Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Berkunjung ke Lokasi Budidaya Bunga Rosela di Penebel, Tabanan : Kini Lahan Satu Hektare, Sayang Ongkos Kemasan Masih Mahal

Juliadi Radar Bali • Senin, 23 September 2024 | 03:25 WIB
PERLIHATKAN CONTOH PRODUKSI : Pembina Gapokwatan Lumbung Rasa Desa Pitra Ni Ketut Indiani Masmini yang menunjuk hasil olahan teh bunga rosela.[juliadi/radar bali]
PERLIHATKAN CONTOH PRODUKSI : Pembina Gapokwatan Lumbung Rasa Desa Pitra Ni Ketut Indiani Masmini yang menunjuk hasil olahan teh bunga rosela.[juliadi/radar bali]

Gabungan Kelompok Wanita Tani (Gapokwatan) Lumbung Rasa, Desa Pitra, Penebel Tabanan masih tetap eksis mengolah bunga rosela menjadi teh kering atau minuman. Kini kendalanya ongkos pengemasan yang masih mahal.

KETEKUNAN itu telah membuahkan produksi nyata. Hasil olahan teh bunga rosela ini kini menjadi hidangan para tamu undangan di saat menggelar rapat disebuah restoran.

Selain itu teh rosela ini memiliki pangsa pasar sendiri terutama pada lansia. 

Menarik bunga rosela yang dibudidayakan sejak tahun 2000 lalu dengan areal tanam seluas sekitar 15 are kini sudah mencapai satu hektare. Bahkan dikembangkan pula oleh Gapokwatan Apuan Mekar Wijaya Kusuma sebagai  Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). 

Pembina Gapokwatan Lumbung Rasa Desa Pitra Ni Ketut Indiani Masmini mengatakan olahan teh bunga rosela cukup diminati, terutama banyak dikonsumsi oleh kalangan para lansia, karena dikonsumsi sebagai minuman kesehatan. Mengingat teh Rosela kaya akan vitamin C dan anti-oksidan.

"Untuk menurunkan kadar gula darah juga bisa dan kolesterol," ucapnya, perempuan berusia 55 tahun.

Kendati teh bunga rosela telah diminati dan memiliki pangsa pasar sendiri. Kemudian mampu menembus sejumlah restaurant dan rumah makan di Bali.

Namun pihaknya saat ini terkendala dengan mahalnya harga kemasan kotak atau pembungkus dari teh rosela berbahan kertas.

Untuk harga kemasan kotak saja bisa Rp 2.500.

"Kalah dikemas kami, sehingga untung tipis sekali," tuturnya, Minggu (22/9/2024).

Sementara dari sisi produksi rata-rata pihaknya mampu mengolah 50-70 kilogram bunga rosela menjadi teh rosela setiap bulan.

Selain untuk memenuhi pasokan pasar teh rosela ini tidak hanya dibudidaya oleh Gapokwatan Lumbung Sari Desa Putra. Melainkan juga dikembangkan oleh Gapokwatan Mekar Apuan Mekar Wijaya Kusuma dengan luas lahan areal tanam bunga rosela seluas satu hektare. 

"Hasil dari bunga rosela yang ditanam oleh Gapokwatan Apuan ini kami serap juga untuk memenuhi kebutuhan pasar," ungkapnya.

Ia menambahkan olahan bunga rosela tidak hanya dibuat kemasan teh Rosela.  Tetapi juga dibuat dalam kemasan bunga Rosela kering yang bisa diseduh untuk diminum langsung.

"Mengenai harga dari teh bunga rosela Rp 32 ribu per kemasan. Dengan isi satu kemasan 12 lusin," pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#umkm #Teh #rosela