Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Berkunjung ke Kampung Jalak Bali, di Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak, Tabanan (2) : Bersarang di Loster Rumah pun Tak Apa

Hari Puspita • Minggu, 6 April 2025 | 17:01 WIB
BIASA BERTELUR DI RUMAH WARGA : Curik bali ini tak hanya akrab dengan warga tetapi juga terbiasa dengan lingkungan sekitarnya. (Muhammad Fajar Bagaskara untuk Radar Bali)
BIASA BERTELUR DI RUMAH WARGA : Curik bali ini tak hanya akrab dengan warga tetapi juga terbiasa dengan lingkungan sekitarnya. (Muhammad Fajar Bagaskara untuk Radar Bali)

Burung-burung dengan cincin di kaki yang dilepasliarkan itu bisa hidup nyaman bersama warga karena warga Tingkih Kerep sudah bersepakat dan bertekat bulat melestarikannya.

MAKANAN untuk curik bali ini banyak tersedia. Si putih dengan jambul ala mohawk ini juga pintar menyesuaikan diri dengan lingkungan di Banjar Tingkih Kerep, Desa Tengkudak.

Warga desa juga dengan suka rela ikut memberi makanan kepada burung-burung dengan kicauan khas ini. Termasuk menyediakan tempat kotakan kayu untuk bersarang dan wadah air untuk minum dan mandi.

 “Biasanya mereka suka makan buah pepaya yang matang di pohon,” ungkap Pak Mangku.

Hal senada juga diungkapkan Wayan Yona, warga setempat yang bertugas mengurus si curik ini. Biasanya siang dan sore diberi makanan kesukaan mereka : jangkrik  (Gryllidae).

“Sebetulnya dari pihak Yayasan (Friends of The National Parks Foundation  atau FNPF) kurang suka kalau dibiasakan diberi makan. Nanti kurang mandiri. Tapi warga suka rela memberi makan,” ungkap Wayan Yona.

Rombongan curik itu biasanya sudah hafal jam jatah makannya. Pagi, siang, sore. Mereka berdatangan menunggu jatah makan makan jangkrik ataubuah  pepaya.

Karena mereka nyaman, tak aneh bila dalam hitungan bulan, jalak-jalak endemi Pulau Dewata cepat akrab kepada warga. Tak pelak, bukan hanya bersarang di pepohonan di kebun-kebun dan halaman warga. Bahkan Sebagian ada yang suka bersarang di loster-loster dinding rumah tembok warga.

Mereka biasanya bertelur dua hingga empat butir. Tapi, tidak semuanya bisa menetas. Dari tiga butir biasanya menetas dua butir. Dari empat butir menetas dua atau tiga butir saja. Jatang yang bisa menetas semuanya.

“Kalau yang di Tejakula, Buleleng, bisa menetas lebih banyak telurnya karena di sana hawanya lebih panas,” tutur Yona. “Kalau di Penebel (Tabanan), di Desa Tengkudak sini lebih dingin. Potensi menetasnya tak sebagus di daerah panas,” imbuhnya.

Bisa dibayangkan, seperti apa, misalnya pada suatu hari, pemilik rumah saat masuk kamar, di bagian losternya sudah ada sarang sejoli jalak bali liar yang hendak bertelur.

“Burung-burung itu juga suka masuk dapur, cari cicak dan laba-laba di dalam rumah. Juga serangga-serangga yang ada di rumah,” terangnya.

Sudah berapa banyak mereka bertelur menetaskan anaknya? “Sementara ini belum terdata secara rinci. Karena Sebagian juga bersarang  di kebun-kebun, di ladang,” jelasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#jalak bali #pelestarian #lingkungan #tabanan #penebel #curik bali