Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Tak Tahu di Mana Lokasi Pangkalan, Warga Tabanan Antre Berjam-jam Demi Elpiji 3 Kg

Juliadi Radar Bali • Rabu, 5 Februari 2025 | 17:05 WIB
BERJAM-JAM : Warga antre beli gas LPG 3 kilogram di daerah Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kediri Tabanan.(juliadi)
BERJAM-JAM : Warga antre beli gas LPG 3 kilogram di daerah Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kediri Tabanan.(juliadi)

TABANAN, Radar Bali.id - Sejak pagi sekitar pukul 08.00 wita sejumlah warga yang ditinggal wilayah Kediri dan sekitarnya telah antre menunggu giliran untuk membeli gas LPG subsidi 3 kilogram di salah satu agen LPG yang berlokasi di Banjar Dinas Sanggulan, Desa Banjar Anyar Kediri Tabanan. 

Kendati mereka dari warga ada yang kebagian dapat membeli gas LPG 3 kilogram. Namun adapula yang pulang dengan gas LPG 3 kilogram kosong, karena LPG melon habis terjual. 

Miris lagi mereka harus mencari pangkalan lokasi agen LPG 3 kilogram lainnya. Sayangnya banyak dari warga tidak tahu lokasi pangkalan resmi gas LPG 3 kilogram yang terdaftar di Pertamina Patra Niaga. 

Dari pantauan di lapangan saat pembelian gas LPG 3 kilogram oleh warga harus menyerahkan KTP dan menggunakan nomor antrian pula. 

"Beli gas LPG subsidi Ini sudah semacam zaman tahun 1998 era krisis moneter nunggu antre beli minyak tanah," ujar Ni Komang Ayu warga Perum Griya Multi Jadi Desa Banjar Anyar, ditemui Selasa kemarin (4/2/2025).

Ia mengaku sudah semenjak Senin kemarin berkeliling mencari gas LPG 3 kilogram. Termasuk mencari ke pengecer-pengecer gas LPG, namun semua kosong. 

"Kata dijual di pangkalan lokasi pangkalan atau agen resmi gas LPG kami tidak tahu. Kami rakyat kecil tahu hanya gas LPG dijual diwarung dan pengecer," akunya. 

Ia menyebut kebijakan pemerintah soal menerapkan penjualan gas LPG 3 kilogram ini pada pangkalan terlalu cepat. Pasalnya belum dilakukan sosialisasi terhadap warga. Bahkan pemerintah sebenarnya harus memperbanyak pedagang atau pangkalan gas LPG yang mudah diakses atau dibeli warga. 

"Ini kasian warga lama-lama antre, sudah antre namun tidak ada LPG di pangkalan," imbuhnya.  

Sementara itu pangkalan gas LPG menyebut pihaknya hanya mendapat jatah maksimal 80 tabung gas LPG setiap hariya dari dari agen. Maka tidak heran dalam waktu sekejap gas LPG 3 kilogram ludes terjual diburu warga. 

Bahkan dari para penyalur di tingkat pangkalan ini sedang mempelajari cara mengisi data-data di aplikasi https://subsiditepatlpg.mypertamina.id/infolpg3kg.

Disisi lain adanya masalah gas LPG 3 kilogram ini membuat Presiden RI Prabowo Subianto Selasa siang kemarin sudah mengeluarkan instruksi untuk mengatasi sengkarut distribusi gas Elpiji 3 kilogram yang awalnya hanya dibatasi hingga level pangkalan. Kini dapat dijual ditingkat pengecer. 

Meski sudah ada instruksi tersebut para pemilik pangkalan gas LPG 3 kilogram masih khawatir justru tersandung masalah hukum bila tidak disertai dengan surat edaran terbaru yang membolehkan pangkalan menyalurkan gas elpiji 3 kilogram ke level pengecer.

“Kami berharap ada surat edaran yang baru. Biar ada dasar bagi kami menyalurkan ke pengecer. Biar kami juga tidak salah nantinya,” ungkap Ni Nyoman Seniwati, pemilik pangkalan gas Elpiji 3 kilogram Wahyu Lestari. 

Hal senada juga disampaikan General Affair PT Nyuh Gading Sanjiwani, Kadek Anggara Putra Subrata, selaku salah satu agen gas Elpiji 3 kilogram di Tabanan.

“Kami perpanjangan tangan Pertamina. Kami hanya mengikuti aturan di atas. Apa aturan tertulis yang ada, itu yang kami jalankan,” jelasnya.

Untuk sementara ini, pihaknya selaku agen maupun para penyalur di tingkat pangkalan akan mengacu pada surat edaran terakhir yang tidak membolehkan penyaluran ke pengecer.

“Kami masih ikuti itu. Kami berharap ada (edaran) tertulis yang resmi,” tandasnya. 

Masalah LPG 3 kilogram ini membuat Komisi II DPRD Tabanan turun sidak ke sejumlah pangkalan di Tabanan pada Selasa kemarin (4/2/2025). 

Ketua Komisi II DPRD Tabanan I Wayan Lara menyebut yang menjadi persoalan di masyarakat saat ini adalah kesulitan memperoleh gas Elpiji 3 kilogram di warung-warung pengecer. Bukan karena kelangkaan gas setelah pihaknya turun. 

“Bahwa, masyarakat tidak boleh lagi beli ke pengecer. Harus beli ke pangkalan,” beber politisi PDIP tersebut.

Dengan pola distribusi seperti itu, sambung Lara, di beberapa wilayah masyarakat mengalami kesulitan untuk memperoleh gas Elpiji 3 kilogram.

“Di beberapa wilayah ada masyarakat yang mau ke pangkalan mungkin kejauhan,” sebutnya.

Dalam kunjungan itu, ia juga meminta pihak agen untuk segera berkoordinasi dengan Pertamina untuk menindaklanjuti instruksi presiden yang terbaru terkait urusan distribusi gas Elpiji 3 kilogram yang terbaru pada siang ini.

Sesuai instruksi tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta Kementerian ESDM untuk membolehkan gas Elpiji 3 kilogram diperoleh pada tingkat pengecer.

“Ini ada berita terbaru. Langsung dari Presiden. Masyarakat boleh membeli gas ke pengecer. Kami sudah koordinasi dengan agen agar menindaklanjutinya,” tandasnya. [*]

 

Editor : Hari Puspita
#tabanan #antrean #gas melon #elpiji 3 kg