Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Semakin Banyak, Terus Beranak Pinak, Pengendalian Populasi Monyet Alas Kedaton dengan Sterilisasi Terganjal Biaya

Juliadi Radar Bali • Kamis, 26 Juni 2025 | 15:45 WIB

 

 

SEMAKIN BANYAK : Kondisi sejumlah kawanan monyet DTW Alas Kedaton, di  Desa Kukuh Marga Tabanan yang keluar dari hutan. (juliadi/radar bali)
SEMAKIN BANYAK : Kondisi sejumlah kawanan monyet DTW Alas Kedaton, di Desa Kukuh Marga Tabanan yang keluar dari hutan. (juliadi/radar bali)

TABANAN, Radar Bali.id - Populasi monyet ekor panjang alias Macaca fascicularis  pada DTW Alas Kedaton sudah tidak terbendung. Pasalnya setiap tahun terus mengalami bertambah banyak, terus beranak pinak.

Meningkat populasi kera ini membuat kawanan kera masuk ke rumah warga untuk mencari makanan. Bahkan sampai merusak atap rumah warga yang berada disekitaran objek wisata Alas Kedaton. 

Kondisi populasi kera di DTW Alas Kedaton yang terus bertambah dan berkembangbiak setiap tahunnya menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani serius dan secepatnya oleh pengelola DTW Alas Kedaton dan Desa Adat setempat.

Bendesa Adat Kukuh Marga yang juga pengelola DTW Alas Kedaton I Gusti Ngurah Arta Wijaya mengatakan populasi kera di DTW Alas Kedaton yang sudah mencapai 2.500 ekor sebenarnya itulah yang menyebabkan kera masuk ke rumah warga untuk mencari makan. Sementara dulunya tidak ada seperti ini. 

"Kami dari pengelola sudah siapkan berupa pakan dengan biaya jutaan setiap bulan. Tapi populasi kera jumlah ribuan ekor tidak teratasi semua," ungkap, Rabu kemarin (25/6/2025).

Sehingga kera tidak hanya berdiam di hutan. Melainkan kawanan kera kini tengah berada diluar areal hutan alas kedaton. Seperti lokasi parkiran, pura dan terus mengembang keluar sampai ke rumah warga sekitar untuk mencari makanan. 

Populasi kera yang terus bertambah pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk melakukan pengendalian. 

Yakni bekerjasama dengan tim dari Universitas Udayana untuk mencoba membantu salah satu cara yang ditempuh dengan melakukan sterilisasi kera. Sayangnya program sterilisasi kera ini membutuhkan biaya cukup tinggi. 

"Biaya Rp 500 ribu per ekor untuk sterilisasi monyet, kami tidak sanggup biaya besar itu," ujarnya.

Kedua langkah lainnya untuk menekan angka populasi kera di DTW Alas Kedaton ini dengan melaporkan ke Dinas Pertanian Tabanan. Namun sampai sekarang ini belum ada tidak lanjut. 

"Bahkan kami juga sudah tempuh dengan cara niskala melakukan upacara keagamaan bersama Jero Mangku yang ada di Alas Kedaton, tapi tidak teratasi," bebernya. 

Arta Wijaya menambahkan populasi kera yang terus bertambah dan keluar dari Alas Kedaton memang menjadi keluhan warga saat ini. Pihaknya meminta kepada masyarakat untuk tidak memberi makan pada kera yang berada diluar hutan alas kedaton. Agar mereka bisa kembali tempat asal masuk ke dalam hutan.

Pihaknya pun berharap ada perhatian pemerintah daerah untuk dapat mengendalikan populasi kera di DTW Alas Kedaton, sudah barang tentu dalam bantuan. 

"Populasi kera semacam ini tidak hanya terjadi di Alas Kedaton Tabanan, tetapi di obyek wisata sangeh, Mengwi Badung," tandasnya. 

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Tabanan A. A Ngurah Satria Tenaya mengaku masalah populasi monyet  yang ada di DTW Alas Kedaton pihak tidak mengetahui. Mengingat DTW Alas Kedaton sudah tidak lagi terikat kerjsama pengelolaan dengan Pemkab Tabanan. Sekarang obyek wisata tersebut dikelola mandiri oleh desa adat setempat. 

"Kalau tidak salah sudah tiga lalu putus hubungan kerjasama dengan Pemkab tabanan dalam hal pengelolaan," singkatnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#tabanan #monyet ekor panjang #populasi monyet #alas kedaton