Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kisah Manisnya Salak dari Petani Munduk Temu, Pupuan, Tabanan: Sukses Panen, Kini Merambah Pasar Ekspor

Juliadi Radar Bali • Minggu, 3 Maret 2024 | 17:55 WIB
DI KEBUN SALAK : Perbekel Desa Munduk Temu, Pupuan I Gusti Made Arsana.(juliadi/radar bali)
DI KEBUN SALAK : Perbekel Desa Munduk Temu, Pupuan I Gusti Made Arsana.(juliadi/radar bali)

Tak hanya hasil perkebunan dari tanaman kopi robusta, manggis dan durian yang menjadi penghasil utama dari para petani di Desa Munduk Temu, Pupuan, Tabanan. Kini, hasil perkebunan dari tanaman salak gula pasir, salak madu dan salak bali (Salacca Edulis) juga jadi andalan penghasilan tambahan. 

BUAH dari ketekunan itu memang tak sia-sia. Kini hasil panen pertanian salak gula pasir, salak madu dan salak bali yang dikembangkan sejak tahun 2000-an itu sudah merambah pasar luar Bali. Juga sudah merambah pasar ekspor. 

Perbekel Desa Munduk Temu, Pupuan I Gusti Made Arsana mengatakan perkembangan dari pertanian tiga jenis salak yakni salak gula pasir, salak madu dan salak bali yang ditanam oleh para petani di desa cukup pesat da menggembirakan.

Selain itu sangat membantu perekonomian petani di desa, karena para petani tidak hanya mengandalkan kopi, manggis dan durian yang hanya sekali panen dalam setahun. Sehingga hasil dari panen buah salak menjadi tambahan penghasilan petani.

"Perkebunan salak ini sangat bagus perkembangannya, di desa juga telah ada kelompok petani salak bernama Kelompok Petani Raja Buah," ungkap Arsana, Jumat (1/3/2024).  

NIKMATI HASIL PANEN : Hasil buah salak dari para petani di Desa Munduk Temu, Pupuan Tabanan. (juliadi/radar bali).
NIKMATI HASIL PANEN : Hasil buah salak dari para petani di Desa Munduk Temu, Pupuan Tabanan. (juliadi/radar bali).

Menariknya dari perkebunan salak yang ditanam oleh petani di Desa pada areal seluas 200 hektare dari jumlah 1.542 hektar luas wilayah Desa Munduk Temu. 

Ternyata telah mampu dipasarkan ke supermarket di Bali dan keluar Bali dengan dikirim ke daerah Surabaya, Tangerang dan Jakarta. Tidak hanya itu hasil panen dari buah salak juga menembus pasar eksport saat ini. 

"Ekspor salak sendiri dengan menggandeng eksportir buah dengan tujuan Negara China dan Thailand. Dengan jenis salak yang dikirim keluar negeri salak gula pasir," terangnya. 

Tanaman salak sendiri dalam setahun petani di desa mampu tiga kali melakukan panen dari buah salak. Kemudian di bulan Februari dan Maret ini sedang masa panen. 

"Jadi petani sangat merasa terbantu, karena panen tiga kali setahun, tidak seperti kopi, manggis dan durian yg harus menunggu waktu setahun baru bisa panen," jelasnya. 

Disamping itu pula untuk harga dari buah salak sendiri relatif normal. Lantaran di Bali sendiri tidak banyak dari petani yang mengembangkan pertanian tanaman salak. 

"Untuk salak gula pasir dan salak madu harga perkilogramnya menembus Rp 10 ribu. Sementara salak Bali perkilogram dengan harga Rp 5 ribu," tandasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#tabanan #salak #bali #ekspor