Pekerjaan yang ditekuni Ni Wayan Dariasih ini benar-benar berseberangan dengan mereka yang buka usaha laundry atau pengusaha ikan asin, misalnya, yang berharap cuaca cerah, panas. Perempuan yang buka usaha sewa paying di Ulun Danu Beratan, Bedugul, Tabanan, ini semringah bila turun hujan.
BAGI Ni Wayan Dariasih, 50, pekerja jasa sewa payung di Daya Tarik Wisata (DTW) Ulundanu Beratan, Bedugul Baturiti Tabanan.
Baginya ditengah musim hujan seperti sekarang ia dapat meraup rezeki. Pasalnya jasa sewa payung laris dan laku disewa oleh para wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Ulundanu Beratan.
Perempuan asal Banjar Dinas Bukit Catu Desa Canding Kuning, Baturiti yang ditemui saat menawarkan jasa sewa payung kepada sejumlah wisatawan mengaku lumayan banyak dari wisawatan yang menyewa jasa payung miliknya saat musim hujan sekarang ini.
"Sekarang ini saya bawa 23 payung sudah laku disewa wisatawan sekitar 12 payung. Jika musim hujan pasti lumayan banyak wisatawan yang menyewa payung," ujar Dariasih ditemui Rabu kemarin (29/1/2025).
Ia menyebut pekerja sebagai jasa sewa payung di DTW Ulundanu beratan sudah puluhan tahun lamanya ia geluti bersama dengan tujuh pekerja jasa sewa payung lainnya.
"Saya lupa tahun berapa mulainya. Tapi dari harga sewa payung sebesar Rp 5 ribu hingga sekarang Rp 10 ribu," ungkapnya.
Kendati telah lama menggeluti sebagai pekerja jasa sewa payung di obyek wisata. Akan tetapi ada saja masalah terjadi di lapangan. Kadang kala payung yang disewa wisatawan hilang dan rusak.
"Kalau pas baik wisatawan payung yang sewa ia kembali langsung. Tapi ada payung hilang dan ditinggal di tempat parkir," akunya.
Banyak wisatawan yang menggunakan jasa sewa payung miliknya ini merasa terbantu dari sisi penghasilan, karena ia keseharian bekerja sebagai penjualan makanan cemilan oleh-oleh di Bedugul. Ia bisa meraup jasa sewa payung setiap harinya rata-rata Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu.
"Artinya musim hujan bukan hanya saya yang memperoleh rezeki tapi kawan-kawan pekerja jasa sewa payung lainnya yang berada di kawasan DTW Uundanu Beratan," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita