Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Nah! Angka Kelahiran Bayi dari Generasi Milenial di Tabanan Rendah, Ini Dugaan Penyebabnya

Juliadi Radar Bali • Jumat, 19 Juli 2024 | 12:26 WIB
ilustrasi kelahiran bayi-JawaPos.com Radar Jember
ilustrasi kelahiran bayi-JawaPos.com Radar Jember

TABANAN, Radar Bali.id - Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Tabanan mencatat tingkat kelahiran anak (fertility rate) di Tabanan masuk dalam kategori rendah.

Jumlah anak yang dilahirkan oleh pasangan usia subur di Tabanan mencapai 1,8 persen setiap per 1.000 orang pasangan usia subur. 

Kepala DPPKB Kabupaten Tabanan Ni Wayan Mariyati mengatakan rendahnya atau turun tingkat kelahiran anak saat ini di Tabanan dominan terjadi pada generasi milenial atau anak muda yang masuk dalam pasangan usia subur yang baru menikah. 

 Baca Juga: Heboh Bayi Kembar Tiga di Bangli, Disusul Kelahiran Bayi Kembar Tiga di Gianyar, Fenomena Apa ya?

Penyebabnya dari kalangan milenial ini adalah mindset. Kaum milenial menilai bahwa memiliki banyak anak dianggap merepotkan. Disamping dari sisi ekonomi yang dihadapi tengah perkembangan zaman. 

"Jadi mindset ini yang perluh diubah sehingga angka kelahiran normal dan tumbuh berimbang," ungkapnya, Kamis (18/7/2024). 

Mariyati menjelaskan angka kelahiran anak di Tabanan yang rendah mencapai 1,8 persen. Dalam artinya setiap per 1.000 pasangan usia subur melahirkan anak dibawah dua orang. Karena sejatinya penduduk seimbang itu normalnya melahirkan anak diangka 2,04 persen. 

Ia pun tak menampik jika suksesnya program keluarga berencana (KB) turut menyumbang rendah angka kelahiran anak di Tabanan itu sendiri.

Sehingga perlu mengubah strategi tidak perlu menjadi dua anak cukup, tetapi anak itu sesuai dengan daya tampung dan daya dukung dari keluarga.  

"Maka pola konseling keluarga berencana (KB) ini akan kami ubah. Bahwa kebutuhan anak mengikuti daya tampung dan daya dukung keluarga itu sendiri. Baik dari sisi ekonomi dan kehidupan lainnya," bebernya. 

Pola pelaksanaan konseling dilakukan pada keluarga yang baru menikah atau membentuk keluarga terutama pada generasi milenial yang masuk pasangan usia subur (PUS).

Pihaknya selalui menyisipkan penduduk tumbuh berimbang dan melestarikan nama anak ketiga dan keempat Nyoman dan Ketut. 

 

Tumbuh berimbang yang pihaknya maksud, minimal melahirkan dua anak atau lebih. Tidak hanya satu anak saja. 

"Selain itu kami melakukan edukasi kepada generasi muda (milenial) yang baru membentuk keluarga baru melalui fungsi komunikasi informasi edukasi (KIE) bahwa anak itu bukan beban," ucapnya. 

Mariyati menambahkan berdasarkan data yang ada Tabanan saat ini pasangan usia subur (PUS) mencapai angka 63.895 orang. Dengan rincian Kecamatan Selemadeg 2.814 orang, Selemadeg Timur 3.434 orang, Selemadeg Barat 3.053 orang, Kerambitan 5.859 orang, Tabanan 9.995 orang, Kediri 12.130 orang, Marga 6.227 orang, Penebel 6.680 orang, Baturiti 7.468 orang dan Pupuan 6.235 orang. 

"Dari data tersebut Kecamatan Kediri dan Tabanan dengan pasangan usia subur tertinggi dan terendah berada di Kecamatan Selamadeg," tandasnya. [*]

 

 

Editor : Hari Puspita
#angka kelahiran bayi #kb #tabanan