Dari sekian banyak tradisi kerukunan antarumat beragama di Bali, tradisi ngejot masih tetap dirawat warga Banjar Dinas Piling Kawan, Tengah dan Kangin, Desa Mengesta Kecamatan Penebel, Tabanan. Sebuah tradisi khas yang lestari dan terjaga hingga kini.
SALAH satu momen istimewa itu adalah satu hari sebelum Hari Raya Galungan berlangsung atau hari penampahan sejumlah warga Umat Hindu menggelar tradisi ngejot atau berbagi makanan kepada umat beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan.
Tradisi ngejot ini sudah menjadi kebiasaan warga setempat di sana, bahkan sudah dilakukan secara turun temurun. Demikian pula ketika umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan merayakan Hari Natal mereka juga ikut berbagi makanan kepada umat Hindu.
Menariknya lagi, antara umat Hindu dan umat Nasrani yang menempati tiga banjar Dinas di Desa Mengesta sudah tidak ada sekat. Mereka bahkan tergabung dalam sebuah wadah suka dan duka dalam satu banjar adat.
Bendesa Adat Piling Desa Mengesta, Penebel mengatakan tradisi ngejot saat hari penampahan Hari Galungan di Banjar Adat Piling dimulai dari pukul 09.00 pagi sampai 11.00 siang.
"Tradisi ini sudah rutin diwariskan. Kami berbagi makanan (ngejot) kepada umat kristen katolik dan prosten. Makanan dibagikan seperti lawar nangka, lawar klungah , daging tum genyol dan olahan makanan lainnya," ungkap Ardiana, Selasa kemarin (22/4/2025).
Sekarang ini dalam tradisi ngejot di Banjar Adat Piling Mengesta yang membawahi tiga banjar dinas Piling Kawan, Piling Tengah dan Piling Kangin sudah diteruskan oleh kalangan generasi muda di desa. "Kalau dulu kan orang tua sekarang generasi muda desa yang meneruskan," ucapnya.
Di Banjar Adat Piling jumlah penduduk umat kristen Katolik sekitar 35 kepala keluarga (KK) dan penduduk kristen protestan sekitar 25 KK. Sementara umat hindu berjumlah 320 KK lebih.
Ardiana menjelaskan sejarah masuknya Umat Kristen Katolik dan Protestan di Piling Mangesta sejatinya dimulai pada tahun 1928 pertama kali masuk adalah umat Kristen Protestan. Resmi mereka membentuk wadah atau tempat ibadah geraja pada tahun 1936.
Baru selanjutkan pada tahun 1955 umat Kristen Katolik masuk di Piling Desa Mengesta. Dalam perjalananan waktu justu umat Kristen Katolik yang lebih berkembang pesat, karena pada saat itu ada salah seorang Pastur dari Jerman yang sangat dermawan datang.
Pada tahun 1963 musim bumi Bali paceklik saat meletus Gunung Agung, banyak warga desa yang kelaparan dan mendapat bantuan makanan dari seorang Pastur asal Jerman tersebut. Sehingga banyak warga desa ikut memeluk agama Kristen Katolik hingga berkembang sampai sekarang.
"Antara umat Hindu, umat Kristen Katolik dan Umat Kristen Prosten, sejatinya satu keturunan keluarga, karena merupakan warga desa setempat di Piling Mengesta," tuturnya.
Yang menarik dari warga Banjar Adat Piling Mengesta dengan terdapat tiga agama yang berbeda adanya sistem suka duka dalam satu banjar adat.
Sistem suka duka adat ini membuat tidak adanya perbedaaan maupun sekat antar penduduk meski berbeda agama. Seperti ketika ada keluarga dari Hindu yang berduka meninggal dunia atau adanya upacara adat tiga bula, mesangi. Maka mereka dari umat Kristen Katolik dan Prostestan ikut membantu (mebanjaran) dalam membuat segala persiapan untuk upacara.
Begitu pula sebaliknya saat umat dari Katolik dan Nasri yang meninggal dunia atau memiliki upacara.
"Apapun itu kalau sudah upacara di desa, baik lak-laki maupun perempuan dari umat Katolik dan Protestan ikut membantu dan terlibat," jelasnya.
Ardiana berharap masih tetap terawat tradisi negejot hingga sistem suka duka di banjar meskipun berbeda kenyakinan di Piling, Desa Mengesta. Ini menjadi sebuah warisan leluhur yang tidak ternilai harganya.
"Kami berharap momentum Hari Raya Galungan ini untuk tetap menjaga harmonisasi kerukunan dan kedamaian," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita