski belum terjadi kebakaran TPA, tetapi di tiga daerah justru terjadi kebakaran hutan. Buleleng dengan lereng bukit kursi, di Pemuteran yang terbakar. Begitu pula Bangli dengan hutan Taman Wisata di Batur yang terbakar dan Karangasem dengan lereng Gunung Agung yang terbakar. Potensi kebakaran ditengah musim kemarau ini hampir merata dan patut menjadi perhatian serius bersama.
Mengenai kebakaran TPA sejatinya sudah ada pola protap sebagai SOP yang harus dijalankan. Yakni penyemprotan secara rutin di TPA dua hari sekali pada tumpukan sampah.
“Ini sebenarnya langkah preventif yang sudah dilakukan Buleleng dan berhasil melakukan mitigasi bencana kebakaran di TPA,” jelasnya.
Rentin menegaskan, kebakaran TPA Suwung dan Mandung menjadi momentum untuk menata ulang pengelolaan sampah di Bali.
“Mengutip bahasanya Pj Gubernur Bali, kebakaran di TPA Suwung dan TPA Mandung ini momentum untuk melakukan perubahan manajemen dan tata kelola sampah,” jelasnya.
Baca Juga: Puluhan Ribu Santri se- Bali Ikuti Kirab HSN 2023, Malamnya Ngaji Kebangsaan Bersama Gus Muwafiq
Pertama yang dapat dilakukan dengan merubah mindset masyarakat secara keseluruhan dalam hal pengelolaan sampah. Dengan mereka masyarakat melakukan secara sadar pemilahan sampah berbasis sumber. Mana sampah organik dan non organik.
Kedua di level desa dan kelurahan dibuat TPS3R, seperti keberhasilan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kemudian ketiga membuat TPST terpadu ini menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten. Untuk Bali TPST baru Kota Denpasar, sedangkan Kabupaten Bandung secara mandiri membuat TPST.
“Kita ingin pola itu diterapkan di Tabanan, karena kalau TPA Mandung lokasi pembuangan akhir sampah bukan solusi tapi masalah, kedepan kami berharap ada TPST yang disiapkan Kabupaten Tabanan,” ungkapnya.
Baca Juga: LPM Khlorofil Tengok Dapur Redaksi dan Belajar Jurnalistik di Jawa Pos Radar Bali
Tinggal sekarang pertanyaan besarnya apakah lahan pembangunan TPST. Ketika Pemda Kabupaten tidak tersedia lahan. Solusi yang dapat ditempuh yakni dengan memetakan dimana-tanah-tanah Provinsi Bali yang tersebar di kabupaten/kota.
“Lahan Provinsi ini memungkinkan untuk dimohon sepanjang untuk pelayanan publik. Salah satunya lokasi pembangunan TPST. Artinya lahan provinsi itu bisa dimohon Pemkab kabupaten ke provinsi untuk dijadikan TPST,” pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan