TABANAN– Sejumlah petani di Subak Luwus I, Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan kesulitan memperoleh air untuk mengairi lahan pertanian mereka. Kondisi demikian ternyata sudah sejak tahun 2022 lalu.
Petani yang kesulitan mendapat air akibat dari terowongan yang terhubung dengan Dam Temacun-Luwus-Carangsari mengalami sedimentasi atau pengendapan lumpur.
Hal itu disampaikan Pekaseh Subak Luwus I, I Made Puspa, ketika bertemu dengan Komisi II DPRD Tabanan saat turun menyerap aspirasi masyarakat, di Kantor Desa Cau Belayu, Marga, Selasa (7/11).
Puspa menyebut kondisi sangat parah lagi disaat musim kemarau sekarang ini. Sehingga sejumlah petani pun tidak bisa menanam palawija.
Menurutnya kondisi terowongan yang memiliki tinggi dan lebar sekitar 1,5 meter, panjangnya sekitar 400 meter dan kedalamannya sekitar 25 meter, itu dengan material endapan sudah mencapai lebih dari satu meter.
Terowongan tersebut juga bersebelahan dengan saluran air yang mengalir ke arah Desa Carangsasi di Kabupaten Badung.
Akibat material endapan yang menumpuk menyebabkan ratusan hektar sawah di lingkungan Subak Luwus I tidak bisa bercocok tanam.
“Kalau musim hujan bisa tanam padi. Kalau kemarau mau menanam padi tidak bisa. Kalau daerah lain kan bisa,” imbuhnya.
Ia menambahkan, dampak paling parah mulai dirasakan sejak Maret 2022 lalu. Para petani di Subak Luwus I sampai tidak bisa menanam palawija. Pernah mencoba (tanam) tapi gagal panen. Sekarang tidak bisa menanam apapun. Termasuk palawija.
“Sekarang pun petani di sini demikian, tidak bisa menanam palawija, karena kesulitan air. Dampaknya lebih dari 100 hektar lahan pertanian tak bisa kami garap,” jelasnya.
Menurutnya, kalau saja ada aliran air dari Dam, para petani bisa menggarap lahannya. Namun, ketiadaan air membuat para petani banyak yang memilih bekerja keluar desa.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Tabanan I Wayan Lara menyebut pendangkalan yang terjadi pada saluran irigasi menuju Subak Luwus I akan mendapatkan prioritas penanganan.
Bahwa tindakan pertama yang harus diambil adalah melakukan pengurasan terowongan, terutama menjelang musim hujan.
Dengan melakukan pengerukan dalam jangka pendek, kita akan memastikan aliran air lancar, dan kita akan memonitor perkembangannya. Pengerukan di terowongan akan menjadi langkah awal yang harus segera dilakukan.
“Terowongan itu harus dikeruk terlebih dulu. Pengerukan itu poinnya terlebih dulu,” kata Lara yang saat itu didampingi anggota Komisi II DPRD Tabanan, I Gede Oka Winaya.
Untuk biaya pengerukan tidak terlalu besar. Paling tidak hanya Rp 25 juta. “Dan masalah ini harus pula saya sampaikan ke Bupati Tabanan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, persoalan irigasi ini juga perlu diselesaikan secepatnya. Karena ini juga yang mempengaruhi program-program pertanian atau ketahanan pangan tidak bisa berjalan di Subak Luwus I.
“Karena dari tahun ke tahun permohonan sampai dengan proposal tidak ada satupun terealisasi. Ini akan kami koordinasikan ke Bupati Tabanan,” tandasnya. ***
Editor : Donny Tabelak