Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Meskipun Permintaan Pasar Tinggi, Ternyata Produksi Beras Merah Jatiluwih Tabanan Masih Minim

Juliadi Radar Bali • Sabtu, 18 Mei 2024 | 23:15 WIB
PRODUK JATILUWIH TABANAN : Petani beras merah I Wayan Semarajaya asal Subak Jatiluiwh, Desa Jatiluwih Penebel Tabanan.(juliadi/radar bali)
PRODUK JATILUWIH TABANAN : Petani beras merah I Wayan Semarajaya asal Subak Jatiluiwh, Desa Jatiluwih Penebel Tabanan.(juliadi/radar bali)

TABANAN, Radar Bali.id - Permintaan padi beras merah yang diolah menjadi teh beras merah oleh para petani di Subak Jatiluwih sedang tinggi saat ini. Kendati permintaan tinggi, namun tidak sebanding dengan jumlah produksi dari padi beras merah yang dihasilkan.

Permintaan beras merah tinggi, namun produksinya masih minim. Hal itu diakui oleh salah seorang petani beras merah I Wayan Semarajaya asal Subak Jatiluiwh, Desa Jatiluwih Penebel Tabanan, Jumat kemarin (17/5/2024).

Ia menyebut kondisi dari padi beras merah untuk pembuatan teh yang dihasilkan oleh petani di Desa Jatiluwih masih minim saat ini.

 Itu disebabkan karena ketersedian (stok) dari padi beras merah yang terbatas di lumbang petani. Tahun 2023 lalu banyak dari petani di Jatiluwih yang sudah menjual padi beras merah mereka. Kemudian faktor lain lainnya saat ini padi beras merah sedang proses masa tanam.

"Jadi stok yang minim dari padi beras merah untuk kebutuhan pembuatan teh," ungkapnya.

Permintaan padi beras merah yang tinggi ini memang ada baiknya bagi petani, karena berdampak terhadap harga dari beras merah yang alami kenaikan.

 Baca Juga: Setahun Gianyar Produksi Beras Kisaran 70 Ribu Ton, Ini Upaya yang Dilakukan untuk Peningkatan

"Harga beras merah untuk teh yang dikemas dengan ukuran 200 gram kini sedang mahal seharga Rp 20 ribu, kalau dulu Rp 14 ribu," ucap pria yang menanam padi beras merah seluas 50 are.

Diakuinya kembali, permintaan dari padi beras merah untuk teh masih untuk kebutuhan konsumsi dari para tamu dan wisatawan. Rata-rata setiap seminggu sekali permintaan beras merah ini sebesar 200-300 pcs untuk ukuran 200 gram. Itupun masih kurang dari permintaan konsumsi. 

"Itu baru dipasarkan kepada tamu yang datang di DTW Jatiluwih. Kalau untuk keluar belum bisa kami penuhi," jelasnya.

Semarajaya menambahkan selama lebih dari 15 tahun mengembankan padi beras merah di Subak Jatiluwih. Pihaknya masih menggunakan sistem pertanian semi organik.

Sejatinya sudah ada beberapa petani yang akan mengarah kepada pertanian organik. Namun itu dilakukan secara pertanian.

"Pertanian semi organik caranya petani mengurangi penggunaan pestisida. Dengan perlakuan 25 persen organik dan 75 persen kimia," tandasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#tabanan #pertanian #beras merah