Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Kampung Perajin Ukiran Kayu Style Bali di Desa Batannyuh, Marga,Tabanan:Order Melimpah Problemnya Kini Krisis Tenaga

Juliadi Radar Bali • Kamis, 23 Januari 2025 | 04:05 WIB
SIBUK MENGUKIR : Suasana usaha industri kerajinan ukiran kayu milik Made Wirama di Desa Batannyuh, Marga Tabanan.  (Foto/Juliadi/Radar Bali)
SIBUK MENGUKIR : Suasana usaha industri kerajinan ukiran kayu milik Made Wirama di Desa Batannyuh, Marga Tabanan. (Foto/Juliadi/Radar Bali)

Made Wirama sudah puluhan tahun menggeluti usaha industri perajin ukiran kayu di Desa Batannyuh, Marga, Tabanan. Meski perkembangan industri ukiran kayu begitu pesat di desanya. Sayangnya perkembangan terkini, usaha ukiran kayu style Bali melimpah kesulitan mencari tenaga kerja mumpuni.

SELAMA ini, Desa Batannyuh, Kecamatan Marga Tabanan memang dikenal sebagai sentra industri perajin ukiran kayu dengan seni style Bali. Bahkan di desa itu masyarakatnya juga sebagai pengusaha ukiran kayu. 

Menariknya kerajinan ukiran kayu style Bali yang dulu banyak ditekuni oleh kalangan kaum lelaki. Namun kini kaum perempuan di desa itu juga bekerja sebagai tukang ukiran kayu. 

 Baca Juga: Cerita Ramadan dari Masjid Agung Jami Singaraja: Ada Ukiran Karya Perajin Puri Buleleng yang Khas

Untuk produksi ukiran kayu style Bali yang dibuat mulai dari bangunan ukiran kayu untuk bale gedong, bale daja, ukiran kayu untuk sanggah pura, pintu gebyog style Bali hingga ukiran kayu lainnya. 

Made Wirawa yang ditemui di usaha miliknya bernama Wiwin's Ukir di Jalan Wisnu Belayu, Batannyuh menyebut usaha kerajinan ukiran kayu untuk bangunan style Bali sudah berdiri sekitar 15 tahun lalu. Usaha kerajinan ukiran kayu ini ia rintis secara mandiri. 

"Awal belajar ukir kayu dari SD, pulang sekolah saya sempatkan waktu untuk meburuh. Singkatnya hingga berhasil membuka usaha industri kerajinan kayu secara mandiri," ungkap pria berusia 46 itu, Selasa kemarin (21/1/2025). 

Menurutnya usaha kerajinan ukiran kayu untuk bangunan Bali memang telah berkembang pesat saat ini. Karena hampir sebagian warga desa Batannyuh membuka kios penjualan sekaligus bekerja sebagai tukang ukiran kayu untuk bangunan style Bali. Bahkan saat ini pemesanan (order) ukiran kayu untuk bangunan rumah dan pura melimpah. 

"Saya sampai kewalahan terima pesanan. Sami (semua) perajin ukiran kayu mengalami hal sama di desa," akunya. 

Pemesanan yang ramai ukiran kayu untuk pembangunan bale di Pura. Terutama dari pembangunan pura proyek pemerintah. Selain itu ada pemesanan secara pribadi atau perorangan. Misalnya dibuatkan pintu dan tiang bangunan rumah ukiran kayu style Bali. 

"Tapi sekarang dominan untuk ukiran kayu pada bangunan pura. Sekarang ada sekitar 10 bangunan pura dengan ukiran kayu style Bali saya garaf," tuturnya.     

Kendati pemesanan pengerjaan kerajinan ukiran kayu banyak, namun ia saat ini terkendala dengan tenaga kerja. 

Wirama menyebut saat ini ia kesulitan mencari tenaga. Lantaran banyak tenaga yang sebagian besar bekerja memilih di sektor Pariwisata.

"Semua pengusaha ukir kayu di Desa Batannyuh alami keluhan kesulitan mencari tenaga kerja. Karena susah sekali mencari orang di desa yang bisa seni ukir kayu," ucapnya. 

Sementara dari sisi bahan baku kayu saat ini tersedia banyak. Karena hampir setiap hari pedagang kayu menawarkan secara langsung ke lokasi usahanya. 

Untuk bahan baku kayu dalam membuat ukiran bale, pura hingga lainnya menggunakan bahan kayu Jati, kayu Cepaka, kayu Waru, Merbau (Tembesi) dan lainnya. 

"Bahan tidak ada kesulitan, ada saja dagang atau sales kayu yang menawarkan. Bahkan datang dari daerah Jawa yang menawarkan," ucapnya. 

Ia menambahkan untuk harga setiap ukiran kayu style atau bangunan bale yang dibuat tetap bergantung pada ukuran dan jenis motif ukiran. Seperti bale ukiran sake  empat dengan ukuran 1,5 x2 meter seharga Rp 30 juta, bale seka enam ukuran5x4,25 meter Rp 75 juta. 

Sedangkan untuk motif ukiran kayu seperti dedaunan (Patra), peyawangan, relief dan lainnya. 

Mengenai pengerjaan sendiri memakan waktu cukup lama. Misalnya pengerjaan ukiran kayu style Bali dalam pembuatan Bale Seka empat bisa satu bulan lamanya. 

"Lama cepat tergantung dari tenaga kerja. Kalau banyak yang mengerjakan lebih cepat selesai," ujarnya.

Disinggung soal omset penghasilan selama bergelut di kerajinan ukiran kayu. Rata-rata bisa mencapai Rp 20 juta setiap bulannya. 

"Itu sudah bersih saya dapat sudah dipotong biaya bahan, tenaga kerja dan lainnya. Sekarang ini saya memiliki 20 tenaga kerja itupun masih kurang," pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#ukiran #buleleng #kerajinan