TABANAN, radarbali.id- Semeton Griya Jumpung di Banjar Sandan Lebah, Desa Sesandan, Kecamatan Tabanan melangsungkan upacara Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan di Merajan Agung Griya Jumpung pada Anggara Kasih Tambir nemu Purnama yang jatuh Selasa (23/4).
Upacara ini tergolong langka, sebab terakhir digelar 60 tahun silam.
Rangkaian upacara kali ini berlangsung sejak awal April dimulai dari matur piuning (mohon izin), mendak siwi (mencari Tirta di sejumlah penjuru pura).
Panitia acara, Ida Bagus Kade Pawitra didampingi Ketua Semeton Merajan Ida Bagus Komang Antara menyatakan dalam acara ini juga berlangsung potong gigi masal yang diikuti 33 yowana (remaja) lelaki dan perempuan pada 21 April.
Sebagaimana diketahui, potong gigi merupakan jalan memutus enam sifat buruk yang ada dalam diri manusia.
“Upacara Ngenteg Linggih ini digelar terakhir tahun 1957. Sekarang kami adakan lagi bersama Semeton Griya Jumpung,” ujarnya.
Diharapkan dengan upacara ini, semeton memperoleh keselamatan rohani. Dan jagat raya juga memperoleh berkah dan terhindar dari marabahaya. “Diharapkan upacara ini membawa kerahayuan bagi seluruhnya,” pintanya.
Di puncak upacara sakral ini, berlangsung sejak Selasa pagi, dipimpin oleh tiga sulinggih. Yakni Ida Pedanda Gede Keniten; Ida Pedanda Putra Jumpung; dan Ida Pedanda Telaga.
Setelah persembahyangan, dilakukan pengarakan tombak dan tedung tande keliling areal merajan. Kemudian keluar Merajan mengitari bale pengubengan. Iringan tombak itu juga diselingi tarian rejang.
Tabuh gamelan yang mengiringi menambah suasana suka cita. Tombak dan tedung tande yang mengitari bale pengubengan kemudian beradu di depan kori agung (pintu gerbang merajan). Semuanya bersorak-sorai dan bersuka cita karena upacara besar nan sakral telah masuk sesi puncak.
Saat perang tombak berlangsung, tedung tanda yang terbuat dari bahan alam memang sengaja tercabik-cabik akibat benturan.
Sebagaimana diketahui, sakral ini karena sempat ada aksi trans terjadi saat prosesi.
Saat tempo gamelan gong kian cepat, dari trajangan (tangga) dilakukan pelemparan sesari (uang) ke para semeton. Aksi rebutan uang dengan suka cita kembali menyeruak.
Di akhir acara, Ida Pedanda Putra Jumpung menyerukan akan semua pratisentana (keluarga besar) bisa bersyukur dan asah asih asuh atas apa yang telah dicapai. “Mari saling memaafkan,” pungkasnya.***
Editor : M.Ridwan